Aku suka memandangi hujan berlama-lama, tapi tanpamu, rasanya mungkin tidak akan lagi sama.
Aku suka berbincang di telfon sampai tertidur, tapi siapapun yang kemudian menemaniku melakukan itu, mungkin rasanya tidak akan senyaman ketika aku melakukannya denganmu
Aku ingin kamu tinggal, tentu saja. Tidak ingin kita berpisah, tentu saja. Tapi aku bisa apa? tiba-tiba saja kamu ingin pergi begitu saja. Kamu bilang hubungan ini tidak bisa lagi dipertahankan. Tetapi kamu tidak pernah mencoba, bertahan, sayang, darimana kamu tau hubungan ini tidak bisa dipertahankan?
Pada saat aku meminta untuk kita bicarakan dulu, kamu juga bilang kalau tidak ada lagi yang bisa dibicarakan. Kamu tidak pernah berusaha mencari tau apa yang sebaiknya kita bicarakan, jadi darimana kamu tau bahwa tidak ada lagi yang bisa dibicarakan?
Sepertinya kamu terlalu tidak peduli untuk mencoba lagi. Terlalu mencari menangmu sendiri untuk berusaha mengerti. Tapi tidak apa. Cinta tidak harus dipaksa.
Aku akan baik-baik saja. Tidak akan menangis selamanya. Kamu jangan merasa bersalah atau terlalu khawatir dan bertanya-tanya apakah aku akan baik-baik saja. Karena pada akhirnya juga toh pasti aku akan baik-baik saja. Harus baik-baik saja.
Masih ingat, pada waktu aku menangisimu, kamu bilang kita masih bisa berteman? Aku bertaruh, awalnya ya kita mungkin masih berhubungan, menanyakan kabar, mungkin juga ngobrol kadang-kadang. Tapi lama kelamaan pasti akan berangsur berkurang, lalu saling melupakan. Atau setidaknya, kamu yang sepertinya duluan akan melupakan.
Katamu juga (ketika aku menangis dan mencoba mempertahankan), kenapa aku terus berusaha mempertahankan kalau kamu saja tidak ingin dipertahankan?
Tunggu sebentar, apa kamu tidak ingat, ketika pernah dulu aku yang memutuskanmu pergi, kamu juga terus memohonku sambil memelukku erat?
Apa kamu tidak ingat, selama setahun pernah tanpa menyerah berusaha menarik perhatianku yang pada awalnya aku tidak pernah menggubrismu? Ke mana sifat tidak pernah menyerah sebelum mendapatkan yang kamu mau itu? Atau setelah mendapatkan, sudah tidak lagi menantang?
Apa kamu tidak ingat, kamu pernah mengenalkanku kepada teman-temanmu dan begitu membanggakanku? Kenapa sekarang tak bisa sebahagia itu?
Kamu bilang, mungkin karena aku berubah, itu alasannya. Sebenarnya aku masih sama, selalu seperti dulu karena kamu bilang mencintaiku tanpa ingin mengubahku. Tidak mungkin aku berubah kalau itu beresiko melunturkan cintamu, dimana aku sedang sangat cinta-cintanya denganmu. Kalau begitu sebenarnya yang berubah itu siapa?
Sekarang, kalau tiba-tiba aku mendengar lagu yang biasa kita nyanyikan berdua, dan tiba-tiba merasa begitu merindukanmu, aku harus bagaimana?
Kalau tengah malam aku tiba-tiba kangen banget ngbrol di telfon denganmu, aku harus bagaimana?
Ya, aku tau. Ini yang selalu kamu katakan setiap kali aku mengatakan rindu atau mengajakmu berbicara lagi dulu "Kamu harus bisa seperti aku. Melepaskanmu. Yang berlalu biarlah tetap berlalu"
Kamu tidak tau sakitnya aku, jadi sebenarnya kamu tidak boleh berkata harus bisa seperti kamu, membiarkan yang berlalu tetap berlalu. Bagi yang sudah tidak mencintai lagi, itu mudah. Kamu pernah tidak, sedang jatuh cintanya, tapi diminta untuk berhenti mencintainya? kamu pernah tidak, sedang rindu-rindunya tapi di suruh jangan lagi melakukannya? Kalau belum, jangan menganggap 'yang berlalu biarlah berlalu' itu semudah mengatakannya. Tidak semudah itu.
Sebagai catatan, aku melepaskanmu bukan karena tidak mencintaimu, aku hanya merasa untuk apa mempertahankan yang tidak ingin dipertahankan. Untuk apa meminta kamu disini jika kamu selalu berfikir untuk pergi. Untuk apa menanyakan apa kamu masih cinta kalau jawabanmu bisa ditebak, 'Tidak tau rasa itu masih ada'
Sebenarnya, mencintai itu berfikirnya bukan lagi aku atau kamu. Bukan lagi aku berusaha mati-matian membahagiakanmu, atau kamu mencoba membahagiakanku. Saling mencintai itu, berusaha agar kita bahagia dengan tetap bersama. Sayangnya, memang dari awal pengertian kita tentang mencintai itu berbeda. Kamu dengan kamu harus bahagia, aku dengan mecoba selalu menerima kamu apa adanya, bahkan dengan egomu yang tidak pernah kusangka bahwa bahagiamu jauh lebih penting dari bahagiaku.
Tapi kalau kamu (seandainya) ingin tau dulu apa pendapatku tentang ini, sebenarnya aku rasa kita harus mencoba untuk bertahan dulu. Setidaknya mencoba dulu, bukan semua diputuskan oleh kamu.
Selasa, 25 Februari 2014
Sabtu, 15 Februari 2014
Kenapa Tak Bahagia Saja?
Selamat malam, Tuan.
Pernahkah kau bertanya, mengapa Tuhan menciptakan cinta dengan keragaman rasa? Mungkin kau pernah merasakan, betapa cinta yang kau miliki begitu membahagiakanmu. Membuat kau mengulas senyum kala melewati hari-hari. Tapi suatu kali, hatimu yang merah muda menjadi biru lebam didera keharuan perasaan. Entah kehilangan, dendam, rindu terabaikan, dan sebagainya. Seperti yang ku alami sekarang. Apakah kau pernah bertanya, pada kepalamu yang sesak oleh pertanyaan itu, kenapa Tuhan tak menciptakan kebahagiaan saja, Pernahkah, Tuan?
"Tuhan menciptakan kebaikan dan keburukan cinta semata hanya untuk mengajarimu cara menjaga dan merelakan. Cinta itu mendewasakanmu. Membuatmu memahami hal mana yang harus kau perjuangkan dan mana yang memang sepantasnya kau relakan. Mengajarimu bagaimana cara mensyukuri hal yang kau miliki dan juga ketabahan jika suatu kali kau harus melepaskan. Hingga akhirnya, cinta menjelma sepasang sayap malaikat yang akan membawamu terbang hingga mencapai nirwana"
Aku pernah merasakannya, Tuan. Betapa cinta yang ku anggap mulia untuk diperjuangkan ternyata hanya bertepuk sebelah tangan. Hal selama ini kuupayakan untuk dipertahankan ternyata tak menjadikanku sebagai perempuan istimewa yang di anggap layak untuk diperjuangkan. Aku memperjuangkan segenap perasaanku sendirian, Tuan. Maka pada akhirnya, kandaslah hubungan kita, dan hancurlah hati yang kupunya. Lalu setelahnya, rusak semua fokus kehidupanku. Membuatku duduk diam di serambi asing di tepian pagi hingga malam untuk sekedar menjawab pertanyaan 'apa yang sebenarnya aku perjuangkan?'. Lantas membuat diriku usang karena terlalu lama meratapi sendu dan kesepian. Tapi semua sudah terlewati, Tuan. Akhirnya aku tersadar bahwa aku terlalu lama larut dalam kesedihan. Padahal sebenarnya aku lebih pantas untuk dihormati dan diperjuangkan. Maka, berdirilah aku, membenahi keping-keping perasaan yang berantakan. Dengan harapan-harapan dan angan-angan baru. Coreng moreng di muka biar menjadi bukti keyakinan bahwa aku sudah lebih baik dalam memaknai perasaan.
Aku tak ingin kau merasakan hal yang sama, Tuan. Maka ku peringatkan kau dari sekarang. Agar mampu menjaga diri dan perasaanmu dengan baik. Biarlah kau tetap menjadi laki-laki yang menurutmu selalu perempuan banggakan.
Salam,
Perempuan Yang Kau Kecewakan
Pernahkah kau bertanya, mengapa Tuhan menciptakan cinta dengan keragaman rasa? Mungkin kau pernah merasakan, betapa cinta yang kau miliki begitu membahagiakanmu. Membuat kau mengulas senyum kala melewati hari-hari. Tapi suatu kali, hatimu yang merah muda menjadi biru lebam didera keharuan perasaan. Entah kehilangan, dendam, rindu terabaikan, dan sebagainya. Seperti yang ku alami sekarang. Apakah kau pernah bertanya, pada kepalamu yang sesak oleh pertanyaan itu, kenapa Tuhan tak menciptakan kebahagiaan saja, Pernahkah, Tuan?
"Tuhan menciptakan kebaikan dan keburukan cinta semata hanya untuk mengajarimu cara menjaga dan merelakan. Cinta itu mendewasakanmu. Membuatmu memahami hal mana yang harus kau perjuangkan dan mana yang memang sepantasnya kau relakan. Mengajarimu bagaimana cara mensyukuri hal yang kau miliki dan juga ketabahan jika suatu kali kau harus melepaskan. Hingga akhirnya, cinta menjelma sepasang sayap malaikat yang akan membawamu terbang hingga mencapai nirwana"
Aku pernah merasakannya, Tuan. Betapa cinta yang ku anggap mulia untuk diperjuangkan ternyata hanya bertepuk sebelah tangan. Hal selama ini kuupayakan untuk dipertahankan ternyata tak menjadikanku sebagai perempuan istimewa yang di anggap layak untuk diperjuangkan. Aku memperjuangkan segenap perasaanku sendirian, Tuan. Maka pada akhirnya, kandaslah hubungan kita, dan hancurlah hati yang kupunya. Lalu setelahnya, rusak semua fokus kehidupanku. Membuatku duduk diam di serambi asing di tepian pagi hingga malam untuk sekedar menjawab pertanyaan 'apa yang sebenarnya aku perjuangkan?'. Lantas membuat diriku usang karena terlalu lama meratapi sendu dan kesepian. Tapi semua sudah terlewati, Tuan. Akhirnya aku tersadar bahwa aku terlalu lama larut dalam kesedihan. Padahal sebenarnya aku lebih pantas untuk dihormati dan diperjuangkan. Maka, berdirilah aku, membenahi keping-keping perasaan yang berantakan. Dengan harapan-harapan dan angan-angan baru. Coreng moreng di muka biar menjadi bukti keyakinan bahwa aku sudah lebih baik dalam memaknai perasaan.
Aku tak ingin kau merasakan hal yang sama, Tuan. Maka ku peringatkan kau dari sekarang. Agar mampu menjaga diri dan perasaanmu dengan baik. Biarlah kau tetap menjadi laki-laki yang menurutmu selalu perempuan banggakan.
Salam,
Perempuan Yang Kau Kecewakan
Sabtu, 08 Februari 2014
Surat Dalam Kantung Mata
Banyak bulan yang kulumat dalam jejak kaki. Banyak lumpur yang kucoreng di muka sendiri. Bagaimana kabarmu, wahai perempuan yang digerus usia?
Menghiasi wajahmu dengan jemariku, membuatku lumpuh oleh ingatanku sendiri. Bagaimana waktu menjelma menjadi kerutan-kerutan di wajah itu *kerutan yang tak lebih banyak dari doa-doa yang kau gelar diatas sejadah tuamu*, bagaimana sungai-sungai pernah tercipta dari kedua mata itu, sebab kepalaku lebih keras dari suaramu. Gadis kecilmu tak perlu lagi pulang ke pelukan siapapun, selain milikmu.
Sesekali biarkan aku memelukmu. Mungkin pada tawa yang lahir di tengah ruang atau ketika amarah menjadi kurcaci-kurcaci nakal yang mencacah isi kepala. Pada sinar matamu yang redup, atau bibirmu yang terkatup aku tak perlu menjadi siapa-siapa selain aku. Kau, mencintaiku utuh.
Surat ini takan mampu kau temukan di laci atau saku celanaku, ku simpan rapat ketika lidah melupakan fungsinya mengapa seharusnya ada, ketika kertas dan pena hanya jadi budak nilai tukar rupiah, ketika kata-kata hanya letupan bara yang menyesal namun tak sanggup berbuat apa-apa.
Biarkan pada surat yang kusimpan dalam kantung mataku ini, menjadi celah bagi sayap yang kuhempas terlalu tinggi untuk memelukmu, untuk mengucap syukur, mengapa menjadi milikmu adalah anugrah yang berlebih dari penciptaku.
Mungkin kelak, surat ini bisa kau baca. Ketika lenganku berbicara, ketika detakku berdansa doa-doa atau ketika air bah didadaku menemukan senyum banggamu di kedua mata.
Di detak yang tak pernah kita tau kapan akan berhenti, biarkan kakiku memilih. Percayalah tak akan ada lagi musim yang ku biarkan beku dalam tangisan ngilu. Mungkin ini yang keseribu, ketika inginku lebih getir dari senggama sang petir yang menggebu.
Tapi percayalah, Bunda
Aku mencintaimu..
Menghiasi wajahmu dengan jemariku, membuatku lumpuh oleh ingatanku sendiri. Bagaimana waktu menjelma menjadi kerutan-kerutan di wajah itu *kerutan yang tak lebih banyak dari doa-doa yang kau gelar diatas sejadah tuamu*, bagaimana sungai-sungai pernah tercipta dari kedua mata itu, sebab kepalaku lebih keras dari suaramu. Gadis kecilmu tak perlu lagi pulang ke pelukan siapapun, selain milikmu.
Sesekali biarkan aku memelukmu. Mungkin pada tawa yang lahir di tengah ruang atau ketika amarah menjadi kurcaci-kurcaci nakal yang mencacah isi kepala. Pada sinar matamu yang redup, atau bibirmu yang terkatup aku tak perlu menjadi siapa-siapa selain aku. Kau, mencintaiku utuh.
Surat ini takan mampu kau temukan di laci atau saku celanaku, ku simpan rapat ketika lidah melupakan fungsinya mengapa seharusnya ada, ketika kertas dan pena hanya jadi budak nilai tukar rupiah, ketika kata-kata hanya letupan bara yang menyesal namun tak sanggup berbuat apa-apa.
Biarkan pada surat yang kusimpan dalam kantung mataku ini, menjadi celah bagi sayap yang kuhempas terlalu tinggi untuk memelukmu, untuk mengucap syukur, mengapa menjadi milikmu adalah anugrah yang berlebih dari penciptaku.
Mungkin kelak, surat ini bisa kau baca. Ketika lenganku berbicara, ketika detakku berdansa doa-doa atau ketika air bah didadaku menemukan senyum banggamu di kedua mata.
Di detak yang tak pernah kita tau kapan akan berhenti, biarkan kakiku memilih. Percayalah tak akan ada lagi musim yang ku biarkan beku dalam tangisan ngilu. Mungkin ini yang keseribu, ketika inginku lebih getir dari senggama sang petir yang menggebu.
Tapi percayalah, Bunda
Aku mencintaimu..
Minggu, 02 Februari 2014
Selamat Pagi. Bulan Merah Jambu
Selamat pagi, Februari. Bulan merah jambu. Begitulah banyak orang menyebutmu.
Buku, segelas coklat hangat, dan sesisir roti coklat. Biasanya mereka menjadi santapan lezat dan mampu memulihkan keceriaan yang nyaris karat. Entahlah, pagi ini laju debar terlalu cepat, isi kepala pun luar biasa padat.
Februari, kau tau? ingatanku sedang tamasya beberapa terakhir hari ini. Kuyup dalam deras hujan memori yang tak kunjung reda. Beberapa hari terakhir, aku sengaja melingkari barisan angka-angka dalam kalender di meja kamar. Sebab rasanya tahun ini ingin melewatkanmu begitu saja, berharap bisa tertidur pulas dan terbangun di bulan ke tiga. Tapi nyatanya kesadaranku masih sebulat purnama, menyimak perbincangan rindu dan doa dengan seksama.
Ini adalah surat pertama untukmu, Februari. Aku menulisnya diantara samar teriakan anak-anak hujan yang berlarian diluar. Semoga sisa musim penghujan tak melulu membuat keceriaanmu membiru, ya. Lekas pulihkan rindu yang nyeri. Berjanjilah tak akan ada air mata yang rekah di bulan ini dan mari ramaikan hati dengan merdu, bersiaplah dengan tatanan hati yang benar-benar baru mulai hari ini. Lihatlah, mimpi-mimpiku sudah merajuk ingin ditemui.
Berjanjilah akan seminau seperti percikan indah mentari di tubuh bahtera yang lembut ombaknya.
Berjanjilah untuk seceria matahari di musim panas.
Berjanjilah untuk seceria rekah tulip di negeri Belanda atau sakura di negerinya saat musim semi tiba.
Bulan merah jambu, ketahuilah, di dadaku, ada hati yang telah karang. Ada rindu yang terlanjur tumbang dan ku biarkan separuh doa berkejaran dengan layang-layang. Simpanlah surat ini baik-baik. Kelak, aku akan menemanimu membacanya berulang-ulang.
Buku, segelas coklat hangat, dan sesisir roti coklat. Biasanya mereka menjadi santapan lezat dan mampu memulihkan keceriaan yang nyaris karat. Entahlah, pagi ini laju debar terlalu cepat, isi kepala pun luar biasa padat.
Februari, kau tau? ingatanku sedang tamasya beberapa terakhir hari ini. Kuyup dalam deras hujan memori yang tak kunjung reda. Beberapa hari terakhir, aku sengaja melingkari barisan angka-angka dalam kalender di meja kamar. Sebab rasanya tahun ini ingin melewatkanmu begitu saja, berharap bisa tertidur pulas dan terbangun di bulan ke tiga. Tapi nyatanya kesadaranku masih sebulat purnama, menyimak perbincangan rindu dan doa dengan seksama.
Ini adalah surat pertama untukmu, Februari. Aku menulisnya diantara samar teriakan anak-anak hujan yang berlarian diluar. Semoga sisa musim penghujan tak melulu membuat keceriaanmu membiru, ya. Lekas pulihkan rindu yang nyeri. Berjanjilah tak akan ada air mata yang rekah di bulan ini dan mari ramaikan hati dengan merdu, bersiaplah dengan tatanan hati yang benar-benar baru mulai hari ini. Lihatlah, mimpi-mimpiku sudah merajuk ingin ditemui.
Berjanjilah akan seminau seperti percikan indah mentari di tubuh bahtera yang lembut ombaknya.
Berjanjilah untuk seceria matahari di musim panas.
Berjanjilah untuk seceria rekah tulip di negeri Belanda atau sakura di negerinya saat musim semi tiba.
Bulan merah jambu, ketahuilah, di dadaku, ada hati yang telah karang. Ada rindu yang terlanjur tumbang dan ku biarkan separuh doa berkejaran dengan layang-layang. Simpanlah surat ini baik-baik. Kelak, aku akan menemanimu membacanya berulang-ulang.
Langganan:
Postingan (Atom)