Senin, 22 September 2014

Menyerah Pada Kegagalan


"Sesekali, kau perlu menyerah pada kegagalan. Untuk sekedar menerima bahwa kau memang tak bisa. Lalu mencari jalan lain untuk menemukan kebahagiaan baru"

Kita pernah mempertahankan sesuatu-- cinta, impian, atau apa saja yang menurut kita adalah kebahagiaan. Hingga menafikan luka, rasa sakit, kepedihan, dan kegetiran yang bertubi-tubi menghadang. Hanya karena begitu kukuh meyakini bahwa itu adalah kebahagiaan yang paling benar. Tak peduli lagi pada kebaikan diri sendiri. Wajah yang bercahaya saat melangkah kali pertama perlahan meredup, dipenuhi coreng-moreng. Kebahagiaan yang kita kira akan tergapai dan terpeluk, justru menjauh. Tapi, bukannya berhenti, justru kita malah meyakini diri sendiri bahwa kebahagiaan itu mampu kita raih. 

Kita pernah melupakan sesuatu--wajah, suasana, jalan, dan segala hal baru di tempat yang lain-- demi mempertahankan hal yang bukan menjadi milik kita. Merelakan diri sendiri untuk merasakan sakit dan luka tiada habisnya. Padahal, sesuatu yang bukan menjadi milik kita, sekeras apapun kita berusaha, tetap tak akan pernah menjadi milik kita. Sesuatu yang bukan diciptakan untuk kita, pada akhirnya akan tetap berlalu dan menghilang juga.

Maka, kemarilah.... Duduklah dengan sabar disampingku. Akan kusampaikan sebuah rahasia besar. Tak semua orang dapat memahami ini dengan baik. Jadi, dengarlah dengan hati yang lapang; "Akan selalu ada yang lebih baik, bahkan dari kebahagiaan yang kau kira paling benar. Kau hanya perlu membuka matamu lebih lebar lagi, memperluas langkah kakimu lebih jauh lag, membesarkan hatimu sendiri untuk menyerah pada kegagalan, lalu menerima dengan tulus bahwa kau tak diciptakan untuk meraihnya. Kelak, akan datang hal terbaik yang benar-benar kau butuhkan, bukan sekedar keinginan yang kau angankan. Sesuatu yang dipersiapkan Tuhan untuk menjadi milikmu yang teristimewa; kebahagiaan yang sempurna"


KEEP YOUR HEADS UP DAN STAY STRONG , IT'S TIME TO LET GO AND MOVE ON!
 

Senin, 15 September 2014

Sebuah Peluk


Aku sering menemukan diriku sendiri terbangun di tengah malam dengan nafas memburu dan linglung, tak tau harus melakukan apa. Atau seringkali aku terperangkap dalam sebuah mimpi yang aku sendiri sadar bahwa aku sedang bermimpi tapi tak sanggup bangun. Aku pernah mencoba menampar diriku sendiri beberapa kali di dalam mimpi, tapi tak bangun juga hingga aku menangis keras-keras. Aku merasakan hangat air mata yang meleleh di sudut mataku tapi aku tak sanggup bersuara selain sesenggukan, sadar bahwa aku sedang bermimpi dan benci karena aku tak sanggup bangun saat itu juga.

Pernahkah kau bermimpi lalu yakin sesuatu hal buruk akan terjadi tepat ketika kau bangun dan sibuk mengatur nafasmu yang berkejaran?

Lalu tidur menjadi sesuatu yang menakutkan.

Orang tuaku bilang, mungkin aku hanya lupa membaca doa sesaat sebelum tidur padahal aku selalu membaca doa. Tak pernah kurang satu doapun seperti yang dulu pernah mereka ajarkan.

Sahabatku bilang, mungkin aku hanya kurang makan dan minum padahal aku selalu memastikan perutku kenyang sebelum tidur supaya tak terbangun tengah malam karena kelaparan. Lagipula aku tak menyimpan makanan apapun di kamar untuk ku makan kalau-kalau aku terbangun.

Lalu tidur menjadi sesuatu yang menakutkan.

Percayakah kau pada jimat? Sesuatu yang bertuah, mengusir segala hal yang buruk, lalu mendatangkan keberuntungan.

Aku pernah menemukan diriku begitu terkejut, terbangun tengah malam dengan seluruh badan gemetar, gigi bergemelutuk dan nafas tercekat. Lalu aku temukan peluknya, sesuatu semacam jimat yang ajaibnya membuatku langsung merasa tenang. Aku mendekapnya erat, menangis di dadanya. Tak sampai tiga menit, aku sudah tertidur lagi. Lebih pulas.

Paginya, saat ia bertanya apa aku semalam mimpi buruk, aku berusaha keras mengingat. Sungguh aku hampir lupa. Padahal biasanya, aku akan sulit tidur kembali setelah terbangun karena mimpi dan akan selalu ingat mimpi itu saat hendak tidur sampai tiga hari kedepan.

Dia adalah sebaik-baik jimat.

Pernahkah kau merasa bahwa kau ingin terjaga di dada bidang seseorang, menikmati belaian tangannya di punggung, wangi aroma nafasnya dan gerakan dadanya yang teratur? Lalu kau merasa tak penting itu terjaga atau bermimpi sebab dalam keduanya, kau akan bertemu dengan orang yang sama dan rasanya sama-sama membahagiakan.

Itu yang aku rasakan. Saat merajut lelap di dekap dadanya.

Dia adalah sebaik-baik jimat.

Maka setelah kau membaca tulisanku ini, adakah kau mengingat seseorang? lalu kau ingin berlari, mengendus wanginya dan mendekapnya erat?

Maka kau setelah membaca tulisanku ini, adakah sedikit saja air mata meleleh karena buncah rindu tiba-tiba menemukan perciknya di dalam dada? Lalu tanganmu gemetar, sibuk mencari genggam yang selama ini menguatkan?

Maka kau setelah membaca tulisanku ini, masihkah kau menginginkan jawaban?

Sebab dia adalah sebaik-baik jimat.

Sebab dia adalah kau.

Aku tunggu kau di sudut sesal, saat aku terlalu terlambat menjawab pertanyaan " apa arti aku bagimu?" hingga akhirnya kau hilang, tak meninggalkan jejak apa-apa untuk kucari dan ku ikuti lagi.

Maka setelah membaca tulisanku ini, maukah kau kiranya pulang, sayang?

Sebab mimpiku memanggilmu kembali. Saatnya aku terlelap dalam dekapmu lagi.

Jumat, 05 September 2014

Kamu, Baca Ini.




Kamu, ketika kamu membaca ini, kamu akan mengerti kenapa aku menuliskannya untukmu.

Aku tau sakitnya seperti apa. Aku pernah disana dan pernah merasakannya. Tapi, tidak apa masih banyak doa yang bersamamu. Dan nanti, kamu akan mengerti kalau sakitnya hanya sementara. Tapi nanti, bukan sekarang. Bertahan dulu, karena sakitnya pasti berlalu.

Pada saat kamu membaca tulisan ini, bisa jadi sakitmu sudah pergi, bisa jadi juga belum. Tapi, aku harap sakitmu sudah pergi. Aku harap kamu sudah menemukan rahasia melepaskan dan kembali berjalan.

Kalaupun belum, tidak apa. Suatu hari, kamu pasti akan berjalan lagi. Mungkin dibantu oleh seseorang yang mengajakmu berdiri dan berjalan lagi sampai ke sebuah titik nyaman yang membuatmu sembuh dari rasa sakitmu itu. Yang susah payah meyakinkanmu bahwa tidak banyak kebahagiaan di masa lalu. Yang mungkin dia menggandeng atau memapahmu kalau perlu, asal kamu terus berjalan. Pelan. Selangkah demi selangkah.

Kamu mungkin akan terperosok jatuh, tapi dia akan membantumu berdiri. Kamu mungkin juga akan tertarik kembali ke masa lalu. Tapi dia akan tersenyum dan menarikmu menjauh lagi. "Kita berjalan dulu", katanya. "Kalau kamu tidak suka, kamu boleh kembali meratapi masa lalumu". Ketika dia mengatakan itu, dia tau kamu tidak akan memilih itu. Dia percaya kamu, jauh dari kamu mempercayai dirimu sendiri.

Pada saat itulah kamu terhenyak dengan kata 'meratapi'. Iya. Kamu ternyata selama ini memang terlalu meratapi. Membuang waktumu hanya untuk terus menghayati setiap rasa sakitnya, kehilangannya, kesedihannya. Kamu lupa, seberapapun indahnya pemandangan di luar, tidak akan terlihat jelas kalau jendelanya berembun. Harus di bersihkan dulu jendelanya, dan lihat keluar. Harus di bersihkan dulu ratapanmu, baru bisa melihat bahwa ada kebahagiaan yang banyak didepan. Syukurlah kamu menyadari sebelum semuanya terlambat.

Tapi, kalaupun kamu sudah sampai ke titik nyaman, kadang, lukanya tidak hilang, seringkali justru meninggalkan bekas. Tidak apa, yang penting, sakitnya tidak terasa lagi, bukan? Bisa jadi ketika kamu mengingat bekasnya, malah akan membuatmu bercerita bangga. "Ini, luka karena...." dan berakhir dengan, "Pada akhirnya, aku bisa melepaskannya". Lalu kamu tersenyum mengenang betapa jatuhnya kamu ketika itu, tapi ternyata kamu kuat menghadapinya. Kamu bahkan tidak mengira kamu bisa sekuat itu sebelumnya.

Sejak itu, sampai membaca tulisan ini (dan semoga juga sampai nanti) kamu selalu tau bahwa apapun yang terjadi , kamu sebenarnya kuat, kamu hanya jangan fokus pada kejatuhannya. Tapi lebih kepada apa yang kamu miliki. Bertahan dan terus berjalan. 

Kemudian, pasti nanti, kamu akan bisa bermimpi lagi, dan hei, mungkin juga jatuh cinta lagi. Menikmati kembali rasa hangat yang serupa seperti sebelum kamu kehilangan. Punya gairah yang meluap-luap dan membuatmu susah terlelap. Kali ini, kamu harus mengejarnya, sekuat kamu bisa. Pantaskan dirimu untuk mimpi dan cinta yang ini. agar kamu tidak gagal atau kehilangan lagi. 

Oya, jangan lagi sekedar menjadi diri sendiri, itu tidak akan lagi cukup. Jadilah yang terbaik dari sendiri, Itu baru cukup. Sekedar jadi diri sendiri akan membuatmu terus mencari alasan bahwa kamu sudah berusaha maksimal dan bahwa inilah apa adanya kamu. Tidak, tidak. Kamu bisa melakukan lebih baik dari itu dan kamu tau benar itu. Jadi berhenti beralasan menjadi diri sendiri dan mulai menjadi yang terbaik yang kamu bisa lakukan untuk dirimu.

Kalaupun nanti kamu lelah, itu wajar, tidak apa. Istirahatlah sebentar. Tapi setelah itu, bangun dan berjalanlah lebih cepat lagi, kalau perlu berlari. Sekencang-kencangmu. Demi Tuhan, kejarlah yang kamu inginkan dengan apapun yang kamu bisa. Jangan lagi kamu kehilangan kesempatan. Lakukan saja dulu itu dan jangan dulu mengeluh. Ah, bahkan jangan pernah mengeluh. Mengeluh selalu membuat apapun yang kamu lakukan bertambah berat.

Dan setelah berjuang sekeras itu, kalaupun kemudian kamu tidak mendapat mimpi dan cintamu yang ini, tidak apa. Setidaknya kamu menjadi seseorang yang jauh lebih baik dari kamu yang sebelumnya. Kualitasmu sudah meningkat. Dan percayalah, kamu akan mendapatkan apa yang pantas untukmu. Jadi, semakin baik dirimu, kamupun akan mendapatkan yang sebaik kamu. Mungkin lebih, jadi lelahmu tidak pernah rugi sama sekali.

Mungkin kamu juga akan jatuh, karena untuk menggapai mimpi dan cintamu, tidak pernah semudah mengedipkan matamu. Akan ada hal-hal keras yang menghantammu. Tidak apa. Apapun yang terjadi, kamu hanya harus bangun dan berjalan lagi. Karena kalau kamu belum mati, berarti kamu masih baik-baik saja. Kamu hanya jatuh. Melukaimu, tapi tidak membunuhmu. Gunakan semua kekuatanmu untuk bangun dan berjalan lagi. Karena yang harus kamu lakukan untuk berbahagia hanya berjalan lagi.

Selama kamu terus berjalan, pasti akan ada suatu titik yang hatimu mengatakan. "Ini. Disini penuh kebahagiaan" Maka, kamu memutuskan untuk berhenti berjalan dan tinggal. Pun ketika itu terjadi, kamu menemukan kebahagiaan, bagikan. Jangan kamu simpan sendiri.

Jangan khawatir, kebahagiaan tidak pernah habis. Ketika membahagiakan, justru kamu menerima lebih banyak kebahagiaan. Sama seperti orang tua yang membelikan anaknya sepeda atau mainan. Anaknya berbahagia, tapi orang tuanya jauh lebih berbahagia ketika naknya berbahagia. Lalu hangatnya menyebar dari mata, ke hati, lalu kemana-mana. Kebahagiaan itu tidak pernah berkurang ketika dibagikan. 

Terakhir, sebelum kamu selesei membaca tulisan ini, kamu harus mengingat satu hal "Seleseikan apapun yang kamu mulai" Seperti pertandingan sepakbola. Tidak peduli berapa banyak gol disarangkan ke gawangmu, kamu harus berman sampai pertandingan selesai. Kita tidak bisa berhenti di tengahnya hanya karena kita sudah kemasukan banyak gol dan tidak mungkin menang. Pertandingan adalah pertandingan, selesaikan. Hidup adalah hidup, selesaikan. Kalaupun kamu dihantam dari segala sisi kehidupan, jangan berhenti. Selesaikan 'pertandingan' mu. Jadilah orang yang berjiwa besar. Terima kekalahan jika memang kamu kalah, dan berbagilah kebahagiaan jika kamu menang

Ini bukan ramalan, ini hanya tulisan. Kamu akan membacanya dimasa depan. Entah beberapa bulan lagi, setahun, atau jauh setelah ini. Yang penting, ketika kamu membaca tulisan ini, kamu ingat, bahwa juga yang menulis tulisan ini. Dan kamu tau bahwa segala sesuatu pasti akan terjadi, seperti yang kamu tuliskan sekarang ini, jatuhnya, sakitnya, perjuangannya, semuanya. Jika kamu merasa lemah, baca tulisan ini lagi, lalu bangun dan berjalan lagi. Terus saja sampai 'pertandingan' mu berhenti. Apa pun, jangan sampai kamu yang memutuskan untuk berhenti. Biar Tuhan yang memutuskan kapan kamu boleh berhenti. 
Tulisan ini, aku dan kamu akhiri disini. Dariku dan untukku sendiri

Untukku sendiri di masa depan nanti. Bahkan satu menit ke depan adalah juga masa depan.