Selasa, 12 November 2013

I Need To Write

"Kenapa kamu tak menulis lagi?"

"Lupakan. aku hanya bisa menulis tentang patah hati. bahkan sekalipun aku sedang tidak patah hati"

"Kalau begitu tulis saja semaumu, yang penting tulisanmu terus mengiasi blogmu"

"Ya. lalu orang lain mulai melihatnya. lalu merasa postingan itu untuknya,lalu merasa dan menebak aku sedang depresi,lalu bertanya aku kenapa? kenapa aku sedih?"

"Ya kamu bisa menulis bukan tentang patah hati saja kan"

"Hidupku terlalu bosan untuk diceritakan,my life is so wonderful. tapi aku bukan tipe orang yang suka menceritakan keseharianku, bahkan jika aku punya pacarpun aku jarang bercerita tentangnya"

"So. why you always write about sadness?"

"I don't know why..maybe sadness is beautiful pain. the mixed of love and hate, it can make you hardly breath but you still want to do that again and again"

"Mungkin bukan kata yang tepat, tapi kamu pasti bisa terjebak"

"Yeah. i'm in. and that's the only way. aku mesti nulis apa yang ada difikiranku untuk menjadi kata (yang menurutku) indah yang bisa kunikmati sendiri. Sendiri. karena diri sendiri tak pernah mengadili, tak peduli kata yang kau tuliskan tak masuk akal, tak peduli grammar yang kau tuliskan sangat buruk. just..being free.. tulisanku bisa membebaskanku."

"That's why u must write again. Ok, just write it. u must try again."

"...What about...Uhm. What if. Okay"

"Just write."

"..."

Menulis

setiap kali menulis biasanya saya selalu memikirkan apapun di detik itu. maksud saya, selalu memikirkan soal hal-hal yang pernah terjadi saat itu. biasanya saya justru terngiang hal-hal yang telah terjadi dalam hidup saya. mungkin itu salah satu dari satu juta alasan yang bisa saya sebutkan bila seseorang bertanya pada saya "hey na,mengapa kamu suka menulis?"

saya melewati banyak masa berat,sangat berat sampai rasanya saya sering merasa sesak di dada. tapi menulis,memberi banyak saya kesempatan untuk bernafas dengan ruang yang lain. ruang lapang yang dipenuhi pepohonan rindang,juga bunga-bunga menjuntai dari akar-akarnya yang menggelantung. saya menemukan ruang baru-ruang pribadi saya yang mampu menyimpan perasaan-perasaan saya dalam jajaran huruf-hurufnya

menulispun membuat saya seperti memiliki mata di dalam hati saya,menulis mengajarkan saya untuk dapat melihat apa yang tidak saya lihat ketika saya melihat sesuatu hanya dengan mata kepala saya. karena saat saya menulis saya kembali memikirkan hal-hal yang akan saya tulis. kalau tulisan saya terbaca baik dan banyak dari kalian yang menyukainya,bahkan terguguh karenanya,itu hanyalah bonus dari Tuhan. apalah saya tanpa Tuhan?:)