Kamis, 30 Januari 2014

Selepas Kepergian

Ini tentang malam yang terlalu dingin untuk dibicarakan. Tentang kesepian yang tak pernah bosan memeluk kesendirian. Tentang gigil gemelutuk yang memeluk kala bekunya setiap debar perasaan. Kalimat ini tercipta dari kesedihan yang terlalu. Tentang kecemasan dan haru yang mengukung. Tentang perkara hati yang membuat wajah selalu memasang seringai murung. Rima ini tergagas dari lirih tangis yang tersengal. Emosi yang meluap saat kau memutuskan untuk tanggal. Pergi meninggalkan.

Kesedihan begitu mudah mencipta dendam. Seberapa hebat pun cinta membuat bahagia, pada akhirnya cinta pula yang paling bengis dalam mengajarkan luka.

Ini tentang kamu yang menjauh. Tentang jejakmu yang tak lagi berpijak di tempat yang sama. Tentang langkah kaki yang berlalu memunggungi. Tentang genggam tangan yang terlepas untuk melambaikan salam perpisahan. Tentang senyum getir yang menyuruhku untuk tulus melepaskan. Tentang isak tangis tertahan yang pelan-pelan menyuruhmu untuk tetap tinggal dan bertahan. Tentang gelengan kepala yang secara tegas berkata tidak.

Kehilangan begitu fasih mengajarkan kebencian. Seberapa kuat pun berusaha menahan, pada akhirnya kesepian tak pernah kehabisan cara dalam memaksa untuk melepaskan kebersamaan.

Ini tentang kesedihan yang tertinggal. Tentang bulir tangis yang tak lagi kuat terbendung di kedua pelupuk mata. Tentang rintihan hati yang ringkih saat melepasmu pergi. Tentang kesepian yang memeluk hari-hari. Tentang sendu yang tak lagi tau bagaimana mengajari wajah agar bisa memasang senyum. Tentang kegetiran yang menyayat saat aku mengenangmu. Tentang doa-doa mengangkasa dengan lafal semoga kau berbahagia, tanpaku.

Setabah-tabahnya rindu. Setulus-tulusnya kehilangan. Seikhlas-ikhlasnya merelakan. Sebisa aku memaknai kamu, cinta, dan kepergian tanpa rengekan.


Sabtu, 18 Januari 2014

Lelaki dan Perempuan yang Tenggelam Dalam Senja

"Ceritakan padaku kisah-kisah puitis agar aku tak lelah menanti. Rangkul aku dengan rindu-rindu menguap agar aku tau kau tak akan pergi. Dekap aku dengan pelukan-pelukan hangat agar aku yakin bahwa aku adalah satu-satunya yang kau cintai.."

Senja memerah di ufuk barat, garis-garis terbias di antara langit jingga berpadu biru. Dan kita masih duduk di sudut itu. Menikmati setiap detik waktu dalam mengantarkan matahari terbenam. Ditingkahi embus angin-angin sore yang memainkan setiap anak rambut yang tergerai jatuh menutupi dahi. 

"Taukah kau apa yang disampaikan senja?" katamu memecah keheningan.
"Senja, pada langit biru ia menjingga. Menjelma kereta kuda yang menjemput mimpi pada malamnya. Keindahan sesaat, sekejap mata. Datang sekali di antara siang dan malam. Tapi ia setia. Tak pernah lupa untuk kembali keesokan lagi, meski malam kerap melahapnya dalam hitam hari. Dan aku adalah senja itu. Pengantar rindu menuju kamu"

Aku tersenyum. Merebahkan kepala pada bahumu yang tegap. Membenahi posisi duduk untuk merekatkan dekap. Membiarkan kehangatan menyesapi kisi hati lekat-lekat.

"Rindu itu kamu. Senja yang datang setelah siang kerontang, pelepas penat selepas panas" 

Kau tertawa. Renyah suara yang selalu kusuka, hal yang tak pernah jenuh membuatku jatuh cinta. Mencintaimu seperti menemukan bagian diriku yang sudah lama hilang. Pencipta kebahagiaan yang tak lekang, meski jarak begitu angkuh memaksa kita berjauhan.

"Kapan kita akan berhenti saling mencintai dalam jarak berjauhan?" tanyaku lirih.
"Bersabarlah, kelak jarak akan menyerah dan mengalah. Merekatkan dekap hingga erat. Membuat perasaan menjadi utuh, seluruh." lalu kau menatap mataku dalam-dalam. Menyunggingkan senyum. 

Burung-burung berpulangan. Lampu-lampu dinyalakan. Malam datang lagi, dan senja perlahan beranjak pergi.



Sabtu, 04 Januari 2014

Kotak-Kotak Kaca

Siang ini aku mengenangmu. ---lagi
Setelah sekian lama berlari meninggalkan luka dan kenangan yang kusimpan dalam kotak-kotak kaca. Menyibukan diri dengan hal apapun yang membuatku sedikit melupakan segala tentangmu. 
Emm.. tak sebenarnya melupakan, memang. Hanya sekedar menafikan kerinduan yang selama ini menghujam. Meski tetap saja kamu datang pada sepiku. ---sesekali

Siang ini -entah dengan keberanian apa- aku kembali membuka kotak-kotak kaca itu. Membiarkan segala cerita tumpah. Membuatku kuyup dan gigil oleh kenangan-kenangan yang menggenang begitu dingin. Seketika, aku tersedak oleh kerinduan. Hening. Berharap pelukmu merengkuh, menghangatkan aku yang demam ketika mengenangmu.

Maafkan aku yang tak terlalu kukuh menahanmu pergi. Aku takut tak membahagiakanmu ---saat itu. Tapi nyatanya aku kalah telak. 
Selepas pergimu, penyesalan memasung segala langkah. Membuatku kerap terjatuh, terjerembab, terperosok dalam lubang pengap bernama keputusasaan. Pernah aku mencoba merelakan, berbesar sabar agar luka dapat tabah seiring waktu. Tapi detak detik masa yang terlewat, justru membuat angan untuk bersama begitu kuat.

Maka, saat ini. Izinkan aku mengenangmu---lagi. Sebab apalagi yang dapat kuperbuat untuk menghadirkan tiadamu, bila keberadaanmu saja sudah begitu jauh. Berkompromi dengan asa-asa yang memudar untuk melukis lagi bayang wajahmu di setiap dinding di dalam kepala, dengan bias senyum-senyum getir menertawakan aku yang luka. Memeluk tiadamu dengan cinta paling rindu.

"Andai bisa kupinta kepada pemilik siang. Aku ingin berdoa agar semesta mengizinkan kamu untuk datang kembali dengan senyum mengembang. Menafikan segala luka duka cerita masa silam."