Selasa, 23 Desember 2014

Mungkin Bila Nanti



Rasanya berbeda setelah kamu tidak ada. Malam-malamnya, suasananya, apa saja. Karena hangat yang biasanya muncul begitu saja di dalam dada kapanpun kamu menyapa, kini tidak lagi muncul memanjakan mata. Hanya ada bayanganmu di kepalaku yang tidak bisa kulupa.

Rasanya tidak lagi sama meski aku pun masih baik-baik saja. Aku masih bisa makan ayam goreng kesukaanku, coklat panas, atau membaca buku. Masih bisa menonton film, bercengkrama, atau ke pantai yang aku suka. Masih bisa bersenang-senang. Tetapi pasti lebih menyenangkan kalau kamu masih ada.

Karena setiap rasa yang dulu kamu beri, mengendap disini. bersama setiap "Selamat pagi, Kamu!" yang tidak pernah absen dari layar hp-ku setiap pagi. Bersama juga senyumanmu yang bisa tiba-tiba muncul begitu saja dan mewarnai hari. Dan juga bersama scene terakhir yang kutangkap ketika pada suatu malam kamu memutuskan untuk pergi.

Aku tau itu akan datang. Hanya saja cintaku terlalu membutakan. Aku menyadari itu ketika "Selamat pagi, Kamu!" -mu mulai tidak ada lagi. Aku menyadari itu ketika kapanpun aku meminta bertemu, kamu selalu mencari alasan untuk menghindari, Aku menyadari itu ketika kapanpun aku meneleponmu, kamu malas-malasan menjawabnya, dan dengan cepat kemudian menutupnya lagi. Tetapi itu tadi, cintaku terlalu membutakan. Sampai hal yang seharusnya kusadari, aku tutupi sendiri.

Sekarang, aku merasakan kehilangan yang seharusnya sejak dulu sudah kuantisipasi. Meratapi alasan-alasan yang kubuat ketika 'pelan-pelan menghindarmu' aku tutupi.

Tetapi mungkin bila nanti, pada akhirnya aku sanggup mengusir rasa yang sebelumnya tak mau pergi, membunuh rinduku sampai tak berani muncul lagi, aku akan kembali. Kembali menemuimu dengan berani dan tersenyum lagi.

Tapi tidak sekarang. Sekarang rasa itu belum sanggup aku lepaskan. Aku masih sering tiba-tiba teringat kamu ketika terbangun ditengah malam. Aku masih sering tiba-tiba melamunkanmu dengan perasaan tidak karuan. Aku masih sering membayangkanmu kalau tiba-tiba teleponku berbunyi, darimu, untuk permintaan maafmu. Atau tiba-tiba kamu muncul ketika aku pulang, berlutut, menyesal, sambil membawa bunga dan mengajakku kembali.

Jatuh cinta seperti dulu lagi.

Tetapi seperti biasa, Harapan hanya bermakna dua. Yang tepat memberi semangat, yang tidak tepat malah melukai dengan sangat.

Kamu termasuk harapan yang kedua. Selalu berhasil membuatku terluka.

Mungkin bila nanti aku sudah bisa melepaskan semua (karena memang sudah waktunya) aku akan menemuimu sambil tersenyum dan tertawa lebar seperti biasa, seperti saat belum ada 'kita'. Jadi kalau suatu hari kita bertemu lagi, dan aku sudah bercanda dan tertawa seperti biasa, kemungkinannya cuma dua:

Kalau waktunya dekat, berarti aku sedang berpura-pura. Kalau waktunya sudah cukup lama dari sekarang berarti rasa itu memang sudah tidak ada.

Aku sudah berhasil melepaskannya.

Senin, 01 Desember 2014

Tanpamu




Aku menulis ini karena akhirnya aku bisa menyadari kalau ternyata aku masih bisa berjalan lagi.

Kalau ternyata, kehilanganmu bukanlah akhir bagi duniaku. Mungkin akhir dari cerita bahagiaku yang ini, tapi bukan akhir dari cerita bahagiaku yang lain. Kenyataannya hidupku terus berjalan sampai sekarang, masih bisa tertawa, masih bisa melakukan hal-hal yang dari dulu biasa kukerjakan setiap harinya. Aku hanya harus melalui kesedihan yang sementara dan beratnya melepaskan yang juga hanya sementara. Tapi pada akhirnya, aku akan tetap bisa baik-baik saja.

Aku menulis ini karena akhirnya aku menyadari kalau bahagiaku masih ada di masa depan. Mungkin dulu aku yang tergesa-gesa memutuskan bahwa kamu adalah bahagiaku yang selamanya. Ternyata, tidak demikian. Mungkin Tuhan menyiapkan yang terbaik untuk yang terakhir, di waktu yang menurut-Nya tepat. Dan itu pasti bukan kamu dan juga bukan waktu sekarang. Karena kamu membuatku pergi meninggalkanmu.

Yang harus aku lakukan tanpamu hanya bertahan, lebih memperhatikan sekitar, dan tidak fokus pada kehilangannya. Karena, seberapapun hidup menjatuhkan seseorang, orang itu tetap memiliki kekuatan untuk memilih berlama-lama meratapi kejatuhannya atau bangkit kembali untuk menyambut bahagianya yang lain. Aku memilih untuk bangkit kembali, merebut bahagiaku kembali.

Jadi, aku sudah berdiri lagi disini. Aku sudah siap untuk jatuh cinta lagi kembali. Untuk berbahagia lagi. Sudah juga menghapusmu dari hatiku. Memang tidak menghapus kenangannya, hanya membersihkan ruangannya untuk nantinya bisa ditempati orang yang lebih baik lagi. Yang lebih tepat untukku menurut Tuhan, bukan yang tepat bagiku menurutku sendiri. Karena kalau dihatiku masih ada kamu, kasihan orang lain yang lebih mencintaiku dan berusaha masuk ke hatiku.

Jadi, sebenarnya, tanpamu tidak apa. Aku akan sakit sementara. Tetapi, selama aku tidak pernah kehilangan hati dan fikiranku sendiri, aku rasa aku akan baik-baik saja. Karena sebelum ada kamupun, aku pernah berbahagia, jadi kebahagiaanku sudah pasti bukan tergantung pada kamu:)