Selasa, 23 Desember 2014

Mungkin Bila Nanti



Rasanya berbeda setelah kamu tidak ada. Malam-malamnya, suasananya, apa saja. Karena hangat yang biasanya muncul begitu saja di dalam dada kapanpun kamu menyapa, kini tidak lagi muncul memanjakan mata. Hanya ada bayanganmu di kepalaku yang tidak bisa kulupa.

Rasanya tidak lagi sama meski aku pun masih baik-baik saja. Aku masih bisa makan ayam goreng kesukaanku, coklat panas, atau membaca buku. Masih bisa menonton film, bercengkrama, atau ke pantai yang aku suka. Masih bisa bersenang-senang. Tetapi pasti lebih menyenangkan kalau kamu masih ada.

Karena setiap rasa yang dulu kamu beri, mengendap disini. bersama setiap "Selamat pagi, Kamu!" yang tidak pernah absen dari layar hp-ku setiap pagi. Bersama juga senyumanmu yang bisa tiba-tiba muncul begitu saja dan mewarnai hari. Dan juga bersama scene terakhir yang kutangkap ketika pada suatu malam kamu memutuskan untuk pergi.

Aku tau itu akan datang. Hanya saja cintaku terlalu membutakan. Aku menyadari itu ketika "Selamat pagi, Kamu!" -mu mulai tidak ada lagi. Aku menyadari itu ketika kapanpun aku meminta bertemu, kamu selalu mencari alasan untuk menghindari, Aku menyadari itu ketika kapanpun aku meneleponmu, kamu malas-malasan menjawabnya, dan dengan cepat kemudian menutupnya lagi. Tetapi itu tadi, cintaku terlalu membutakan. Sampai hal yang seharusnya kusadari, aku tutupi sendiri.

Sekarang, aku merasakan kehilangan yang seharusnya sejak dulu sudah kuantisipasi. Meratapi alasan-alasan yang kubuat ketika 'pelan-pelan menghindarmu' aku tutupi.

Tetapi mungkin bila nanti, pada akhirnya aku sanggup mengusir rasa yang sebelumnya tak mau pergi, membunuh rinduku sampai tak berani muncul lagi, aku akan kembali. Kembali menemuimu dengan berani dan tersenyum lagi.

Tapi tidak sekarang. Sekarang rasa itu belum sanggup aku lepaskan. Aku masih sering tiba-tiba teringat kamu ketika terbangun ditengah malam. Aku masih sering tiba-tiba melamunkanmu dengan perasaan tidak karuan. Aku masih sering membayangkanmu kalau tiba-tiba teleponku berbunyi, darimu, untuk permintaan maafmu. Atau tiba-tiba kamu muncul ketika aku pulang, berlutut, menyesal, sambil membawa bunga dan mengajakku kembali.

Jatuh cinta seperti dulu lagi.

Tetapi seperti biasa, Harapan hanya bermakna dua. Yang tepat memberi semangat, yang tidak tepat malah melukai dengan sangat.

Kamu termasuk harapan yang kedua. Selalu berhasil membuatku terluka.

Mungkin bila nanti aku sudah bisa melepaskan semua (karena memang sudah waktunya) aku akan menemuimu sambil tersenyum dan tertawa lebar seperti biasa, seperti saat belum ada 'kita'. Jadi kalau suatu hari kita bertemu lagi, dan aku sudah bercanda dan tertawa seperti biasa, kemungkinannya cuma dua:

Kalau waktunya dekat, berarti aku sedang berpura-pura. Kalau waktunya sudah cukup lama dari sekarang berarti rasa itu memang sudah tidak ada.

Aku sudah berhasil melepaskannya.

Senin, 01 Desember 2014

Tanpamu




Aku menulis ini karena akhirnya aku bisa menyadari kalau ternyata aku masih bisa berjalan lagi.

Kalau ternyata, kehilanganmu bukanlah akhir bagi duniaku. Mungkin akhir dari cerita bahagiaku yang ini, tapi bukan akhir dari cerita bahagiaku yang lain. Kenyataannya hidupku terus berjalan sampai sekarang, masih bisa tertawa, masih bisa melakukan hal-hal yang dari dulu biasa kukerjakan setiap harinya. Aku hanya harus melalui kesedihan yang sementara dan beratnya melepaskan yang juga hanya sementara. Tapi pada akhirnya, aku akan tetap bisa baik-baik saja.

Aku menulis ini karena akhirnya aku menyadari kalau bahagiaku masih ada di masa depan. Mungkin dulu aku yang tergesa-gesa memutuskan bahwa kamu adalah bahagiaku yang selamanya. Ternyata, tidak demikian. Mungkin Tuhan menyiapkan yang terbaik untuk yang terakhir, di waktu yang menurut-Nya tepat. Dan itu pasti bukan kamu dan juga bukan waktu sekarang. Karena kamu membuatku pergi meninggalkanmu.

Yang harus aku lakukan tanpamu hanya bertahan, lebih memperhatikan sekitar, dan tidak fokus pada kehilangannya. Karena, seberapapun hidup menjatuhkan seseorang, orang itu tetap memiliki kekuatan untuk memilih berlama-lama meratapi kejatuhannya atau bangkit kembali untuk menyambut bahagianya yang lain. Aku memilih untuk bangkit kembali, merebut bahagiaku kembali.

Jadi, aku sudah berdiri lagi disini. Aku sudah siap untuk jatuh cinta lagi kembali. Untuk berbahagia lagi. Sudah juga menghapusmu dari hatiku. Memang tidak menghapus kenangannya, hanya membersihkan ruangannya untuk nantinya bisa ditempati orang yang lebih baik lagi. Yang lebih tepat untukku menurut Tuhan, bukan yang tepat bagiku menurutku sendiri. Karena kalau dihatiku masih ada kamu, kasihan orang lain yang lebih mencintaiku dan berusaha masuk ke hatiku.

Jadi, sebenarnya, tanpamu tidak apa. Aku akan sakit sementara. Tetapi, selama aku tidak pernah kehilangan hati dan fikiranku sendiri, aku rasa aku akan baik-baik saja. Karena sebelum ada kamupun, aku pernah berbahagia, jadi kebahagiaanku sudah pasti bukan tergantung pada kamu:)

Sabtu, 08 November 2014

Kau Punya Pilihan




Surat ini saya tulis untuk perempuan-perempuan di luar sana, yang tak bisa saya tatap matanya, saya peluk tangisnya, saya dengarkan luka-lukanya, dan saya tampar pipinya.


Surat ini saya tulis untuk perempuan-perempuan yang sudah terlalu akrab dengan rasa sakit hati.


Dear, Perempuan.

Saya tau betul rasanya jatuh cinta, sama baiknya seperti yang kamu tau. Ada debar, percik bahagia, dan bunga bermekaran di dalam dada. Saya juga tau bagaimana rasanya kecewa, saat tangis dan luka melebur jadi satu di malam-malam tak berpurnama yang terlanjur kesepian.

Sebab cinta membahagiakan, maka sudah seharusnya kita mempertahankan.

Banyak laki-laki tak tau, bahwa sesungguhnya, dengan memaafkan, perempuan sudah berjuang mengalahkan egonya sendiri.

Hem. Begini Begini..

Pernah tidak mengalami pertengkaran hebat, lalu kau menangis sesenggukan, bahkan sampai ketiduran, atau kau jadi malas berbicara dan inginnya diam saja, malas pula mendengarkan. Pernah? Nah, di akhir pertengkaran, bertemulah kau dengam momen "maaf-memaafkan" dengan si laki-laki yang kebetulan kali itu dia yang meminta maaf duluan,

Dan kau memaafkan.

Dan itu adalah satu perjuangan.

Banyak laki-laki yang kemudian bilang, "yang minta maaf aku terus, dia mah nggak pernah" . Salah satu teman laki-laki saya pernah curhat seperti itu. Saya sih tertawa saja. Lah memang, kalau si laki-laki yang salah kan mereka yang harus meminta maaf, kecuali kalau memang si perempuan yang salah, baru deh boleh ngambek-ngambek kenapa si perempuan tidak meminta maaf. Ah, cukup soal minta maaf disini. Perdebatan soal "siapa duluan yang seharusnya meminta maaf" saya rasa tidak akan habis.

Intinya, saat perempuan memaafkan, artinya ia (juga) telah melakukan satu perjuangan.


Dear man. Note that.

Anyway, surat kali ini tidak saya tujukan kepada laki-laki (yang saya yakin setelah membaca tulisan saya ini akan langsung berteriak ramai "IYAA, MEMANG PEREMPUAN SELALU BENAR! LAKI-LAKI MAH APAAA ATUH"), Tapi saya tujukan untuk teman-teman perempuan.

Mm, begini.

Kita hidup hanya sekali, untungnya.. jatuh cinta bisa berkali-kali. Jadi mari hidup sebahagia-bahagianya. Temukan seorang laki-laki yang bisa kau jadikan teman, pelindung, saudara, dan kekasih. Temukan laki-laki yang memuliakanmu, memperjuangkanmu, dan mencintaimu sama besarnya seperti kau mencintainya.

Jadi, jika kau adalah salah satu dari perempuan-perempuan "sabar" (tentu dengan kasus yang lebih bervariasi yang mungkin tak pernah terlintas dalam kepala saya sebelumnya) maka ini yang bisa saya katakan

Lepaskan apa yang membuatmu terluka, lalu berbahagialah.

Melangkahlah, sebab dengan atau tanpa dia, dunia akan tetap sama. Berwarna sebagaimana seharusnya.

Lekas usap air mata, lalu bangkitlah.

Jangan menangisi keadaan tapi kau tetap menegakkan kaki disana, tak beranjak ke mana-mana.

Tak ada yang salah dengan melepaskan sesuatu yang memang tak seharusnya kau genggam. Yakin dan percayalah bahwa Tuhan telah menyiapkan skenario lain untukmu, untuk sabarmu, untuk cintamu setelah ini.

Takut sedih?

Aduh, Sini, Biar ku peluk kau.

Dengarkan baik-baik, kesedihan akan selalu datang selama kau masih mampu merasakan kebahagiaan. Mereka adalah pasangan, saling melengkapi. Yang satu ada karena yang satu lagi tercipta. Satu paket datangnya, dan kau tak bisa menolak.

Maka jika setelah putus dengan laki-laki yang tak pantas kau perjuangkan, lantas kau merasa berduka, sedih, dan merasa dunia ini tak adil, merasa lagu patah hati begitu menusuk nusuk jiwa.. kuberitau kau bahwa itu adalah perasaan yang wajar. Sebab tak ada yang mampu menanggapi kehilangan dengan bahagia-bahagia saja. Jika setelah putus kau ingin langsung merasa bahagia, then be it!

Berbahagialah. Tulis hal-hal yang membuatmu bahagia, lalu lakukan. Tulis hal-hal yang membuatmu bersyukur karena telah lepas darinya, lalu ikhlaskan.

Jangan hanya diam termenung, menunggu ditemukan laki-laki seperti di dalam dongeng-dongeng "happily ever after" kesukaanmu itu.

This is the reality.

Tak ada satupun laki-laki yang datang padamu jika kau tak membukakan pintu dan mengurung diri dalam rumah kesedihanmu!

"Berhentilah mencari laki-laki untuk membuatmu bahagia. Mulailah menjadi perempuan bahagia yang di cari laki-laki"

Jika kau merasa berjuang sendirian, merasa menangis sendirian, merasa sabar sendirian, maka dengan segenap amarah, biarkan saya menampar keras pipimu.

Sadarlah.

Kau punya pilihan.

Benahi.

Atau tinggalkan.



Sabtu, 18 Oktober 2014

Delapan Belas Oktober



Saat membaca tulisan ini, mungkin kau telah menapaki hidup begitu jauh. Ada banyak rasa yang telah kau cecap; kebahagiaan, kesedihan, kekecewaan, kehilangan, haru, senang, lucu, dan rasa lainnya yang datang silih berganti. Menjadi satu kesatuan utuh dalam hidup yang tak mungkin bisa kau hindari. Tapi, seperti yang pernah kau pahami, semua rasa yang ada hanyalah sekeping nuansa di dalam hati, Sifatnya hanya sesaat dan sementara. Suatu kali kau menggenggam, dan lain waktu kau harus mampu melepaskan. Maka, aku berpesan, bila suatu saat nanti kau berjalan mengarungi kehidupan dan merasakan kepahitan dari rasa sedih dan kehilangan yang mendalam, ingat-ingatlah lagi bahwa itu hanyalah sesaat dan sementara. Kau hanya perlu menjalaninya dengan seksama, lalu menyelesaikannya dengan tabah. Sebab, itu hanyalah sekeping perasaan di dalam hati. Tidak lebih besar dari kepingan kebahagiaan lain yang menanti kau untuk menggenggamnya. Biarlah bekas luka yang tersisa menjadi bukti dari ketegaran jiwa yang kau punya.

Saat membaca tulisan ini, mungkin banyak mimpi yang sedang atau sudah kau perjuangkan. Ada beberapa yang mampu kau raih, sisanya yang lain masih begitu abu dan sangsi untuk dapat tercapai. Tapi tak apa, berikan saja usaha terbaik dalam mengupayakannya. Berserah bukan berarti menyerah, tetapi pasrah selepas usaha berlelah-lelah. Maka, aku berpesan, bila dalam perjalananmu nanti kau merasa letih, ingat-ingatlah lagi bahwa itu adalah proses yang kau jalani. Engkau tak pernah tau apa yang Tuhan persiapkan untukmu, yang bisa kau lakukan hanyalah menjalani apa-apa yang kau yakini. Selesaikanlah apa yang telah kau mulai. Sekalipun kau gagal, itu akan membuatmu paham, mana yang pantas kau perjuangkan dan mana yang semestinya kau lepaskan. Bersabarlah, sebab kesabaran adalah sebaik-baik teman perjalanan. Kuatkan lagi pijakan kakimu dalam melangkah. Perjalanan hidup berupa lorong-lorong hitam paling pekat. Kau akan menemukan cahaya hanya jika kau mampu berbesar sabar melewatinya. Maka, tenang saja, akan selalu ada kebahagiaan yang menanti di ujung perjalanan. 

Saat membaca tulisan ini, mungkin banyak sahabat terbaik yang mengelilingi hidupmu. Menjadi teman bagi hari-hari panjangmu. Kawan berbincang yang tak menyela pembicaraan, pendengar yang baik bagi ide-ide dan keresahan yang ada di dalam kepalamu. Ruang berbagi tawa dan kesedihan pada setiap waktu yang kau luangkan. Tapi, sebanyak apapun teman, engkau tetaplah berdiri di atas kakimu sendiri. Maka, aku berpesan, bila suatu hari sahabat-sahabatmu satu per satu pergi untuk mewujudkan cita-cita mereka masing-masing, jangan merengek seperti anak kecil yang kehilangan kembang gula. Dukung mereka semampu yang kau bisa. Berikan kenangan terbaik pada mereka. Sehingga, jika kelak kau semakin jauh, engkau dirindukan sebagai kenangan yang selalu ingin mereka rengkuh. Jadilah sahabat terbaik bagi mereka. Sebab, mereka telah memberikan yang terbaik sebagai sahabatmu.

Saat membaca tulisan ini, mungkin ada seseorang yang begitu kau cintai. Segenggam hati yang dengan tulus memberikan segalanya untukmu. Ia yang menyuburkan bunga-bunga dan memberi warna-warna bagi tandusnya hatimu yang kesepian. Dekap yang pertama kali memeluk saat kau terjatuh. Tangan yang menggenggam untuk menemanimu menempuh perjalanan. Maka, aku berpesan, jaga ia dengan sebaik-baiknya. Perjuangkan sebagaimana kau ingin di perjuangkan. Pertahankan ia dengan setabah-tabahnya kesabaran. Sebab, ia adalah yang paling mengenalmu selain dirimu sendiri. Jangan biarkan ia menghilang hanya karena lebih memutuskan untuk pergi. Cintai ia dengan segenap kasihmu. Sayangi ia dengan selembut hatimu. Lindungi ia setegas jiwamu. Sebab, kau adalah istimewa karena telah memilikinya.

Saat membaca tulisan ini, mungkin kau sedang merasa teramat kesepian karena semua yang kau miliki satu per satu menghilang. Tapi, kau tak perlu bersedih dengan seperih pedih rasa. Engkau tak pernah benar-benar kesepian, sebab aku selalu ada. Tak pernah jauh dari hidupmu. Begitu erat, begitu dekat. Maka, pejamkan sejenak matamu, kunjungi aku di kedalaman hatimu. Aku adalah dirimu sendiri: keyakinan yang kau punya saat tak ada lagi yang bisa kau percaya.

Bila suatu hari kau tak lagi tau apa yang harus kau lakukan, buka lagi lembaran tulisan ini. Semoga menjadi semacam pengingat bahwa kau pernah begitu yakin atas hidupu sendiri. Aku mencintaimu.

Sebaris harapan berjejer rapi tanpa api
Tapi hanyalah lebih terang dari matahari
Hari ini
Semoga
Malaikat mendekapmu erat 
Diiringi senyum pengusir sepi
Hari ini bahagia, apalagi esok..


Dari seseorang yang mencintaimu begitu dalam.

Senin, 22 September 2014

Menyerah Pada Kegagalan


"Sesekali, kau perlu menyerah pada kegagalan. Untuk sekedar menerima bahwa kau memang tak bisa. Lalu mencari jalan lain untuk menemukan kebahagiaan baru"

Kita pernah mempertahankan sesuatu-- cinta, impian, atau apa saja yang menurut kita adalah kebahagiaan. Hingga menafikan luka, rasa sakit, kepedihan, dan kegetiran yang bertubi-tubi menghadang. Hanya karena begitu kukuh meyakini bahwa itu adalah kebahagiaan yang paling benar. Tak peduli lagi pada kebaikan diri sendiri. Wajah yang bercahaya saat melangkah kali pertama perlahan meredup, dipenuhi coreng-moreng. Kebahagiaan yang kita kira akan tergapai dan terpeluk, justru menjauh. Tapi, bukannya berhenti, justru kita malah meyakini diri sendiri bahwa kebahagiaan itu mampu kita raih. 

Kita pernah melupakan sesuatu--wajah, suasana, jalan, dan segala hal baru di tempat yang lain-- demi mempertahankan hal yang bukan menjadi milik kita. Merelakan diri sendiri untuk merasakan sakit dan luka tiada habisnya. Padahal, sesuatu yang bukan menjadi milik kita, sekeras apapun kita berusaha, tetap tak akan pernah menjadi milik kita. Sesuatu yang bukan diciptakan untuk kita, pada akhirnya akan tetap berlalu dan menghilang juga.

Maka, kemarilah.... Duduklah dengan sabar disampingku. Akan kusampaikan sebuah rahasia besar. Tak semua orang dapat memahami ini dengan baik. Jadi, dengarlah dengan hati yang lapang; "Akan selalu ada yang lebih baik, bahkan dari kebahagiaan yang kau kira paling benar. Kau hanya perlu membuka matamu lebih lebar lagi, memperluas langkah kakimu lebih jauh lag, membesarkan hatimu sendiri untuk menyerah pada kegagalan, lalu menerima dengan tulus bahwa kau tak diciptakan untuk meraihnya. Kelak, akan datang hal terbaik yang benar-benar kau butuhkan, bukan sekedar keinginan yang kau angankan. Sesuatu yang dipersiapkan Tuhan untuk menjadi milikmu yang teristimewa; kebahagiaan yang sempurna"


KEEP YOUR HEADS UP DAN STAY STRONG , IT'S TIME TO LET GO AND MOVE ON!
 

Senin, 15 September 2014

Sebuah Peluk


Aku sering menemukan diriku sendiri terbangun di tengah malam dengan nafas memburu dan linglung, tak tau harus melakukan apa. Atau seringkali aku terperangkap dalam sebuah mimpi yang aku sendiri sadar bahwa aku sedang bermimpi tapi tak sanggup bangun. Aku pernah mencoba menampar diriku sendiri beberapa kali di dalam mimpi, tapi tak bangun juga hingga aku menangis keras-keras. Aku merasakan hangat air mata yang meleleh di sudut mataku tapi aku tak sanggup bersuara selain sesenggukan, sadar bahwa aku sedang bermimpi dan benci karena aku tak sanggup bangun saat itu juga.

Pernahkah kau bermimpi lalu yakin sesuatu hal buruk akan terjadi tepat ketika kau bangun dan sibuk mengatur nafasmu yang berkejaran?

Lalu tidur menjadi sesuatu yang menakutkan.

Orang tuaku bilang, mungkin aku hanya lupa membaca doa sesaat sebelum tidur padahal aku selalu membaca doa. Tak pernah kurang satu doapun seperti yang dulu pernah mereka ajarkan.

Sahabatku bilang, mungkin aku hanya kurang makan dan minum padahal aku selalu memastikan perutku kenyang sebelum tidur supaya tak terbangun tengah malam karena kelaparan. Lagipula aku tak menyimpan makanan apapun di kamar untuk ku makan kalau-kalau aku terbangun.

Lalu tidur menjadi sesuatu yang menakutkan.

Percayakah kau pada jimat? Sesuatu yang bertuah, mengusir segala hal yang buruk, lalu mendatangkan keberuntungan.

Aku pernah menemukan diriku begitu terkejut, terbangun tengah malam dengan seluruh badan gemetar, gigi bergemelutuk dan nafas tercekat. Lalu aku temukan peluknya, sesuatu semacam jimat yang ajaibnya membuatku langsung merasa tenang. Aku mendekapnya erat, menangis di dadanya. Tak sampai tiga menit, aku sudah tertidur lagi. Lebih pulas.

Paginya, saat ia bertanya apa aku semalam mimpi buruk, aku berusaha keras mengingat. Sungguh aku hampir lupa. Padahal biasanya, aku akan sulit tidur kembali setelah terbangun karena mimpi dan akan selalu ingat mimpi itu saat hendak tidur sampai tiga hari kedepan.

Dia adalah sebaik-baik jimat.

Pernahkah kau merasa bahwa kau ingin terjaga di dada bidang seseorang, menikmati belaian tangannya di punggung, wangi aroma nafasnya dan gerakan dadanya yang teratur? Lalu kau merasa tak penting itu terjaga atau bermimpi sebab dalam keduanya, kau akan bertemu dengan orang yang sama dan rasanya sama-sama membahagiakan.

Itu yang aku rasakan. Saat merajut lelap di dekap dadanya.

Dia adalah sebaik-baik jimat.

Maka setelah kau membaca tulisanku ini, adakah kau mengingat seseorang? lalu kau ingin berlari, mengendus wanginya dan mendekapnya erat?

Maka kau setelah membaca tulisanku ini, adakah sedikit saja air mata meleleh karena buncah rindu tiba-tiba menemukan perciknya di dalam dada? Lalu tanganmu gemetar, sibuk mencari genggam yang selama ini menguatkan?

Maka kau setelah membaca tulisanku ini, masihkah kau menginginkan jawaban?

Sebab dia adalah sebaik-baik jimat.

Sebab dia adalah kau.

Aku tunggu kau di sudut sesal, saat aku terlalu terlambat menjawab pertanyaan " apa arti aku bagimu?" hingga akhirnya kau hilang, tak meninggalkan jejak apa-apa untuk kucari dan ku ikuti lagi.

Maka setelah membaca tulisanku ini, maukah kau kiranya pulang, sayang?

Sebab mimpiku memanggilmu kembali. Saatnya aku terlelap dalam dekapmu lagi.

Jumat, 05 September 2014

Kamu, Baca Ini.




Kamu, ketika kamu membaca ini, kamu akan mengerti kenapa aku menuliskannya untukmu.

Aku tau sakitnya seperti apa. Aku pernah disana dan pernah merasakannya. Tapi, tidak apa masih banyak doa yang bersamamu. Dan nanti, kamu akan mengerti kalau sakitnya hanya sementara. Tapi nanti, bukan sekarang. Bertahan dulu, karena sakitnya pasti berlalu.

Pada saat kamu membaca tulisan ini, bisa jadi sakitmu sudah pergi, bisa jadi juga belum. Tapi, aku harap sakitmu sudah pergi. Aku harap kamu sudah menemukan rahasia melepaskan dan kembali berjalan.

Kalaupun belum, tidak apa. Suatu hari, kamu pasti akan berjalan lagi. Mungkin dibantu oleh seseorang yang mengajakmu berdiri dan berjalan lagi sampai ke sebuah titik nyaman yang membuatmu sembuh dari rasa sakitmu itu. Yang susah payah meyakinkanmu bahwa tidak banyak kebahagiaan di masa lalu. Yang mungkin dia menggandeng atau memapahmu kalau perlu, asal kamu terus berjalan. Pelan. Selangkah demi selangkah.

Kamu mungkin akan terperosok jatuh, tapi dia akan membantumu berdiri. Kamu mungkin juga akan tertarik kembali ke masa lalu. Tapi dia akan tersenyum dan menarikmu menjauh lagi. "Kita berjalan dulu", katanya. "Kalau kamu tidak suka, kamu boleh kembali meratapi masa lalumu". Ketika dia mengatakan itu, dia tau kamu tidak akan memilih itu. Dia percaya kamu, jauh dari kamu mempercayai dirimu sendiri.

Pada saat itulah kamu terhenyak dengan kata 'meratapi'. Iya. Kamu ternyata selama ini memang terlalu meratapi. Membuang waktumu hanya untuk terus menghayati setiap rasa sakitnya, kehilangannya, kesedihannya. Kamu lupa, seberapapun indahnya pemandangan di luar, tidak akan terlihat jelas kalau jendelanya berembun. Harus di bersihkan dulu jendelanya, dan lihat keluar. Harus di bersihkan dulu ratapanmu, baru bisa melihat bahwa ada kebahagiaan yang banyak didepan. Syukurlah kamu menyadari sebelum semuanya terlambat.

Tapi, kalaupun kamu sudah sampai ke titik nyaman, kadang, lukanya tidak hilang, seringkali justru meninggalkan bekas. Tidak apa, yang penting, sakitnya tidak terasa lagi, bukan? Bisa jadi ketika kamu mengingat bekasnya, malah akan membuatmu bercerita bangga. "Ini, luka karena...." dan berakhir dengan, "Pada akhirnya, aku bisa melepaskannya". Lalu kamu tersenyum mengenang betapa jatuhnya kamu ketika itu, tapi ternyata kamu kuat menghadapinya. Kamu bahkan tidak mengira kamu bisa sekuat itu sebelumnya.

Sejak itu, sampai membaca tulisan ini (dan semoga juga sampai nanti) kamu selalu tau bahwa apapun yang terjadi , kamu sebenarnya kuat, kamu hanya jangan fokus pada kejatuhannya. Tapi lebih kepada apa yang kamu miliki. Bertahan dan terus berjalan. 

Kemudian, pasti nanti, kamu akan bisa bermimpi lagi, dan hei, mungkin juga jatuh cinta lagi. Menikmati kembali rasa hangat yang serupa seperti sebelum kamu kehilangan. Punya gairah yang meluap-luap dan membuatmu susah terlelap. Kali ini, kamu harus mengejarnya, sekuat kamu bisa. Pantaskan dirimu untuk mimpi dan cinta yang ini. agar kamu tidak gagal atau kehilangan lagi. 

Oya, jangan lagi sekedar menjadi diri sendiri, itu tidak akan lagi cukup. Jadilah yang terbaik dari sendiri, Itu baru cukup. Sekedar jadi diri sendiri akan membuatmu terus mencari alasan bahwa kamu sudah berusaha maksimal dan bahwa inilah apa adanya kamu. Tidak, tidak. Kamu bisa melakukan lebih baik dari itu dan kamu tau benar itu. Jadi berhenti beralasan menjadi diri sendiri dan mulai menjadi yang terbaik yang kamu bisa lakukan untuk dirimu.

Kalaupun nanti kamu lelah, itu wajar, tidak apa. Istirahatlah sebentar. Tapi setelah itu, bangun dan berjalanlah lebih cepat lagi, kalau perlu berlari. Sekencang-kencangmu. Demi Tuhan, kejarlah yang kamu inginkan dengan apapun yang kamu bisa. Jangan lagi kamu kehilangan kesempatan. Lakukan saja dulu itu dan jangan dulu mengeluh. Ah, bahkan jangan pernah mengeluh. Mengeluh selalu membuat apapun yang kamu lakukan bertambah berat.

Dan setelah berjuang sekeras itu, kalaupun kemudian kamu tidak mendapat mimpi dan cintamu yang ini, tidak apa. Setidaknya kamu menjadi seseorang yang jauh lebih baik dari kamu yang sebelumnya. Kualitasmu sudah meningkat. Dan percayalah, kamu akan mendapatkan apa yang pantas untukmu. Jadi, semakin baik dirimu, kamupun akan mendapatkan yang sebaik kamu. Mungkin lebih, jadi lelahmu tidak pernah rugi sama sekali.

Mungkin kamu juga akan jatuh, karena untuk menggapai mimpi dan cintamu, tidak pernah semudah mengedipkan matamu. Akan ada hal-hal keras yang menghantammu. Tidak apa. Apapun yang terjadi, kamu hanya harus bangun dan berjalan lagi. Karena kalau kamu belum mati, berarti kamu masih baik-baik saja. Kamu hanya jatuh. Melukaimu, tapi tidak membunuhmu. Gunakan semua kekuatanmu untuk bangun dan berjalan lagi. Karena yang harus kamu lakukan untuk berbahagia hanya berjalan lagi.

Selama kamu terus berjalan, pasti akan ada suatu titik yang hatimu mengatakan. "Ini. Disini penuh kebahagiaan" Maka, kamu memutuskan untuk berhenti berjalan dan tinggal. Pun ketika itu terjadi, kamu menemukan kebahagiaan, bagikan. Jangan kamu simpan sendiri.

Jangan khawatir, kebahagiaan tidak pernah habis. Ketika membahagiakan, justru kamu menerima lebih banyak kebahagiaan. Sama seperti orang tua yang membelikan anaknya sepeda atau mainan. Anaknya berbahagia, tapi orang tuanya jauh lebih berbahagia ketika naknya berbahagia. Lalu hangatnya menyebar dari mata, ke hati, lalu kemana-mana. Kebahagiaan itu tidak pernah berkurang ketika dibagikan. 

Terakhir, sebelum kamu selesei membaca tulisan ini, kamu harus mengingat satu hal "Seleseikan apapun yang kamu mulai" Seperti pertandingan sepakbola. Tidak peduli berapa banyak gol disarangkan ke gawangmu, kamu harus berman sampai pertandingan selesai. Kita tidak bisa berhenti di tengahnya hanya karena kita sudah kemasukan banyak gol dan tidak mungkin menang. Pertandingan adalah pertandingan, selesaikan. Hidup adalah hidup, selesaikan. Kalaupun kamu dihantam dari segala sisi kehidupan, jangan berhenti. Selesaikan 'pertandingan' mu. Jadilah orang yang berjiwa besar. Terima kekalahan jika memang kamu kalah, dan berbagilah kebahagiaan jika kamu menang

Ini bukan ramalan, ini hanya tulisan. Kamu akan membacanya dimasa depan. Entah beberapa bulan lagi, setahun, atau jauh setelah ini. Yang penting, ketika kamu membaca tulisan ini, kamu ingat, bahwa juga yang menulis tulisan ini. Dan kamu tau bahwa segala sesuatu pasti akan terjadi, seperti yang kamu tuliskan sekarang ini, jatuhnya, sakitnya, perjuangannya, semuanya. Jika kamu merasa lemah, baca tulisan ini lagi, lalu bangun dan berjalan lagi. Terus saja sampai 'pertandingan' mu berhenti. Apa pun, jangan sampai kamu yang memutuskan untuk berhenti. Biar Tuhan yang memutuskan kapan kamu boleh berhenti. 
Tulisan ini, aku dan kamu akhiri disini. Dariku dan untukku sendiri

Untukku sendiri di masa depan nanti. Bahkan satu menit ke depan adalah juga masa depan.

Senin, 25 Agustus 2014

Jarak



Bagian terbaik dari jarak adalah kita; dua pasang lengan menengadah untuk berdoa. Berharap waktu berbaik hati mengantarkan temu.

Jarak adalah jeda. Sekat yang dipersiapkan Tuhan untuk diisi dengan doa. Bersabar menunggu dalam menanti temu. Menjadikannya sebagai kesepian yang hangat meski sendu sesekali melekat. Tak apa, toh hal yang indah, baik dekat maupun jauh tetap saja akan tetap terlihat dan terasa indah. 

Aku mencintaimu; dalam dekat, dalam jarak, dalam lekat, dalam sekat. Sebab aku mencintaimu, maka jarak dan waktu akan terperangkas untuk merindui kamu. Kenyataan bahwa aku merasa begitu di cintai olehmu adalah anugrah terbaik. Memilikimu utuh tanpa cela adalah keistimewaan yang sempurna. Biarlah sesekali jarak membuat kita jauh, agar kita dapat menjaga rindu dengan sebaik-baiknya. Sebab apalagi yang membuat pertemuan menjadi sedemikian istimewa selain karena rindu yang sama sama kita jaga?

Jarak adalah ujian. Perkara yang disiapkan Tuhan untuk mengetahui sejauh mana kita mampu bertahan. Sederhananya begini, jika dalam rentang jarak terbentang kita mampu melewati setiap permasalahan yang menghadang, apa lagi jika kita melawannya dengan terus bergenggaman? Kenyataan bahwa hati kita saling terpaut dalam setiap pergulatan perasaan adalah karunia yang mesti sama-sama kita syukuri. Bukankan syukur adalah cara agar kita tetap merasa cukup?

Aku mencintaimu, dalam peluk, dalam pelik, dalam senyum, dalam murung. Sebab aku mencintaimu, maka semua menjadi baik-baik saja. Kenyataan bahwa kita saling mengait dan tetap bersama adalah kebahagiaan yang paling benar. Tak peduli berapa lama berbesar sabar saat menunggu, toh pada akhirnya kita akan sama-sama memperjuangkan temu. Aku tak lagi menjadi aku, kamu tak lagi menjadi kamu. Aku dan kamu telah menjadi kita. There's no long distance about love, it always finds a way to bring hearts together. No matter the miles in between.

Akan datang pagi dimana jarak kita hanya satu dengusan nafas saja. Saling mendekap erat dengan hidung menempel. Membunuh rindu satu persatu dalam pelukan. Maka, bersabarlah. Akan segera kupangkas jarak. 

Aku mencintaimu
Lebih besar dari jarak yang harus kutempuh.


Jumat, 01 Agustus 2014

Pada Sepotong Malam Hujan Setelah Kenangan



Malam datang lagi. Rindu mencekam dengan bahasa hujan yang dingin dan kesepian. Aku duduk mendekap lutut, bersama segelas teh, kue kering dan repih-repih perasaan yang berceceran di setumpukan catatan rencana yang tak jadi. Kenyataan menampar sadar bahwa selepas hilang tak ada lagi yang bisa di rapikan.

Pada akhirnya, aku dipaksa menyerah menerima keadaan. Meratap diri untuk tabah menerima kekalahan-kekalahan. Beberapa orang pernah berkata, menyerah bukan berarti kalah, itu hanya menjadi semacam pengingat bahwa ada beberapa hal dalam hidup yang tak dapat di paksakan. Mungkin memang benar, hidup adalah sekumpulan kompromi untuk menyesuaikan diri. Baik-buruk, bahagia-luka, sedih-tertawa, hanya sekeping rasa yang hanya bisa dirasakan saat mau memilih untuk menikmati yang mana.

Tapi harus kau ingat, aku tak pernah memaksa agar kau selalu berada di sini, menemani, untuk waktu yang lama atau bahkan selamanya. Aku hanya memperjuangkan kebahagiaan yang ku miliki, kebahagiaan itu kamu. Tapi nyatanya kebahagiaanku bukanlah menjadi kebahagiaanmu. Sedihku, ternyata bukan lagi menjadi sedihmu. Aku lelah menjadi asing di dalam kepalamu. Dan kau, telah menjadi sedemikian berada di dalam ingatanku.

Tapi baiklah, toh sekuat apapun aku berusaha, hal yang tak mungkin bisa menjadi milikku, tetap saja tidak akan bisa bersama. Sekeras apapun aku mencoba, sesuatu yang seharusnya pergi akan tetap meninggalkan juga. Maka, disinilah aku sekarang. Menyendiri diantara kesepian tak bernama. Mengenang kau yang berlalu dan tiada. Membenahi kita yang kau abaikan dengan doa-doa "semoga kau berbahagia, dengan sekeping hati baru yang bukan aku"

Senin, 30 Juni 2014

Siapa Yang Peduli?


Tuhan selalu memiliki alasan untuk setiap hal yang ia kehendaki terjadi dalam hidup kita. Tuhan menciptakan kesedihan juga ada alasannya. Betapa mata hati kita jika kesedihan tak ada. Bukankah karena kesedihan maka kebahagiaan terasa membahagiakan?

Layaknya patah hati. Bukankah karena patah hati maka jatuh cinta terasa begitu istimewa? Bukankah karena lapar maka kenyang terasa menyenangkan?  Bukankah karena hilang maka keberadaan terasa begitu melegakan?

Hebatnya, Tuhan menciptakan dua hal yang bertolak belakang itu sebagai satu pasangan. Agar mereka saling mengingatkan, saling menyeimbangkan.

Jadi kisahmu tentang perjuangan yang sendirian ya? Tentang memuliakan yang hanya dibalas ketidakpedulian? Atau sebenarnya seperti aku? Tentang cinta yang hanya untuk satu hati tapi dibalas dengan cinta sisa dari pembagian hati yang lain? Tentang perhatian yang kau fikir hanya tertuju padamu tapi rupanya dibagi dengan orang-orang selainmu? Tentang rindu yang tersedu pada orang yang kau fikir hanya mencintaimu?

Aku paham betul jika Tuhan menciptakan kebahagiaan dan kesedihan berpasangan, tapi aku tak mengerti mengapa tega ia ciptakan hati yang begitu batu. Hati yang begitu serakah dengan kebahagiaannya sendiri. Hati yang tega mencampakkan kepercayaan dan harapan-harapan yang terlanjur mengudara. Hati yang tak mengerti cara berterimakasih pada bongkahan cinta, perhatian, dan kepedulian yang ia terima. Aku tak mengerti.

Tapi siapa yang peduli aku mengerti atau tidak kan? Toh waktu akan tetap menggerakan detik-detiknya, bumi tetap berotasi seperti biasa, semesta tetap sibuk dengan urusannya dan dia tetap tak akan mencintaiku seperti aku mencintainya. Iya kan?

Aku dan dia mungkin adalah sepasang yang tidak di ciptakan untuk berjalan beriringan, atau mungkin hanya lelucon murahan cinta yang bertandang tanpa membawa belahan hatinya; kepercayaan. Atau mungkin aku sebenarnya hanya hati yang telah lalai mengingatkan hati yang kucintai bagaimana caranya untuk setia.

Aku menulis ini sambil ditemani secangkir teh yang membuatku mengernyitkan dahi. Teh kali ini aneh rasanya. Rupanya aku membiarkan air mata jatuh kedalamnya.

Aku sudah menyelesaikan urusan hatiku. Tak ada. Tak ada kabar baik.

Selasa, 10 Juni 2014

Bagi Aku, Kelelahanmu


I don't have much to give, but i don't care for gold

What use is money, when you need someone to hold?


Tak ada yang lebih menyenangkan dari melihatmu menertawakan hal-hal sederhana yang kamu temukan di harimu yang melelahkan. Dan tak ada yang lebih menyenangkan dari menemukan kenyataan bahwa di tengah harimu yang melelahkan, aku masih jadi seseorang yang pertama kali kamu ingat untuk bisa, mendengar kebaikan yang tersisa dari hal-hal sederhana yang tersisa dari kepunyaanmu. Kelelahanmu, mengingatkanku bahwa hidup ini bukanlah sekedar menemukan bagaimana caranya bahagia, tapi bagaimana caranya tetap merasa bahagia di tengah keburukan yang kerap datang memeluk.

Kamu tau apa yang paling pertama ingin aku ucapkan padamu setiap pagi? Terimakasih karena masih bersedia memiliku di hari ini. Dan bila esok, kamu bosan melakukannya, aku tetap akan berterimakasih untuk pernah diberi kesempatan oleh Tuhan merasakan jadi bagian penting dari hari-harimu yang melelahkan. Kamu harus mengingat ini, bahwa kamu pernah jadi alasan dari kebahagiaanku.

Pernah aku bertanya pada diriku sendiri, kenapa aku bisa menyayangimu? Dan jawaban yang datang selalu karena aku merasa perlu untuk melakukannya. Menyayangimu, sudah jadi bagian dalam kebutuhan sehari-hariku. Aku perlu menyayangimu, untuk bisa bahagia. Aku perlu melihat senyummu, untuk bisa merasa kebaik-baik saja-an. Aku perlu kehadiranmu, untuk bisa meyakini bahwa kehadiranku adalah sesuatu yang kau perlukan. Kamu, membuatku memerlukan hidup ini, bukan hanya agar aku bisa selalu bersama-sama denganmu tapi juga karena rasa sayangmu, mampu membuatku menilai kehadiran diriku sendiri dengan sepantasnya. Aku akan bertahan hidup semampu yang kubisa, untuk bisa terus merasakan sayang yang kamu miliki dan juga untuk terus bisa menjadi bagian dari mereka yang tengah kusayangi.

Dulu, bertahan hidup, tidak sepenting ini.
Dulu, disayangi, tidak pernah terasa sehangat ini.
Dulu, mempercayai seseorang, tidak pernah bisa senyaman ini.

Bukan lantas kamu serta merta jadi segalanya, aku tidak akan membiarkan cinta membuat otakku jadi tumpul dan hatiku terluka.

Tapi aku juga tidak akan pernah meletakkan cintamu dekat dengan kebohongan dan ketidak tulusan.

Aku mencintaimu, dengan penuh rasa hormat atas diriku sendiri.

Maka sini

Teruslah

Bagi aku, kelelahanmu.

Rabu, 28 Mei 2014

Gone Too Soon



Kalau ada yang bilang pemandangan pantai ketika matahari tenggelam itu menyenangkan, itu tidak ada apa-apanya bagiku jika dibandingkan kalau aku bisa menikmati secangkir teh di depanku dan secangkir kopi di depanmu. Menikmati bagaimana kamu begitu seksama mendengar setiap ceritaku, menikmati bagaimana kamu duduk bersandar ke kursimu dan melipat tangan di dadamu. Aku tau, kalau kamu sudah seperti itu, berarti kamu sedang fokus kepada sesuatu.
Dalam hal ini, berarti fokus kepadaku, mendengarku, memperhatikanku. Rasanya selalu menyenangkan ketika kita berbicara, dan orang yang berbicara dengan kita, mendengarkan.

Aku tidak ingin itu berhenti. Aku ingin menikmati pemandangan yang kulihat ketika aku bercerita ini setiap hari. Diperhatikan, bukan sekedar di dengar. Dimengerti, bukan sekedar di temani.

Aku juga ingat ketika kita terdampar di sebelah toko sambil menunggu hujan reda, kamu mengenakan kaos biru dan jins hitammu, lalu aku bercerita dengan semangatnya, dan di depanku kamu senyum-senyum saja. Tidak ada yang tau, aku selalu membaca, menonton, atau mendengarkan radio mengenai apapun yang kamu suka, agar ketika bertemu denganmu seperti itu, kita bisa berbicara begitu asiknya.

Kamu tetaplah seperti itu. Menjadi seseorang yang bersedia berlama-lama bersamaku. Kamu tetaplah seperti itu. Menjadi seseorang yang paling betah menemaniku.

Itu menyenangkan. Itu menghangatkan. Itu aku jatuh cinta.

Lalu seperti sebuah komet, yang katanya indah ketika menembus langit malam (aku tidak pernah melihatnya, tapi katanya memang tak terlupakan). Bercahaya terang, jarang, dan membuat hati berdebar-debar. Tidak semua orang memiliki kesempatan untuk menikmatinya, Tetapi kejadiannya hanya sebentar. Dia akan bersinar begitu terang, lalu hilang selamanya. Kita hanya mampu menceritakannya, mengenangnya, tapi tak lagi menikmatinya.

Seperti itu juga kamu.

Atau seperti pelangi yang muncul, membuat orang kegirangan, tapi lagi-lagi hanya berlangsung sebentar. Indahnya tidak sebanding dengan lama berlangsungnya.

Seperti itulah kamu.

Kamu juga hilang begitu saja dalam waktu singkat. Pada saat aku benar-benar menikmati tawaku, benar-benar menikmati pesanmu setiap hari sekitar jam enam pagi, "Selamat Pagi!" Yang selalu membuatku ingin berteriak bahwa semua itu adalah moodboosterku.

Semua hanya karena kamu beranggapan bahwa aku diluar jangkauanmu. Aku selalu di dalam jangkauanmu kalau kamu mau tau. Selalu. Kamu hanya tinggal mengatakannya, dan aku akan ikut kemanapun kamu suka. Kamu hanya tinggal memelukku, dan aku akan menganggap di manapun aku berada, pelukanmulah rumah tetapku.

Aku merasa nyaman seperti ini. Bersamamu. Seharusnya kamu jangan berfikir untuk pergi.

Tetapi tidak ada gunanya. Kamu masih seperti komet. Cepat datang, menyenangkan, lalu menghilang. Menyerah duluan tanpa mau berjuang. Cinta membutuhkan perjuangan, kalau hanya aku yang berjuang, bagaimana bisa dibuktikan bahwa kita sebenarnya bisa bersama?

Pada akhirnya kamu memilih hati yang menurutmu bisa kamu gapai. Dan itu bukan aku. Padahal, hatiku bisa kamu gapai dengan begitu mudahnya. Kamu hanya tinggal mengatakannya, dan aku berikan semuanya.

Sekarang, ketika aku begitu rindu, begitu ingin di dengarkan, begitu ingin di tatap, begitu ingin di elus rambutku lagi dan mendengar, "Tidak apa-apa. Semua akan baik-baik saja." aku harus bagaimana?

Mana bukti dari kalimat saktimu bahwa 'semua akan baik-baik saja'?


Kamis, 15 Mei 2014

Lonely


Karena riuh tidak selamanya sepi akan luka.


Saya selalu memahami kesepian sebagai suatu waktu dimana di detik itu, saya tidak punya satupun telinga atau pegangan yang bisa saya percaya untuk berbagi kekhawatiran. Tidak peduli, ketika itu saya tengah duduk di tengah-tengah teman bermain bersama segerombolan teman, ataupun disaat saya tengah berada di bawah pesta kembang api perayaan tahun baru.
Sepi, senantiasa mampu terjadi.

Untuk orang seperti saya, yang punya banyak sekali hal yang harus saya simpan dalam diam, saya selalu tau, bahwa ketika saya sedih, saya hanya perlu waktu untuk membiarkan rasa menyakitkan itu memudar, tapi melewatinya, tak jarang mengharuskan saya untuk bertemu dengan sepi. Walau sekejap, kesepian selalu mampu menelan hati saya bulat-bulat. Dan perasaan itu, terasa begitu tidak baik. Jujur saja, saya tidak pernah menyukainya. Lagi pula, siapa manusia yang bahagia berteman dengan kesepian?

Saya bukan seorang perempuan pemurung, saya selalu memilih terlihat baik-baik saja, itu persoalannya. Kalau kamu juga manusia yang setipe dengan saya, kamu harus ingat satu hal: setelah segala jenis luka dan kesepian yang berhasil dilewati, sesekali mencoba meletakan tanganmu di genggaman orang lain bukanlah hal yang memalukan, Belajar mempercayakan sesuatu kepada orang lain bukanlah hal yang buruk. Jangan karena hidup kerap menuntutmu untuk selalu lebih kuat dan lebih kuat, maka kamu tidaak boleh tampak lemah sekali saja. Tentu saja menjadi lebih kuat dari kebanyakan orang itu baik, tapi beda ceritanya justru yang terjadi so kuat.

Beberapa orang, mungkin termasuk saya, yang terbiasa menyimpan banyak hal sendirian, kerap membiarkan sepi terlalu lama menetap, yang justru berpotensi membangun dinding-dinding lain di dalam hati. Kalau dinding itu kamu biarkan terus berdiri, lapisannya akan semakin tebal dan bahkan hingga suatu ketika, sayang macam apapun yang mencoba masuk, tak mampu lagi menembusnya. Tentu saja itu bukanlah hal yang bijaksana untuk di teruskan. 

Temukanlah dia yang mampu membuatmu semakin menyayangi dirimu sendiri, dan paham bahwa memiliki kelemahan itu bukanlah dosa.

Saya pernah di kecewakan, di bohongi, di haruskan menyimpan sesuatu yang menyakitkan seorang diri, karena apabila saya bicara, hal itu akan membuat kesedihan bebas merentangkan sayapnya ke hati-hati lain yang saya sayangi. Dan itu semua membuat saya harus selalu berusaha sekuat tenaga mengingatkan diri sendiri, bahwa saya tidak boleh jadi seseorang yang terlalu takut untuk berjalan bersama genggaman seseorang lain. Tidak semua genggaman akan menuntun saya ke arah yang akan membuat saya tersesat. Tuhan selalu menyediakan mereka yang bersedia menuntun saya ke arah yang lebih baik. 

Jujur saja, sejak saya kecil, saya punya banyak sekali alasan untuk menjadi anak yang nakal, atau seseorang yang membenci Tuhan saya sendiri. Tapi saya tidak akan pernah membiarkan hal seperti itu terjadi. Tidak akan pernah. Saya sudah melihat kenakalan anak muda macam apapun yang kamu bisa lihat di televisi. Minum? Narkoba? Geng? Ciuman? Seks? Klub malam? Well, yang seperti itu pernah terjadi di hadapan mata saya sendiri. Dan isinya hanya kekosongan. Saya tidak pernah menganggap ini semua sebagai kemalangan, Tuhan begitu baik pada saya. Dia menunjukan dengan jelas mana yang salah dan mana yang benar, walau melewatinya tidak mudah, setidaknya saya tidak perlu melakukan hal bodoh macam itu. Dikecewakan dan tidak menerima penjelasan? saya juga sudah kenyang. Jadi kalau ada pria yang pernah berfikir, berhasil membuat kalian patah hati, percayalah, rasa sakit patah hati tidak ada apa-apanya dibanding patah hidup. Tapi betapapun hal itu pernah mengganggu saya, membuat saya patah hati dan menjadi perempuan yang aneh. Saya tidak pernah mau membiarkan diri saya menjadi seseorang yang tumbuh tanpa mampu percaya pada siapapun.

Namun satu yang saya pahami, manusia tidak dilahirkan untuk berdiri sendiri, walau dia punya sepasang kaki yang membuatnya mampu berjalan. Berjalan sendirian di tengah bumi ini tidak akan pernah memberimu cerita apa-apa. Hidup hanya berjalan untuk berakhir. Itu sangat menyedihkan. Saya tidak akan pernah membiarkan diri saya memilih hidup seperti itu.

Bersama, bukanlah soal kamu tidak bisa berdiri tegak bila mengendalikan dirimu sendiri. Tapi bersama adalah tentang langkahmu yang tak kau biarkan berteman bayangannya saja, dan hanya berjalan tanpa genggaman siapapun.

Bukankah akan sangat baik, ketika kamu berjalan dan menoleh, lalu ada wajah yang setia memberikan senyumannya untukmu? :)

Memiliki kelemahan bukanlah dosa, pernah melewati hal buruk juga bukanlah cela, begitupun memerlukan seseorang untuk berpegangan, bukanlah hal yang memalukan. Kelak, akan ada seseorang yang mampu membuatmu memahaminya.

Bahwa segala hal akan baik-baik saja, selama kalian bersama.

Minggu, 20 April 2014

Show Me How






Saya bisa tertawa ketika hati saya bersedih, beberapa orang menyebutnya palsu, saya menyebutnya berani untuk lebih berbahagia.

Saya bisa tersenyum ketika hati saya penuh amarah, beberapa orang menyebutnya palsu, saya menyebutnya berani untuk mengalah.

Dan itu tidak mudah. Dan itu tidak pula wajib untuk kamu tiru, percayalah, terkadang itu sangat mengerikan rasanya.

Beberapa orang yang memaksakan diri untuk memahami saya, banyak yang bertumbang menghilang. Berfikir kalau saya itu begini dan begitu. Berfikir kalau saya berfikir buruk tentang mereka, menulis hal-hal buruk tentang mereka. Padahal? Ah, salah satu hal yang paling saya benci di dunia ini, adalah membela diri di hadapan orang yang bahkan mampu menilai buruk orang lain tanpa bersedia untuk sekedar bertanya: "apakah kita baik-baik saja?"

Ketika mencoba menjadi orang baik saja tidak cukup untuk membahagiakan orang lain, saya tidak lagi mengerti harus bersikap seperti apa. Saya tidak ingin hal-hal yang mengganggu emosi saya, menjadikan saya seseorang yang saya benci sendiri. Banyak orang yang akhirnya menjadi seseorang yang mereka tidak suka, tanpa mereka sadari, dan saya tidak ingin jadi salah satu di antaranya. Di saat saya melangkah pergi dari hidup seseorang, itu hanyalah upaya saya untuk menyelamatkan diri saya sendiri. Come on, kita harus mengakui, bahwa tidak banyak orang yang peduli pada perasaan orang lain, ketika semua orang berfikir untuk jadi yang paling benar diatas banyak hal-hal yang sebenarnya salah. Dan berusaha untuk tetap berfikiran waras saat dihadapkan dengan hal yang demikian, bukanlah hal yang sederhana.

Segala hal akan tampak salah, di mata seseorang yang terlalu senang berfikiran buruk.

Temukanlah perempuan yang mampu menertawakan kemalangannya sendiri. Karena kamu tidak perlu perempuan yang bahkan tidak bersedia melihat hal baik di dalam sebuah 'kemalangan'

Kamupun tidak pula diwajibakn meniru kata-kata tadi, percayalah, terkadang mencari pasangan yang ingat untuk berbagi saat bahagia saja sulitnya minta ampun.

Setiap orang punya banyak rencana besar untuk menemukan seseorang yang terbaik yang bisa dia mampu dapatkan, mengakhiri hubungan yang ini, dengan anggapan yang lebih baik nanti, berdoa siang dan malam agar Tuhan pertemukan dengan sosok yang mereka fikir adalah yang terbaik.

Tapi berapa orang yang berani untuk berjalan lebih kedepan, meraih tangan seseorang, menggenggamnya, dan berkata: 

Aku sudah berusaha menjadi yang terbaik untuk dirimu. Sepanjang hidupku, aku sudah berusaha menjadi yang Tuhan inginkan, untuk pantas menjadi yang paling tepat untuk kamu pilih. Aku yakin, kita bisa melewati segalanya dengan saling memahami dan percaya. Memahami dalam kelemahan, dan percaya pada Tuhan.

Mencoba meyakinkan seseorang bahwa kitalah orang yang tepat yang selama ini dia cari, bukanlah perkara yang sederhana. Jelas melelahkan dan akan terkesan sangat dramatis. Tapi terlalu fokus mencari, hingga lupa memperbaiki diri sendiri. Itu jauh lebih dramatis.
***

Saya adalah pribadi yang palsu, semua orang boleh bilang demikian. And it doesn't bother me anyway. Saya akan terus tersenyum selama Tuhan masih memberi kesempatan saya untuk hidup. Saya akan selalu mencoba berani mengalah, untuk sesuatu yang hanya berisi sebuah amarah.

Ketika saya sudah sampai di titik di mana saya tidak lagi ingin bicara dengan seseorang, maka dia pasti telah melampau garis terjauh yang mampu saya berikan, untuk di lukai.

Tapi saya pasti memaafkan siapapun itu. Ketika bahkan saya tidak menciptakan udara, apa hak saya untuk merasa pantas membenci seseorang. Selamanya

Kalau kamu merasa saya tidak cukup mengerti dirimu, maka tunjukanlah saya caranya. Kita bersama bukan untuk saling menerka dan kemudian terluka. Inilah saya, tidak setiap orang dilahirkan dengan kekuatan untuk selalu mengatakan padamu, apa yang sebenarnya ia rasakan. Itulah saatnya kamu mengatakan apa yang kamu inginkan. Sekarang, semua tergantung seberapa penting kehadiran seseorang itu di dalam hidupmu.

I can't escape this now. Unless you show me how

Sabtu, 05 April 2014

Suatu Hari di Masa Lalu

"Luka saya sangat sederhana. Saya hanya terluka karena kamu pergi, itu saja"

Hari itu di dalam bis, saya teringat foto kamu dengan dia, entah kenapa. Padahal telah lama hari itu terlewati. Dan sayapun telah lama memutuskan berhenti menjadikannya bagian dari "daftar hal yang perlu diingat"

Dulu, foto itu berhasil membuat saya begitu sedih. Bukan, bukan karena dia ada di dalam foto itu, tapi karena kamu yang berdiri lekat di sisinya. Padahal, saat itu saya adalah perempuan yang begitu perlu dipeluk. Alih-alih menemani saya, kamu justru pergi bersamanya.

Bukan, bukan karena kamu pergi bersamanya saya sedih. Bersama siapapun itu tak jadi masalah, saya tak peduli, karena saya percaya penuh padamu. Bahwa kamu bukanlah pria yang pandai berpindah dari satu pijakan hati ke hati lainnya dengan begitu mudah. Bahwa kamu adalah pria yang bisa saya andalkan. Ya saya menghargaimu dengan begitu besar, saat itu.

Hal yang paling sedih adalah ketika....kamu pergi, itu saja

Karena seharusnya saat itu kamu bisa memilih tinggal dan menjadi tak perlu kehilangan saya di hari ini. Hati saya berkali-kali bilang: saya selalu berusaha ada untukmu. Seberapapun berat hari yang saya lalui, seberapapun saya harus membagi perhatian atas diriku sendiri yang sedang sakit dan mencoba memahamimu. Karena mungkin saya memang tengah sangat menyayangimu. Di luar hujan dan ada air terjun di kaca jendela bis. Pendingin di dalam bis ini bahkan mampu membuat buku-buku jari saya membiru. Saya harap kamu selalu hangat terjaga di sana, hingga tak perlu membuat sedih siapapun yang tengah menyayangimu disini.

Saya menemukan catatan itu di mini diary ponsel saya, ketika saya bahkan pernah lupa pernah menulisnya. Kenyataannya saya memang benar-benar pernah menulisnya di suatu hari di masa lalu. Untuk seseorang yang pernah saya sayangi dan pernah saya paksakan untuk tidak lagi saya sayangi lebih dari rasa sayang kepada seorang teman. Saya pernah menangisinya, karena memaksakan diri saya untuk berhenti menyapanya dalam kurun waktu yang ketika itu tidak bisa saya pastikan sampai kapan.Mungkin karena saya merasa begitu marah. Bukan, bukan padanya. Saya begitu marah pada diri saya sendiri, saat itu.

Perempuan ini, hanya telah menghukum dirinya sendiri.

Saya selalu saja patah hati dengan cara saya sendiri. Saya memang tidak pernah mampu merengek atau mengumpat, atau bahkan berlagak membenci orang yang tengah saya sayangi. Saya pun tidak akan pernah membiarkan diri saya tampak begitu lemah dan kasihan. Hey hidup saya sudah kurang kasihan apalagi saat itu. Saya tidak akan membiarkan siapapun semakin kasihan, mendekati saya karena kasihan, atau bahkan mencintai saya karena kasihan. Saya sudah cukup mengasiani diri saya sendiri, dan saya tidak membutukan perasaan itu datang dari manusia lain. Harga diri dan gengsi saya yang begitu tinggi, membuat saya lebih suka diam dan bersabar.

Saya berusaha memberi diri saya sendiri waktu untuk sembuh, dibanding saya harus meluap luapkan perasaan saya yang tak karuan di social media, atau bahkan di telinga sahabat saya sendiri. Saya masih punya Tuhan, dan saya tau dia sanggup menerima keluhan apapun dari saya, setidaknya lima waktu dalam sehari. Persoalan saya saat itu hanyalah: saya terlalu menyayanginya, dan saya hanya harus berhenti 'terlalu' menyayanginya. Walau kenyataannya hal itu bukanlah sekedar sebuah 'hanya'

Dan kecewa padanya, bukan berarti saya lantas harus menghapusnya dari hidup saya. Saya tidak se-kanak-kanakan itu. Tidak ada manusia dengan kesalahannya pantas untuk dihapus dari hidup seseorang, itu namanya lari dari kenyataan. Saya hanya harus mengubah; porsi rasa sayang saya padanya. Dari kadar 'sangat' menjadi kadar 'cukup'. Dan jelas saja itu bukanlah hal yang sederhana. Hidup saya saat itu sangat melelahkan. Saya menangis dua kali lipat. Ah, banyak sekali yang saya tangisi saat itu. Masalah keluarga, masalah di luar keluarga dan masalah perasaan. And no one who cares. Karena memang saya tidak mengizinkan siapapun untuk peduli kepada saya. Saya hanya terlalu marah pada diri saya sendiri.

Sangat. Amat. Marah.

Saya bahkan tertawa detik ini. Lucu sekali saya saat itu:))

***
Saya bukanlah tipikal permpuan pembenci, tapi saya adalah perempuan yang tidak bisa lupa bila pernah dilupakan atau diabaikan oleh seseorang. Saya merasa bodoh dan sangat tolol. Sayapun merasa sangat bersalah pada diri saya sendiri. Karena saat itu, saya seharusnya tidak perlu menyayangi siapapun, dan membuat perhatian saya padanya terpecah. Saya bahkan tidak bisa memaafkan diri saya sendiri. Sampai detik ini rasanya bahkan masih sama pedih. 

Karena saya hanyalah perempuan yang ceroboh,tolol,dan so tegar.
Itulah saya.
***
Faith. You can't touch it or buy it or wrap it up tight, but it's there just the same, making things turn out right

Tapi hey, segalanya saat ini hanyalah berlabel kemarin. Tanpa embel-embel kecewa atau sakit hati. Segalanya hanyalah kemarin dan mengingatnya tidak sesakit dahulu. Saya menyadari betul bahwa segala hal yang terjadi adalah tanggung jawab saya sepenuhnya. Kalaupun ada yang harus saya salahkan, itu adalah diri saya sendiri. Kalau saya sempat merasa kesal, marah atau sakit hati, itu adalah bagian Allah untuk dapat memperhitungkannya dengan keadilan-Nya sendiri. Membalas atau hitung mengitung, bukanlah kapasitas saya.

Saya hanya tau, segala yang terjadi pasti memberi begitu banyak pelajaran. Entah bagian yang bahagia, entah bagian yang menyakitkannya. Entah yang pergi meninggalkan, entah yang memilih berhenti menyayangi. Entah yang melukai, entah yang tak sengaja melukai. Saya rasa, tidak ada manusia yang begitu saja sengaja melukai perasaan orang lain. Terkadang, kita melakukan hal-hal yang ada diluar kendali kita. Karena memang kita tidak bisa mengendalikan bagaimana hati seseorang akan merasa atas apa yang kita lakukan padanya. Saya mungkin sudah begitu banyak menyakiti perasaan pria lain dengan tingkah saya yang rumit. Sayapun mungkin sudah begitu banyak menyakiti perasaan pria lain dengan memilih  diam dan pergi..tanpa berdaya meminta penjelasan padanya. Atau melontarkan pertanyaan seperti:

Kenapa kamu melakukan itu?
Kenapa kamu meninggalkan saya saat itu?
Atau kenapa kamu, harus membuat saya menyayangimu lalu pergi?

Saya adalah perempuan yang merasa, bahwa pria seharusnya menyadari diri, bahwa mereka perlu memberi penjelasan tanpa harus membuat perempuan merengek.

Walaupun seharusnya. Segala pertanyaan itu harus tetap saya ajukan agar saya tidak lantas mereka-reka sedndiri jawabannya. Jawaban yang bahwa saja belum tentu benar. Saya hanya berfikir, saya tidaklah pantas membebani mereka dengan pertanyaan-pertanyaan seperti itu. Karena jawaban apapun yang mereka lontarkan, pada kenyataannya saya lah yang sudah terlalu lelah untuk mendengarnya.

Mungkin bagian menyakitkan lain hanyalah ketika saya sudah berusaha mencoba menyayangi dan memahaminya ditengah keterbatasan saya saat itu, tapi saya tetap diaanggap tidaklah cukup berusaha. *tersenyum kecut* memikirkan ini, selalu membuat perasaan saya muram. Seandainya saja, saya bisa menggambarkan seberapa hancur perasaan saya saat harus jadi seorang diri saya di detik itu. Saya hanyalah tidak pernah punya kemampuan untuk menunjukan luka saya sendiri. Saya takut Tuhan berfikir, saya tidak cukup bersyukur atas apa yang saya miliki saat itu, dan dia pun mengambil kebahagiaan-kebahagiaan lain yang tersisa yang masih saya miliki.

Saya baik-baik saja, ini hanyalah luka kecil dibanding segala yang sampai saat ini masih terjadi dalam hidup saya. Lagi pula, hidup siapa yang bisa lepas dari rasa takut kehilangan dan kecewa? kita pasti akan pergi, atau siapapun yang ada dalam hidup kita pun suatu hari akan pergi. Saya hanya tau, bahwa segala yang harus pergi hanyalah untuk memberi ruang bagi kedatangan yang lebih baik.

Tidak apa-apa:) saat ini saya sedang sehat dan bahagia dengan hidup yang saya jalani. Dengan hati-hati yang mengelilingi saya, walaupun saya belum siap untuk menyayangi seseorang, sebanyak saya menyayangi kamu dulu:)))

Terimakasih untuk kamu, suatu hari di masa lalu saya....

Senin, 17 Maret 2014

Move On

Suatu hari yang hujan, seseorang pernah mendatangi saya dengan matanya yang sembab. Saya bertanya apa sebab dia menangis. Dia hanya diam. Tak menceritakan apapun. Dengan alis yang bertautan dalam perasaan bingung, saya membiarkan saja dirinya larut dalam tangis untuk beberapa saat. Hingga akhirnya ia buka suara.

"Apa cinta diciptakan dengan kesedihan? Mengapa Tuhan tak menciptakannya dengan kebahagiaan saja? Sehingga tak lagi ada orang yang terluka hanya karena cinta"

"Saya fikir, justru cinta diciptakan untuk kesedihan dan kebahagiaan. Tuhan sepakat untuk menciptakannya sepaket. Toh apalah artinya sedih dan bahagia, bila tak ada cinta untuk menemani saat menceritakannya.Ada Apa?"

"Aku tak bisa melupakan. Sudah setengah tahun kepalaku selalu di sesaki kenangan lalu" jawabnya dengan nafas tersengal

"Bersabarlah, hatimu lebih luas dari yang kau sangka. Sudah saatnya untuk bangkit dan berdiri lebih tegak lagi. Kepergian jangan sampai membuatmu kehilangan diri sendiri."

"Aku sudah mencoba. Tapi tak bisa."

"Kamu belum mencoba apapun. Yang kau lakukan hanya berusaha melupakan. Bagaimana mungkin kau bisa lupa, padahal untuk melupakan kau harus kembali mengingatnya lagi. Sudahlah, relakan untuk melepaskan. Terimalah kenyataan bahwa hatinya bukan milikmu dan hatimu masih sepenuhnya kau miliki. Jangan biarkan dirimu jatuh dalam kubang luka. Hatimu yang merah muda terlalu baik untuk dibiarkan sakit. Berdamailah dengan dirimu sendiri. Maafkanlah dirinya dan dirimu sendiri. Mari mulai lagi untuk melangkah dan membuat kenangan baru. Berjalanlah sesekali. Buka mata dari kepedihan yang sebenarnya tak seberapa"

"Entahlah, hatiku telah mati semenjak ia melangkah pergi" ia berkata dengan senyum yang di paksakan,serat akan kegetiran.

"Move on bukan tentang bersegera dalam mencari sekeping hati baru. Tapi seberapa mampu kau terlepas dari luka dan kenangan lalu."

"Bagaimana caranya?"

"Memaknai proses move on itu seperti mempelajari tingkah laku bayi yang baru lahir. Mencoba merangkak dan berjalan meski kerap terjatuh. Berletih-letih bangkit walau kau merasa sakit. Hingga akhirnya datang masa ketika kau mampu berlari, meninggalkan kenangan tepat di belakang"

" Aku akan mencoba berdiri lebih tegak lagi. Terimakasih atas waktumu. Aku pamit Pulang."

"Berhati-hatilah, hari masih hujan"

"Aku suka hujan. Yang tidak aku suka adalah bagaimana mungkin seseorang yang sedang kucoba untuk lupakan, justru sekarang sedang memberi wejangan untuk merelakan. Mengapa cinta membuatmu melepaskanku?

"......................"

.

Selasa, 25 Februari 2014

Aku Rasa Kita Seharusnya Mencoba Bertahan Dulu..

Aku suka memandangi hujan berlama-lama, tapi tanpamu, rasanya mungkin tidak akan lagi sama.

Aku suka berbincang di telfon sampai tertidur, tapi siapapun yang kemudian menemaniku melakukan itu, mungkin rasanya tidak akan senyaman ketika aku melakukannya denganmu

Aku ingin kamu tinggal, tentu saja. Tidak ingin kita berpisah, tentu saja. Tapi aku bisa apa? tiba-tiba saja kamu ingin pergi begitu saja. Kamu bilang hubungan ini tidak bisa lagi dipertahankan. Tetapi kamu tidak pernah mencoba, bertahan, sayang, darimana kamu tau hubungan ini tidak bisa dipertahankan?

Pada saat aku meminta untuk kita bicarakan dulu, kamu juga bilang kalau tidak ada lagi yang bisa dibicarakan. Kamu tidak pernah berusaha mencari tau apa yang sebaiknya kita bicarakan, jadi darimana kamu tau bahwa tidak ada lagi yang bisa dibicarakan?

Sepertinya kamu terlalu tidak peduli untuk mencoba lagi. Terlalu mencari menangmu sendiri untuk berusaha mengerti. Tapi tidak apa. Cinta tidak harus dipaksa.

Aku akan baik-baik saja. Tidak akan menangis selamanya. Kamu jangan merasa bersalah atau terlalu khawatir dan bertanya-tanya apakah aku akan baik-baik saja. Karena pada akhirnya juga toh pasti aku akan baik-baik saja. Harus baik-baik saja.

Masih ingat, pada waktu aku menangisimu, kamu bilang kita masih bisa berteman? Aku bertaruh, awalnya ya kita mungkin masih berhubungan, menanyakan kabar, mungkin juga ngobrol kadang-kadang. Tapi lama kelamaan pasti akan berangsur berkurang, lalu saling melupakan. Atau setidaknya, kamu yang sepertinya duluan akan melupakan.

Katamu juga (ketika aku menangis dan mencoba mempertahankan), kenapa aku terus berusaha mempertahankan kalau kamu saja tidak ingin dipertahankan?

Tunggu sebentar, apa kamu tidak ingat, ketika pernah dulu aku yang memutuskanmu pergi, kamu juga terus memohonku sambil memelukku erat?

Apa kamu tidak ingat, selama setahun pernah tanpa menyerah berusaha menarik perhatianku yang pada awalnya aku tidak pernah menggubrismu? Ke mana sifat tidak pernah menyerah sebelum mendapatkan yang kamu mau itu? Atau setelah mendapatkan, sudah tidak lagi menantang?

Apa kamu tidak ingat, kamu pernah mengenalkanku kepada teman-temanmu dan begitu membanggakanku? Kenapa sekarang tak bisa sebahagia itu?

Kamu bilang, mungkin karena aku berubah, itu alasannya. Sebenarnya aku masih sama, selalu seperti dulu karena kamu bilang mencintaiku tanpa ingin mengubahku. Tidak mungkin aku berubah kalau itu beresiko melunturkan cintamu, dimana aku sedang sangat cinta-cintanya denganmu. Kalau begitu sebenarnya yang berubah itu siapa?

Sekarang, kalau tiba-tiba aku mendengar lagu yang biasa kita nyanyikan berdua, dan tiba-tiba merasa begitu merindukanmu, aku harus bagaimana?

Kalau tengah malam aku tiba-tiba kangen banget ngbrol di telfon denganmu, aku harus bagaimana?

Ya, aku tau. Ini yang selalu kamu katakan setiap kali aku mengatakan rindu atau mengajakmu berbicara lagi dulu "Kamu harus bisa seperti aku. Melepaskanmu. Yang berlalu biarlah tetap berlalu"

Kamu tidak tau sakitnya aku, jadi sebenarnya kamu tidak boleh berkata harus bisa seperti kamu, membiarkan yang berlalu tetap berlalu. Bagi yang sudah tidak mencintai lagi, itu mudah. Kamu pernah tidak, sedang jatuh cintanya, tapi diminta untuk berhenti mencintainya? kamu pernah tidak, sedang rindu-rindunya tapi di suruh jangan lagi melakukannya? Kalau belum, jangan menganggap 'yang berlalu biarlah berlalu' itu semudah mengatakannya. Tidak semudah itu.

Sebagai catatan, aku melepaskanmu bukan karena tidak mencintaimu, aku hanya merasa untuk apa mempertahankan yang tidak ingin dipertahankan. Untuk apa meminta kamu disini jika kamu selalu berfikir untuk pergi. Untuk apa menanyakan apa kamu masih cinta kalau jawabanmu bisa ditebak, 'Tidak tau rasa itu masih ada'

Sebenarnya, mencintai itu berfikirnya bukan lagi aku atau kamu. Bukan lagi aku berusaha mati-matian membahagiakanmu, atau kamu mencoba membahagiakanku. Saling mencintai itu, berusaha agar kita bahagia dengan tetap bersama. Sayangnya, memang dari awal pengertian kita tentang mencintai itu berbeda. Kamu dengan kamu harus bahagia, aku dengan mecoba selalu menerima kamu apa adanya, bahkan dengan egomu yang tidak pernah kusangka bahwa bahagiamu jauh lebih penting dari bahagiaku.

Tapi kalau kamu (seandainya) ingin tau dulu apa pendapatku tentang ini, sebenarnya aku rasa kita harus mencoba untuk bertahan dulu. Setidaknya mencoba dulu, bukan semua diputuskan oleh kamu.

Sabtu, 15 Februari 2014

Kenapa Tak Bahagia Saja?

Selamat malam, Tuan.

Pernahkah kau bertanya, mengapa Tuhan menciptakan cinta dengan keragaman rasa? Mungkin kau pernah merasakan, betapa cinta yang kau miliki begitu membahagiakanmu. Membuat kau mengulas senyum kala melewati hari-hari. Tapi suatu kali, hatimu yang merah muda menjadi biru lebam didera keharuan perasaan. Entah kehilangan, dendam, rindu terabaikan, dan sebagainya. Seperti yang ku alami sekarang. Apakah kau pernah bertanya, pada kepalamu yang sesak oleh pertanyaan itu, kenapa Tuhan tak menciptakan kebahagiaan saja, Pernahkah, Tuan?

"Tuhan menciptakan kebaikan dan keburukan cinta semata hanya untuk mengajarimu cara menjaga dan merelakan. Cinta itu mendewasakanmu. Membuatmu memahami hal mana yang harus kau perjuangkan dan mana yang memang sepantasnya kau relakan. Mengajarimu bagaimana cara mensyukuri hal yang kau miliki dan juga ketabahan jika suatu kali kau harus melepaskan. Hingga akhirnya, cinta menjelma sepasang sayap malaikat yang akan membawamu terbang hingga mencapai nirwana"

Aku pernah merasakannya, Tuan. Betapa cinta yang ku anggap mulia untuk diperjuangkan ternyata hanya bertepuk sebelah tangan. Hal selama ini kuupayakan untuk dipertahankan ternyata tak menjadikanku sebagai perempuan istimewa yang di anggap layak untuk diperjuangkan. Aku memperjuangkan segenap perasaanku sendirian, Tuan. Maka pada akhirnya, kandaslah hubungan kita, dan hancurlah hati yang kupunya. Lalu setelahnya, rusak semua fokus kehidupanku. Membuatku duduk diam di serambi asing di tepian pagi hingga malam untuk sekedar menjawab pertanyaan 'apa yang sebenarnya aku perjuangkan?'. Lantas membuat diriku usang karena terlalu lama meratapi sendu dan kesepian. Tapi semua sudah terlewati, Tuan. Akhirnya aku tersadar bahwa aku terlalu lama larut dalam kesedihan. Padahal sebenarnya aku lebih pantas untuk dihormati dan diperjuangkan. Maka, berdirilah aku, membenahi keping-keping perasaan yang berantakan. Dengan harapan-harapan dan angan-angan baru. Coreng moreng di muka biar menjadi bukti keyakinan bahwa aku sudah lebih baik dalam memaknai perasaan.

Aku tak ingin kau merasakan hal yang sama, Tuan. Maka ku peringatkan kau dari sekarang. Agar mampu menjaga diri dan perasaanmu dengan baik. Biarlah kau tetap menjadi laki-laki yang menurutmu selalu perempuan banggakan.

Salam,
Perempuan Yang Kau Kecewakan

Sabtu, 08 Februari 2014

Surat Dalam Kantung Mata

Banyak bulan yang kulumat dalam jejak kaki. Banyak lumpur yang kucoreng di muka sendiri. Bagaimana kabarmu, wahai perempuan yang digerus usia?

Menghiasi wajahmu dengan jemariku, membuatku lumpuh oleh ingatanku sendiri. Bagaimana waktu menjelma menjadi kerutan-kerutan di wajah itu *kerutan yang tak lebih banyak dari doa-doa yang kau gelar diatas sejadah tuamu*, bagaimana sungai-sungai pernah tercipta dari kedua mata itu, sebab kepalaku lebih keras dari suaramu. Gadis kecilmu tak perlu lagi pulang ke pelukan siapapun, selain milikmu.

Sesekali biarkan aku memelukmu. Mungkin pada tawa yang lahir di tengah ruang atau ketika amarah menjadi kurcaci-kurcaci nakal yang mencacah isi kepala. Pada sinar matamu yang redup, atau bibirmu yang terkatup aku tak perlu menjadi siapa-siapa selain aku. Kau, mencintaiku utuh.

Surat ini takan mampu kau temukan di laci atau saku celanaku, ku simpan rapat ketika lidah melupakan fungsinya mengapa seharusnya ada, ketika kertas dan pena hanya jadi budak nilai tukar rupiah, ketika kata-kata hanya letupan bara yang menyesal namun tak sanggup berbuat apa-apa.

Biarkan pada surat yang kusimpan dalam kantung mataku ini, menjadi celah bagi sayap yang kuhempas terlalu tinggi untuk memelukmu, untuk mengucap syukur, mengapa menjadi milikmu adalah anugrah yang berlebih dari penciptaku.

Mungkin kelak, surat ini bisa kau baca. Ketika lenganku berbicara, ketika detakku berdansa doa-doa atau ketika air bah didadaku menemukan senyum banggamu di kedua mata.

Di detak yang tak pernah kita tau kapan akan berhenti, biarkan kakiku memilih. Percayalah tak akan ada lagi musim yang ku biarkan beku dalam tangisan ngilu. Mungkin ini yang keseribu, ketika inginku lebih getir dari senggama sang petir yang menggebu.

Tapi percayalah, Bunda
Aku mencintaimu..

Minggu, 02 Februari 2014

Selamat Pagi. Bulan Merah Jambu

Selamat pagi, Februari. Bulan merah jambu. Begitulah banyak orang menyebutmu.

Buku, segelas coklat hangat, dan sesisir roti coklat. Biasanya mereka menjadi santapan lezat dan mampu memulihkan keceriaan yang nyaris karat. Entahlah, pagi ini laju debar terlalu cepat, isi kepala pun luar biasa padat.

Februari, kau tau? ingatanku sedang tamasya beberapa terakhir hari ini. Kuyup dalam deras hujan memori yang tak kunjung reda. Beberapa hari terakhir, aku sengaja melingkari barisan angka-angka dalam kalender di meja kamar. Sebab rasanya tahun ini ingin melewatkanmu begitu saja, berharap bisa tertidur pulas dan terbangun di bulan ke tiga. Tapi nyatanya kesadaranku masih sebulat purnama, menyimak perbincangan rindu dan doa dengan seksama.

Ini adalah surat pertama untukmu, Februari. Aku menulisnya diantara samar teriakan anak-anak hujan yang berlarian diluar. Semoga sisa musim penghujan tak melulu membuat keceriaanmu membiru, ya. Lekas pulihkan rindu yang nyeri. Berjanjilah tak akan ada air mata yang rekah di bulan ini dan mari ramaikan hati dengan merdu, bersiaplah dengan tatanan hati yang benar-benar baru mulai hari ini. Lihatlah, mimpi-mimpiku sudah merajuk ingin ditemui.

Berjanjilah akan seminau seperti percikan indah mentari di tubuh bahtera yang lembut ombaknya.
Berjanjilah untuk seceria matahari di musim panas.
Berjanjilah untuk seceria rekah tulip di negeri Belanda atau sakura di negerinya saat musim semi tiba.

Bulan merah jambu, ketahuilah, di dadaku, ada hati yang telah karang. Ada rindu yang terlanjur tumbang dan ku biarkan separuh doa berkejaran dengan layang-layang. Simpanlah surat ini baik-baik. Kelak, aku akan menemanimu membacanya berulang-ulang.

Kamis, 30 Januari 2014

Selepas Kepergian

Ini tentang malam yang terlalu dingin untuk dibicarakan. Tentang kesepian yang tak pernah bosan memeluk kesendirian. Tentang gigil gemelutuk yang memeluk kala bekunya setiap debar perasaan. Kalimat ini tercipta dari kesedihan yang terlalu. Tentang kecemasan dan haru yang mengukung. Tentang perkara hati yang membuat wajah selalu memasang seringai murung. Rima ini tergagas dari lirih tangis yang tersengal. Emosi yang meluap saat kau memutuskan untuk tanggal. Pergi meninggalkan.

Kesedihan begitu mudah mencipta dendam. Seberapa hebat pun cinta membuat bahagia, pada akhirnya cinta pula yang paling bengis dalam mengajarkan luka.

Ini tentang kamu yang menjauh. Tentang jejakmu yang tak lagi berpijak di tempat yang sama. Tentang langkah kaki yang berlalu memunggungi. Tentang genggam tangan yang terlepas untuk melambaikan salam perpisahan. Tentang senyum getir yang menyuruhku untuk tulus melepaskan. Tentang isak tangis tertahan yang pelan-pelan menyuruhmu untuk tetap tinggal dan bertahan. Tentang gelengan kepala yang secara tegas berkata tidak.

Kehilangan begitu fasih mengajarkan kebencian. Seberapa kuat pun berusaha menahan, pada akhirnya kesepian tak pernah kehabisan cara dalam memaksa untuk melepaskan kebersamaan.

Ini tentang kesedihan yang tertinggal. Tentang bulir tangis yang tak lagi kuat terbendung di kedua pelupuk mata. Tentang rintihan hati yang ringkih saat melepasmu pergi. Tentang kesepian yang memeluk hari-hari. Tentang sendu yang tak lagi tau bagaimana mengajari wajah agar bisa memasang senyum. Tentang kegetiran yang menyayat saat aku mengenangmu. Tentang doa-doa mengangkasa dengan lafal semoga kau berbahagia, tanpaku.

Setabah-tabahnya rindu. Setulus-tulusnya kehilangan. Seikhlas-ikhlasnya merelakan. Sebisa aku memaknai kamu, cinta, dan kepergian tanpa rengekan.


Sabtu, 18 Januari 2014

Lelaki dan Perempuan yang Tenggelam Dalam Senja

"Ceritakan padaku kisah-kisah puitis agar aku tak lelah menanti. Rangkul aku dengan rindu-rindu menguap agar aku tau kau tak akan pergi. Dekap aku dengan pelukan-pelukan hangat agar aku yakin bahwa aku adalah satu-satunya yang kau cintai.."

Senja memerah di ufuk barat, garis-garis terbias di antara langit jingga berpadu biru. Dan kita masih duduk di sudut itu. Menikmati setiap detik waktu dalam mengantarkan matahari terbenam. Ditingkahi embus angin-angin sore yang memainkan setiap anak rambut yang tergerai jatuh menutupi dahi. 

"Taukah kau apa yang disampaikan senja?" katamu memecah keheningan.
"Senja, pada langit biru ia menjingga. Menjelma kereta kuda yang menjemput mimpi pada malamnya. Keindahan sesaat, sekejap mata. Datang sekali di antara siang dan malam. Tapi ia setia. Tak pernah lupa untuk kembali keesokan lagi, meski malam kerap melahapnya dalam hitam hari. Dan aku adalah senja itu. Pengantar rindu menuju kamu"

Aku tersenyum. Merebahkan kepala pada bahumu yang tegap. Membenahi posisi duduk untuk merekatkan dekap. Membiarkan kehangatan menyesapi kisi hati lekat-lekat.

"Rindu itu kamu. Senja yang datang setelah siang kerontang, pelepas penat selepas panas" 

Kau tertawa. Renyah suara yang selalu kusuka, hal yang tak pernah jenuh membuatku jatuh cinta. Mencintaimu seperti menemukan bagian diriku yang sudah lama hilang. Pencipta kebahagiaan yang tak lekang, meski jarak begitu angkuh memaksa kita berjauhan.

"Kapan kita akan berhenti saling mencintai dalam jarak berjauhan?" tanyaku lirih.
"Bersabarlah, kelak jarak akan menyerah dan mengalah. Merekatkan dekap hingga erat. Membuat perasaan menjadi utuh, seluruh." lalu kau menatap mataku dalam-dalam. Menyunggingkan senyum. 

Burung-burung berpulangan. Lampu-lampu dinyalakan. Malam datang lagi, dan senja perlahan beranjak pergi.