Senin, 25 Agustus 2014

Jarak



Bagian terbaik dari jarak adalah kita; dua pasang lengan menengadah untuk berdoa. Berharap waktu berbaik hati mengantarkan temu.

Jarak adalah jeda. Sekat yang dipersiapkan Tuhan untuk diisi dengan doa. Bersabar menunggu dalam menanti temu. Menjadikannya sebagai kesepian yang hangat meski sendu sesekali melekat. Tak apa, toh hal yang indah, baik dekat maupun jauh tetap saja akan tetap terlihat dan terasa indah. 

Aku mencintaimu; dalam dekat, dalam jarak, dalam lekat, dalam sekat. Sebab aku mencintaimu, maka jarak dan waktu akan terperangkas untuk merindui kamu. Kenyataan bahwa aku merasa begitu di cintai olehmu adalah anugrah terbaik. Memilikimu utuh tanpa cela adalah keistimewaan yang sempurna. Biarlah sesekali jarak membuat kita jauh, agar kita dapat menjaga rindu dengan sebaik-baiknya. Sebab apalagi yang membuat pertemuan menjadi sedemikian istimewa selain karena rindu yang sama sama kita jaga?

Jarak adalah ujian. Perkara yang disiapkan Tuhan untuk mengetahui sejauh mana kita mampu bertahan. Sederhananya begini, jika dalam rentang jarak terbentang kita mampu melewati setiap permasalahan yang menghadang, apa lagi jika kita melawannya dengan terus bergenggaman? Kenyataan bahwa hati kita saling terpaut dalam setiap pergulatan perasaan adalah karunia yang mesti sama-sama kita syukuri. Bukankan syukur adalah cara agar kita tetap merasa cukup?

Aku mencintaimu, dalam peluk, dalam pelik, dalam senyum, dalam murung. Sebab aku mencintaimu, maka semua menjadi baik-baik saja. Kenyataan bahwa kita saling mengait dan tetap bersama adalah kebahagiaan yang paling benar. Tak peduli berapa lama berbesar sabar saat menunggu, toh pada akhirnya kita akan sama-sama memperjuangkan temu. Aku tak lagi menjadi aku, kamu tak lagi menjadi kamu. Aku dan kamu telah menjadi kita. There's no long distance about love, it always finds a way to bring hearts together. No matter the miles in between.

Akan datang pagi dimana jarak kita hanya satu dengusan nafas saja. Saling mendekap erat dengan hidung menempel. Membunuh rindu satu persatu dalam pelukan. Maka, bersabarlah. Akan segera kupangkas jarak. 

Aku mencintaimu
Lebih besar dari jarak yang harus kutempuh.


Jumat, 01 Agustus 2014

Pada Sepotong Malam Hujan Setelah Kenangan



Malam datang lagi. Rindu mencekam dengan bahasa hujan yang dingin dan kesepian. Aku duduk mendekap lutut, bersama segelas teh, kue kering dan repih-repih perasaan yang berceceran di setumpukan catatan rencana yang tak jadi. Kenyataan menampar sadar bahwa selepas hilang tak ada lagi yang bisa di rapikan.

Pada akhirnya, aku dipaksa menyerah menerima keadaan. Meratap diri untuk tabah menerima kekalahan-kekalahan. Beberapa orang pernah berkata, menyerah bukan berarti kalah, itu hanya menjadi semacam pengingat bahwa ada beberapa hal dalam hidup yang tak dapat di paksakan. Mungkin memang benar, hidup adalah sekumpulan kompromi untuk menyesuaikan diri. Baik-buruk, bahagia-luka, sedih-tertawa, hanya sekeping rasa yang hanya bisa dirasakan saat mau memilih untuk menikmati yang mana.

Tapi harus kau ingat, aku tak pernah memaksa agar kau selalu berada di sini, menemani, untuk waktu yang lama atau bahkan selamanya. Aku hanya memperjuangkan kebahagiaan yang ku miliki, kebahagiaan itu kamu. Tapi nyatanya kebahagiaanku bukanlah menjadi kebahagiaanmu. Sedihku, ternyata bukan lagi menjadi sedihmu. Aku lelah menjadi asing di dalam kepalamu. Dan kau, telah menjadi sedemikian berada di dalam ingatanku.

Tapi baiklah, toh sekuat apapun aku berusaha, hal yang tak mungkin bisa menjadi milikku, tetap saja tidak akan bisa bersama. Sekeras apapun aku mencoba, sesuatu yang seharusnya pergi akan tetap meninggalkan juga. Maka, disinilah aku sekarang. Menyendiri diantara kesepian tak bernama. Mengenang kau yang berlalu dan tiada. Membenahi kita yang kau abaikan dengan doa-doa "semoga kau berbahagia, dengan sekeping hati baru yang bukan aku"