Minggu, 20 April 2014

Show Me How






Saya bisa tertawa ketika hati saya bersedih, beberapa orang menyebutnya palsu, saya menyebutnya berani untuk lebih berbahagia.

Saya bisa tersenyum ketika hati saya penuh amarah, beberapa orang menyebutnya palsu, saya menyebutnya berani untuk mengalah.

Dan itu tidak mudah. Dan itu tidak pula wajib untuk kamu tiru, percayalah, terkadang itu sangat mengerikan rasanya.

Beberapa orang yang memaksakan diri untuk memahami saya, banyak yang bertumbang menghilang. Berfikir kalau saya itu begini dan begitu. Berfikir kalau saya berfikir buruk tentang mereka, menulis hal-hal buruk tentang mereka. Padahal? Ah, salah satu hal yang paling saya benci di dunia ini, adalah membela diri di hadapan orang yang bahkan mampu menilai buruk orang lain tanpa bersedia untuk sekedar bertanya: "apakah kita baik-baik saja?"

Ketika mencoba menjadi orang baik saja tidak cukup untuk membahagiakan orang lain, saya tidak lagi mengerti harus bersikap seperti apa. Saya tidak ingin hal-hal yang mengganggu emosi saya, menjadikan saya seseorang yang saya benci sendiri. Banyak orang yang akhirnya menjadi seseorang yang mereka tidak suka, tanpa mereka sadari, dan saya tidak ingin jadi salah satu di antaranya. Di saat saya melangkah pergi dari hidup seseorang, itu hanyalah upaya saya untuk menyelamatkan diri saya sendiri. Come on, kita harus mengakui, bahwa tidak banyak orang yang peduli pada perasaan orang lain, ketika semua orang berfikir untuk jadi yang paling benar diatas banyak hal-hal yang sebenarnya salah. Dan berusaha untuk tetap berfikiran waras saat dihadapkan dengan hal yang demikian, bukanlah hal yang sederhana.

Segala hal akan tampak salah, di mata seseorang yang terlalu senang berfikiran buruk.

Temukanlah perempuan yang mampu menertawakan kemalangannya sendiri. Karena kamu tidak perlu perempuan yang bahkan tidak bersedia melihat hal baik di dalam sebuah 'kemalangan'

Kamupun tidak pula diwajibakn meniru kata-kata tadi, percayalah, terkadang mencari pasangan yang ingat untuk berbagi saat bahagia saja sulitnya minta ampun.

Setiap orang punya banyak rencana besar untuk menemukan seseorang yang terbaik yang bisa dia mampu dapatkan, mengakhiri hubungan yang ini, dengan anggapan yang lebih baik nanti, berdoa siang dan malam agar Tuhan pertemukan dengan sosok yang mereka fikir adalah yang terbaik.

Tapi berapa orang yang berani untuk berjalan lebih kedepan, meraih tangan seseorang, menggenggamnya, dan berkata: 

Aku sudah berusaha menjadi yang terbaik untuk dirimu. Sepanjang hidupku, aku sudah berusaha menjadi yang Tuhan inginkan, untuk pantas menjadi yang paling tepat untuk kamu pilih. Aku yakin, kita bisa melewati segalanya dengan saling memahami dan percaya. Memahami dalam kelemahan, dan percaya pada Tuhan.

Mencoba meyakinkan seseorang bahwa kitalah orang yang tepat yang selama ini dia cari, bukanlah perkara yang sederhana. Jelas melelahkan dan akan terkesan sangat dramatis. Tapi terlalu fokus mencari, hingga lupa memperbaiki diri sendiri. Itu jauh lebih dramatis.
***

Saya adalah pribadi yang palsu, semua orang boleh bilang demikian. And it doesn't bother me anyway. Saya akan terus tersenyum selama Tuhan masih memberi kesempatan saya untuk hidup. Saya akan selalu mencoba berani mengalah, untuk sesuatu yang hanya berisi sebuah amarah.

Ketika saya sudah sampai di titik di mana saya tidak lagi ingin bicara dengan seseorang, maka dia pasti telah melampau garis terjauh yang mampu saya berikan, untuk di lukai.

Tapi saya pasti memaafkan siapapun itu. Ketika bahkan saya tidak menciptakan udara, apa hak saya untuk merasa pantas membenci seseorang. Selamanya

Kalau kamu merasa saya tidak cukup mengerti dirimu, maka tunjukanlah saya caranya. Kita bersama bukan untuk saling menerka dan kemudian terluka. Inilah saya, tidak setiap orang dilahirkan dengan kekuatan untuk selalu mengatakan padamu, apa yang sebenarnya ia rasakan. Itulah saatnya kamu mengatakan apa yang kamu inginkan. Sekarang, semua tergantung seberapa penting kehadiran seseorang itu di dalam hidupmu.

I can't escape this now. Unless you show me how

Sabtu, 05 April 2014

Suatu Hari di Masa Lalu

"Luka saya sangat sederhana. Saya hanya terluka karena kamu pergi, itu saja"

Hari itu di dalam bis, saya teringat foto kamu dengan dia, entah kenapa. Padahal telah lama hari itu terlewati. Dan sayapun telah lama memutuskan berhenti menjadikannya bagian dari "daftar hal yang perlu diingat"

Dulu, foto itu berhasil membuat saya begitu sedih. Bukan, bukan karena dia ada di dalam foto itu, tapi karena kamu yang berdiri lekat di sisinya. Padahal, saat itu saya adalah perempuan yang begitu perlu dipeluk. Alih-alih menemani saya, kamu justru pergi bersamanya.

Bukan, bukan karena kamu pergi bersamanya saya sedih. Bersama siapapun itu tak jadi masalah, saya tak peduli, karena saya percaya penuh padamu. Bahwa kamu bukanlah pria yang pandai berpindah dari satu pijakan hati ke hati lainnya dengan begitu mudah. Bahwa kamu adalah pria yang bisa saya andalkan. Ya saya menghargaimu dengan begitu besar, saat itu.

Hal yang paling sedih adalah ketika....kamu pergi, itu saja

Karena seharusnya saat itu kamu bisa memilih tinggal dan menjadi tak perlu kehilangan saya di hari ini. Hati saya berkali-kali bilang: saya selalu berusaha ada untukmu. Seberapapun berat hari yang saya lalui, seberapapun saya harus membagi perhatian atas diriku sendiri yang sedang sakit dan mencoba memahamimu. Karena mungkin saya memang tengah sangat menyayangimu. Di luar hujan dan ada air terjun di kaca jendela bis. Pendingin di dalam bis ini bahkan mampu membuat buku-buku jari saya membiru. Saya harap kamu selalu hangat terjaga di sana, hingga tak perlu membuat sedih siapapun yang tengah menyayangimu disini.

Saya menemukan catatan itu di mini diary ponsel saya, ketika saya bahkan pernah lupa pernah menulisnya. Kenyataannya saya memang benar-benar pernah menulisnya di suatu hari di masa lalu. Untuk seseorang yang pernah saya sayangi dan pernah saya paksakan untuk tidak lagi saya sayangi lebih dari rasa sayang kepada seorang teman. Saya pernah menangisinya, karena memaksakan diri saya untuk berhenti menyapanya dalam kurun waktu yang ketika itu tidak bisa saya pastikan sampai kapan.Mungkin karena saya merasa begitu marah. Bukan, bukan padanya. Saya begitu marah pada diri saya sendiri, saat itu.

Perempuan ini, hanya telah menghukum dirinya sendiri.

Saya selalu saja patah hati dengan cara saya sendiri. Saya memang tidak pernah mampu merengek atau mengumpat, atau bahkan berlagak membenci orang yang tengah saya sayangi. Saya pun tidak akan pernah membiarkan diri saya tampak begitu lemah dan kasihan. Hey hidup saya sudah kurang kasihan apalagi saat itu. Saya tidak akan membiarkan siapapun semakin kasihan, mendekati saya karena kasihan, atau bahkan mencintai saya karena kasihan. Saya sudah cukup mengasiani diri saya sendiri, dan saya tidak membutukan perasaan itu datang dari manusia lain. Harga diri dan gengsi saya yang begitu tinggi, membuat saya lebih suka diam dan bersabar.

Saya berusaha memberi diri saya sendiri waktu untuk sembuh, dibanding saya harus meluap luapkan perasaan saya yang tak karuan di social media, atau bahkan di telinga sahabat saya sendiri. Saya masih punya Tuhan, dan saya tau dia sanggup menerima keluhan apapun dari saya, setidaknya lima waktu dalam sehari. Persoalan saya saat itu hanyalah: saya terlalu menyayanginya, dan saya hanya harus berhenti 'terlalu' menyayanginya. Walau kenyataannya hal itu bukanlah sekedar sebuah 'hanya'

Dan kecewa padanya, bukan berarti saya lantas harus menghapusnya dari hidup saya. Saya tidak se-kanak-kanakan itu. Tidak ada manusia dengan kesalahannya pantas untuk dihapus dari hidup seseorang, itu namanya lari dari kenyataan. Saya hanya harus mengubah; porsi rasa sayang saya padanya. Dari kadar 'sangat' menjadi kadar 'cukup'. Dan jelas saja itu bukanlah hal yang sederhana. Hidup saya saat itu sangat melelahkan. Saya menangis dua kali lipat. Ah, banyak sekali yang saya tangisi saat itu. Masalah keluarga, masalah di luar keluarga dan masalah perasaan. And no one who cares. Karena memang saya tidak mengizinkan siapapun untuk peduli kepada saya. Saya hanya terlalu marah pada diri saya sendiri.

Sangat. Amat. Marah.

Saya bahkan tertawa detik ini. Lucu sekali saya saat itu:))

***
Saya bukanlah tipikal permpuan pembenci, tapi saya adalah perempuan yang tidak bisa lupa bila pernah dilupakan atau diabaikan oleh seseorang. Saya merasa bodoh dan sangat tolol. Sayapun merasa sangat bersalah pada diri saya sendiri. Karena saat itu, saya seharusnya tidak perlu menyayangi siapapun, dan membuat perhatian saya padanya terpecah. Saya bahkan tidak bisa memaafkan diri saya sendiri. Sampai detik ini rasanya bahkan masih sama pedih. 

Karena saya hanyalah perempuan yang ceroboh,tolol,dan so tegar.
Itulah saya.
***
Faith. You can't touch it or buy it or wrap it up tight, but it's there just the same, making things turn out right

Tapi hey, segalanya saat ini hanyalah berlabel kemarin. Tanpa embel-embel kecewa atau sakit hati. Segalanya hanyalah kemarin dan mengingatnya tidak sesakit dahulu. Saya menyadari betul bahwa segala hal yang terjadi adalah tanggung jawab saya sepenuhnya. Kalaupun ada yang harus saya salahkan, itu adalah diri saya sendiri. Kalau saya sempat merasa kesal, marah atau sakit hati, itu adalah bagian Allah untuk dapat memperhitungkannya dengan keadilan-Nya sendiri. Membalas atau hitung mengitung, bukanlah kapasitas saya.

Saya hanya tau, segala yang terjadi pasti memberi begitu banyak pelajaran. Entah bagian yang bahagia, entah bagian yang menyakitkannya. Entah yang pergi meninggalkan, entah yang memilih berhenti menyayangi. Entah yang melukai, entah yang tak sengaja melukai. Saya rasa, tidak ada manusia yang begitu saja sengaja melukai perasaan orang lain. Terkadang, kita melakukan hal-hal yang ada diluar kendali kita. Karena memang kita tidak bisa mengendalikan bagaimana hati seseorang akan merasa atas apa yang kita lakukan padanya. Saya mungkin sudah begitu banyak menyakiti perasaan pria lain dengan tingkah saya yang rumit. Sayapun mungkin sudah begitu banyak menyakiti perasaan pria lain dengan memilih  diam dan pergi..tanpa berdaya meminta penjelasan padanya. Atau melontarkan pertanyaan seperti:

Kenapa kamu melakukan itu?
Kenapa kamu meninggalkan saya saat itu?
Atau kenapa kamu, harus membuat saya menyayangimu lalu pergi?

Saya adalah perempuan yang merasa, bahwa pria seharusnya menyadari diri, bahwa mereka perlu memberi penjelasan tanpa harus membuat perempuan merengek.

Walaupun seharusnya. Segala pertanyaan itu harus tetap saya ajukan agar saya tidak lantas mereka-reka sedndiri jawabannya. Jawaban yang bahwa saja belum tentu benar. Saya hanya berfikir, saya tidaklah pantas membebani mereka dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Karena jawaban apapun yang mereka lontarkan, pada kenyataannya saya lah yang sudah terlalu lelah untuk mendengarnya.

Mungkin bagian menyakitkan lain hanyalah ketika saya sudah berusaha mencoba menyayangi dan memahaminya ditengah keterbatasan saya saat itu, tapi saya tetap diaanggap tidaklah cukup berusaha. *tersenyum kecut* memikirkan ini, selalu membuat perasaan saya muram. Seandainya saja, saya bisa menggambarkan seberapa hancur perasaan saya saat harus jadi seorang diri saya di detik itu. Saya hanyalah tidak pernah punya kemampuan untuk menunjukan luka saya sendiri. Saya takut Tuhan berfikir, saya tidak cukup bersyukur atas apa yang saya miliki saat itu, dan dia pun mengambil kebahagiaan-kebahagiaan lain yang tersisa yang masih saya miliki.

Saya baik-baik saja, ini hanyalah luka kecil dibanding segala yang sampai saat ini masih terjadi dalam hidup saya. Lagi pula, hidup siapa yang bisa lepas dari rasa takut kehilangan dan kecewa? kita pasti akan pergi, atau siapapun yang ada dalam hidup kita pun suatu hari akan pergi. Saya hanya tau, bahwa segala yang harus pergi hanyalah untuk memberi ruang bagi kedatangan yang lebih baik.

Tidak apa-apa:) saat ini saya sedang sehat dan bahagia dengan hidup yang saya jalani. Dengan hati-hati yang mengelilingi saya, walaupun saya belum siap untuk menyayangi seseorang, sebanyak saya menyayangi kamu dulu:)))

Terimakasih untuk kamu, suatu hari di masa lalu saya....