Rabu, 28 Mei 2014
Gone Too Soon
Kalau ada yang bilang pemandangan pantai ketika matahari tenggelam itu menyenangkan, itu tidak ada apa-apanya bagiku jika dibandingkan kalau aku bisa menikmati secangkir teh di depanku dan secangkir kopi di depanmu. Menikmati bagaimana kamu begitu seksama mendengar setiap ceritaku, menikmati bagaimana kamu duduk bersandar ke kursimu dan melipat tangan di dadamu. Aku tau, kalau kamu sudah seperti itu, berarti kamu sedang fokus kepada sesuatu.
Dalam hal ini, berarti fokus kepadaku, mendengarku, memperhatikanku. Rasanya selalu menyenangkan ketika kita berbicara, dan orang yang berbicara dengan kita, mendengarkan.
Aku tidak ingin itu berhenti. Aku ingin menikmati pemandangan yang kulihat ketika aku bercerita ini setiap hari. Diperhatikan, bukan sekedar di dengar. Dimengerti, bukan sekedar di temani.
Aku juga ingat ketika kita terdampar di sebelah toko sambil menunggu hujan reda, kamu mengenakan kaos biru dan jins hitammu, lalu aku bercerita dengan semangatnya, dan di depanku kamu senyum-senyum saja. Tidak ada yang tau, aku selalu membaca, menonton, atau mendengarkan radio mengenai apapun yang kamu suka, agar ketika bertemu denganmu seperti itu, kita bisa berbicara begitu asiknya.
Kamu tetaplah seperti itu. Menjadi seseorang yang bersedia berlama-lama bersamaku. Kamu tetaplah seperti itu. Menjadi seseorang yang paling betah menemaniku.
Itu menyenangkan. Itu menghangatkan. Itu aku jatuh cinta.
Lalu seperti sebuah komet, yang katanya indah ketika menembus langit malam (aku tidak pernah melihatnya, tapi katanya memang tak terlupakan). Bercahaya terang, jarang, dan membuat hati berdebar-debar. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menikmatinya, Tetapi kejadiannya hanya sebentar. Dia akan bersinar begitu terang, lalu hilang selamanya. Kita hanya mampu menceritakannya, mengenangnya, tapi tak lagi menikmatinya.
Seperti itu juga kamu.
Atau seperti pelangi yang muncul, membuat orang kegirangan, tapi lagi-lagi hanya berlangsung sebentar. Indahnya tidak sebanding dengan lama berlangsungnya.
Seperti itulah kamu.
Kamu juga hilang begitu saja dalam waktu singkat. Pada saat aku benar-benar menikmati tawaku, benar-benar menikmati pesanmu setiap hari sekitar jam enam pagi, "Selamat Pagi!" Yang selalu membuatku ingin berteriak bahwa semua itu adalah moodboosterku.
Semua hanya karena kamu beranggapan bahwa aku diluar jangkauanmu. Aku selalu di dalam jangkauanmu kalau kamu mau tau. Selalu. Kamu hanya tinggal mengatakannya, dan aku akan ikut kemanapun kamu suka. Kamu hanya tinggal memelukku, dan aku akan menganggap di manapun aku berada, pelukanmulah rumah tetapku.
Aku merasa nyaman seperti ini. Bersamamu. Seharusnya kamu jangan berfikir untuk pergi.
Tetapi tidak ada gunanya. Kamu masih seperti komet. Cepat datang, menyenangkan, lalu menghilang. Menyerah duluan tanpa mau berjuang. Cinta membutuhkan perjuangan, kalau hanya aku yang berjuang, bagaimana bisa dibuktikan bahwa kita sebenarnya bisa bersama?
Pada akhirnya kamu memilih hati yang menurutmu bisa kamu gapai. Dan itu bukan aku. Padahal, hatiku bisa kamu gapai dengan begitu mudahnya. Kamu hanya tinggal mengatakannya, dan aku berikan semuanya.
Sekarang, ketika aku begitu rindu, begitu ingin di dengarkan, begitu ingin di tatap, begitu ingin di elus rambutku lagi dan mendengar, "Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja." aku harus bagaimana?
Mana bukti dari kalimat saktimu bahwa 'semua akan baik-baik saja'?
Kamis, 15 Mei 2014
Lonely
Karena riuh tidak selamanya sepi akan luka.
Saya selalu memahami kesepian sebagai suatu waktu dimana di detik itu, saya tidak punya satupun telinga atau pegangan yang bisa saya percaya untuk berbagi kekhawatiran. Tidak peduli, ketika itu saya tengah duduk di tengah-tengah teman bermain bersama segerombolan teman, ataupun disaat saya tengah berada di bawah pesta kembang api perayaan tahun baru.
Sepi, senantiasa mampu terjadi.
Untuk orang seperti saya, yang punya banyak sekali hal yang harus saya simpan dalam diam, saya selalu tau, bahwa ketika saya sedih, saya hanya perlu waktu untuk membiarkan rasa menyakitkan itu memudar, tapi melewatinya, tak jarang mengharuskan saya untuk bertemu dengan sepi. Walau sekejap, kesepian selalu mampu menelan hati saya bulat-bulat. Dan perasaan itu, terasa begitu tidak baik. Jujur saja, saya tidak pernah menyukainya. Lagi pula, siapa manusia yang bahagia berteman dengan kesepian?
Saya bukan seorang perempuan pemurung, saya selalu memilih terlihat baik-baik saja, itu persoalannya. Kalau kamu juga manusia yang setipe dengan saya, kamu harus ingat satu hal: setelah segala jenis luka dan kesepian yang berhasil dilewati, sesekali mencoba meletakan tanganmu di genggaman orang lain bukanlah hal yang memalukan, Belajar mempercayakan sesuatu kepada orang lain bukanlah hal yang buruk. Jangan karena hidup kerap menuntutmu untuk selalu lebih kuat dan lebih kuat, maka kamu tidaak boleh tampak lemah sekali saja. Tentu saja menjadi lebih kuat dari kebanyakan orang itu baik, tapi beda ceritanya justru yang terjadi so kuat.
Beberapa orang, mungkin termasuk saya, yang terbiasa menyimpan banyak hal sendirian, kerap membiarkan sepi terlalu lama menetap, yang justru berpotensi membangun dinding-dinding lain di dalam hati. Kalau dinding itu kamu biarkan terus berdiri, lapisannya akan semakin tebal dan bahkan hingga suatu ketika, sayang macam apapun yang mencoba masuk, tak mampu lagi menembusnya. Tentu saja itu bukanlah hal yang bijaksana untuk di teruskan.
Temukanlah dia yang mampu membuatmu semakin menyayangi dirimu sendiri, dan paham bahwa memiliki kelemahan itu bukanlah dosa.
Saya pernah di kecewakan, di bohongi, di haruskan menyimpan sesuatu yang menyakitkan seorang diri, karena apabila saya bicara, hal itu akan membuat kesedihan bebas merentangkan sayapnya ke hati-hati lain yang saya sayangi. Dan itu semua membuat saya harus selalu berusaha sekuat tenaga mengingatkan diri sendiri, bahwa saya tidak boleh jadi seseorang yang terlalu takut untuk berjalan bersama genggaman seseorang lain. Tidak semua genggaman akan menuntun saya ke arah yang akan membuat saya tersesat. Tuhan selalu menyediakan mereka yang bersedia menuntun saya ke arah yang lebih baik.
Jujur saja, sejak saya kecil, saya punya banyak sekali alasan untuk menjadi anak yang nakal, atau seseorang yang membenci Tuhan saya sendiri. Tapi saya tidak akan pernah membiarkan hal seperti itu terjadi. Tidak akan pernah. Saya sudah melihat kenakalan anak muda macam apapun yang kamu bisa lihat di televisi. Minum? Narkoba? Geng? Ciuman? Seks? Klub malam? Well, yang seperti itu pernah terjadi di hadapan mata saya sendiri. Dan isinya hanya kekosongan. Saya tidak pernah menganggap ini semua sebagai kemalangan, Tuhan begitu baik pada saya. Dia menunjukan dengan jelas mana yang salah dan mana yang benar, walau melewatinya tidak mudah, setidaknya saya tidak perlu melakukan hal bodoh macam itu. Dikecewakan dan tidak menerima penjelasan? saya juga sudah kenyang. Jadi kalau ada pria yang pernah berfikir, berhasil membuat kalian patah hati, percayalah, rasa sakit patah hati tidak ada apa-apanya dibanding patah hidup. Tapi betapapun hal itu pernah mengganggu saya, membuat saya patah hati dan menjadi perempuan yang aneh. Saya tidak pernah mau membiarkan diri saya menjadi seseorang yang tumbuh tanpa mampu percaya pada siapapun.
Namun satu yang saya pahami, manusia tidak dilahirkan untuk berdiri sendiri, walau dia punya sepasang kaki yang membuatnya mampu berjalan. Berjalan sendirian di tengah bumi ini tidak akan pernah memberimu cerita apa-apa. Hidup hanya berjalan untuk berakhir. Itu sangat menyedihkan. Saya tidak akan pernah membiarkan diri saya memilih hidup seperti itu.
Bersama, bukanlah soal kamu tidak bisa berdiri tegak bila mengendalikan dirimu sendiri. Tapi bersama adalah tentang langkahmu yang tak kau biarkan berteman bayangannya saja, dan hanya berjalan tanpa genggaman siapapun.
Bukankah akan sangat baik, ketika kamu berjalan dan menoleh, lalu ada wajah yang setia memberikan senyumannya untukmu? :)
Memiliki kelemahan bukanlah dosa, pernah melewati hal buruk juga bukanlah cela, begitupun memerlukan seseorang untuk berpegangan, bukanlah hal yang memalukan. Kelak, akan ada seseorang yang mampu membuatmu memahaminya.
Bahwa segala hal akan baik-baik saja, selama kalian bersama.
Langganan:
Postingan (Atom)

