Sabtu, 01 Agustus 2015

Kehilangan


Terkadang kita lupa, bahwa nyatanya usia, mereka telah menghitung mundur hidupmu. Maka lakukanlah hal yang nyata membahagiakanmu. Lalu bahagiakan mereka yang kamu sayangi.


Saya tidak akan pernah mampu terbiasa atas kehilangan juga rindu. Keduanya, setiap kali datang, selalu terasa seperti baru pertama kali terjadi. Saya akan tetap merasa hampa dan menangis karenanya. Melaluinya tak pernah bisa sederhana.

Membicarakan tentang kehilangan pasti tidak akan pernah ada habisnya karena hidup selalu mengantarmu pada kedatangan dan perpisahan yang baru. Tapi satu yang saya sadari, mengetahui fakta bahwa tidak hanya diri sendiri yang mengalami kehilangan, tidak lantas mampu membuat segalanya menjadi baik-baik saja.

Kehilangan tetap menjadi hal yang menyakitkan untuk dilalui. Karena segala yang menyakitkan, haruslah dilalui agar kita bisa sampai pada kebaik-baik sajaan. Kebanyakan mereka yang tetap tenggelam dalam kehilangannya, adalah mereka yang memilih menetap di atas lukanya. Bukan lantas melangkah, mencoba menemukan obat yang menyembuhkan luka itu.

Kehilangan karena kematian, selalu jadi yang paling menyakitkan. Kenapa? Karena tidak ada satupun jalan yang bisa ditempuh untuk mendapat sebuah pelukan atau tatapan lagi. Tidak akan pernah bisa. Dan menyadari bahwa kita tidak sedang kehilangan seorang diri, tidaklah lantas mampu membuat segalanya menjadi baik-baik saja. Kehilangan bukanlah sesuatu yang bisa dibanding-bandingkan. Karena setiap manusia memiliki caranya tersendiri dalam menghadapi kehilangan yang datang. 

Begitu juga mungkin saat seseorang harus kehilangan keluarganya yang lain, atau bahkan kehilangan kekasih dan sahabatnya. Bahkan untuk kehilangan yang paling sederhana pun, manusia tidaklah mampu terbiasa melaluinya. Siapa yang mampu merasa kehilangan uang yang tak sengaja jatuh? Setiap kali terjadi, selalu ada penyangkalan bahwa kita tidaklah pantas menerima kehilangan tersebut.

Tetapi apakah benar kita tidak pantas menerimanya? Seandainya memang tidak pantas, apakah juga berarti kita tidak ammpu menghadapinya? Saya selalu percaya bahwa setiap kehilangan yang datang, pastinya datang untuk sebuah alasan baik.

Seseorang yang pernah kehilangan, pasti selangkah lebih memahami, arti dan memiliki. Mampu memahami, bahwa tidak selalu ada kesempatan kedua untuk menyayangi seseorang yang begitu ingin disayangi. Hingga selalu berusaha sekuat tenaga memberi yang terbaik dari yang dimiliki.

Karena esok, tidak ada yang pernah pasti dari esok kecuali bahwa kita hanya punya kesempatan satu kali untuk mati. Tapi janganlah lupa, kalau kita hidup untuk hari ini. Kita hidup untuk setiap saat yang tengah kita lalui.

So, do your best to your beloved one. Love them enough. So you still can live forever in his/her heart. Even when you already dead.

***

PS:
Sudah lama tidak menulis. Lebaran bahkan sudah lewat, saya ingin meminta maaf apabila ada diantara kamu yang pernah merasa tersakiti atas deretan kata yang pernah saya tulis. Bahkan apabila bisa, saya ingin meminta maaf untuk setiap sakit yang saya ciptakan dari deretan kata yang belum saya tulis.

Selasa, 16 Juni 2015

Cinta Pernah Tidak ke Mana-mana Sampai Beberapa Waktu Lamanya



Kita ini seperti sepasang, tanpa pernah benar-benar berduaan.

Jika sudah berbincang, it was more than fun. Kamu bisa menceritakan apa saja dan aku bisa mendengarnya kapan saja dan berapapun lamanya. Kata demi kata. Bagiku itu seperti menonton sebuah film epic yang mampu membuat kita terpaku dan menontonnya berkali-kali.

And then. there's voices in my head, says, "Let's talk, and i will happy till the sky get dark"

Kalau kamu sudah menceritakan sesuatu yang lucu, aku akan terbahak. Don't you know that it's funny how you can always make me laugh (or should i say happy?). Nobody can make me laugh like you did. Rasanya lebih hangat di dalam sana, di dada. Karena aku juga melihat kamu tertawa.

Itu menyenangkan. Kita melakukan hal-hal sederhana. Berbahagia didalamnya. Tidak muluk-muluk. Cukup seperti ini saja, berbincang berdua, dengan kebodohan-kebodohan cerita di dalamnya. Tertawa bersama, melakukan hal bodoh bersama. Karena bahagiaku memang selalu sesederhana, 'apapun, selalu bersamamu, aku bisa bahagia'

Denganmu, aku tidak harus berpura-pura. Tidak harus terlihat pintar, bijaksana, atau dewasa. Cukup menjadi aku saja. Katamu, aku sudah menyenangkan. Tidak perlu menjadi yang bukan aku sebenarnya. Selama itu adalah yang terbaik dari diriku sendiri, berarti itulah aku yang sebenarnya. Kalimat yang tidak pernah bisa aku lupakan dan tidak pernah kamu tau, dari sana aku mulai bisa mencari tau siapa aku sebenarnya. Disitulah aku mulai jatuh cinta (apa kamu mengetahuinya?)

Dan tiba-tiba, jatuh cinta tidak lagi sebuah 'old crap' atau 'alay'. Something that i used to believe in. It's real. I fall in love when you smile. I fall in love when you move your eyebrow up and down. I fall in love with whatever you do.

I fall in love with you. Damn! I just know that 'falling in love' is real. Not a myth, not a bullshit thing.

Sampai akhirnya, kalau ada yang bertanya, bahagia itu apa? Aku ingin menjawab, "kamu". Satu kata itu saja. Satu saja. Itu sudah menggambarkan segalanya. Tapi tidak ada yang pernah menanyakan itu, dan aku khawatir tidak akan berani menjawab seperti itu. Jadi, aku aman. 

Tentang cinta diam-diam itu, mereka sering mengatakan, 'Katakan Saja!'. Ya, mudah mengatakannya, sulit mempraktekannya. Karena, setiap kali aku mau mengatakannya, lalu melihat kamu tersenyum saja, nyaliku rontok begitu saja. Bertanya-tanya resikonya. Kalau ternyata kamu tidak memiliki perasaan yang sama, apa kita masih bisa seperti ini, sedekat ini?. Karena kalau tidak, lebih baik aku tidak mengatakannya. Biar seperti ini saja.

'Cause I love you without any 'terms and conditions'. Without you should love me back or we have to be together eventually. It just love and love its all. It just me, that can take anything as long as you happy'

It's stupid, but i can take it.

But, in the and, i know the risk. Kita akan selalu menyesali tidak hanya apa yang terlanjur kita lakukan, tetapi apa juga yang tidak pernah berani kita katakan atau lakukan. Dan, ya, aku menyesalinya. Menyesali kenapa aku dulu tidak pernah mengatakannya.

Karena waktu berlalu, begitu juga kesempatanku. Terlambat mengetahui kalau kamu pun dulu punya rasa yang sama sepertiku. Sepertinya benar kata orang, hanya karena dua orang pada akhirnya tidak bersama, belum tentu keduanya tidak pernah saling jatuh cinta.

Masih ingat yang aku katakan kalau kita ini seperti sepasang? Ya, benar, ada kata 'seperti' . Hanya seperti. Tidak pernah benar-benar sepasang, atau benar-benar berduaan berbagi gombalan.

Cinta di udara, katanya. Love is in the air. Mungkin karena itu cinta tetap di udara, tidak benar-benar bersama kita. Karena pada kenyatannya, kita tidak pernah benar-benar 'sepasang'. Hanya diberi kesempatan untuk memandang bintang yang sama dari tempat yang berbeda. Bersyukur, bahwa sejauh apapun jaraknya, kita bisa menikmati hal yang sama. Diberi kesempatan untuk merasakan cinta dan membatin, alangkah menyenangkannya kalau kita bersama. Diberi kesempatan untuk belajar melepaskan pada saat justru sedang merasa nyaman.

Mungkin Tuhan membuatnya demikian, untuk mengajarkan kita tentang kebersamaan (dan mungkin keberanian?) dan kenangan (mungkin termasuk melepaskan?). Karena pada akhirnya, love is love and life is life. You can not guess what will happen next. You just have to just accept it, and go with it. Kamu bersama seseorang yang memang untukmu, dan aku pada akhirnya juga bersama seseorang yang memang untukku. Berbahagia sendiri-sendiri dengan orang lain. 

Tetap bisa bahagia, meski tidak bersama. 

Kadang-kadang, aku ingin pada suatu hari kita akan bertemu lagi. Kamu membaca buku sambil mengayun-ngayunkan kakimu,mungkin sesekali minum teh dingin di mejamu, dan aku menikmati musik dari hpku. Bahkan tanpa kita berbicara, aku bisa bahagia hanya berada disana. Bersamamu, berdua. Kita, melakuka hal-hal sederhana dan berbahagia di dalamnya.

Well, in the end, we have to accept the reality. Tentang kita. Tentang kenyamanan yang pernah tercipta, meski harus berakhir juga pada akhirnya.

Sampai bertemu nanti. Kalau Tuhan mempertemukan kita lagi. But even its just a memory, would you say 'Hi' when you see mee?

By the way, dulu pada masa kita, aku pernah menjaga rinduku dengan kadar yang selalu sama setiap harinya, apakah kamu juga?

Minggu, 10 Mei 2015

Tentang Laki-Laki Saya




Ini tentang laki-laki saya.
Pernah dalam beberapa kali kesempatan ia terlihat begitu manja,seperti seorang anak kecil yang tak pernah beranjak dari ayahnya saat bermain. Namun, di lain waktu, ia menjadi seorang laki-laki tangguh yang mandiri dalam memperjuangkan haknya untuk berbahagia. Ia indah dengan caranya.

Ini tentang ia.
Lelaki yang memiliki keteguhan di dadanya. Rumah yang saya tuju untuk pulang dan merebah lelah. Tempat memakamkan rindu-rindu yang sudah lebam dan membiru dalam pelukannya. Banyak orang bilang bahwa untuk membuat seseorang jatuh cinta adalah dengan membuatnya tertawa, tetapi saya justru jatuh cinta saat melihat dia tertawa. Ada sesuatu entah bernama apa yang membuat saya selalu betah menatapnya berkali-kali dan berlama-lama.

Ia adalah seseorang yang cerewet dalam urusan mengomeli kecerobohan dan keteledoran saya terhadap hal-hal kecil yang remeh. Ia adalah sebuah perwujudan dari kata teliti. Namun, ia menjadi begitu lembut saat mengusap kepala saya saat segala hal terasa tak waras dan memusingkan. Dekapnya adalah satu-satunya hal paling masuk akal yang saya punya.

Laki-laki ini adalah seorang sabar yang menyabarkan, seorang yang tabah dan menabahkan. Ia selalu mampu memaafkan dan memberi kesempatan, meski saya tau banyak kesalahan terlewat batas yang saya lakukan, entah saya sengaja maupun tidak. Ia selalu memberi saya waktu untuk memperbaiki diri, sebab ia tau bahwa saya ingin selalu menjadi seseorang yang pantas untuk memperjuangkannya. Ia tak pernah mengungkit kesalahan sebab baginya memaafkan adalah melupakan.

Ini masih tentang ia.
Laki-laki cerdas yang memiliki segala. Bagi saya, isi kepalanya adalah kegembiraan pasar malam. Padanya saya tersesat dengan sukarela. Menjadi seorang anak kecil yang riang bermain hingga tak terfikir pulang.

Ini masih tentang laki-laki saya.
Seseorang yang selalu mampu menerjemaahkan isi kepala saya yang penuh dengan dongeng-dongeng mustahil dan ide-ide gila. Ia tak pernah lesu saat mendengarkan saya bercerita. Ia selalu bisa membuat saya merasa menjadi perempuan hebat saat saya menjadi diri sendiri sebagaimana adanya. Ia tak pernah mengeluh meski segala hal yang saya bicarakan sebenarnya membosankan dan mengherankan. Ia tau bagaimana cara memuliakan perempuannya.

Ini tentang kau, Resa Mahecsya Lukman.
Seseorang yang selalu bisa membuat saya jatuh cinta.

Terimakasih untuk 350 hari penuh cerita. Mari menghitung lebih banyak lagi 
untuk waktu-waktu mendatang.
Tetaplah bergenggaman dan jangan pernah merenggang.


Bandung, 10 Mei 2015.

Sabtu, 07 Maret 2015

Selama Tentang Kamu


Dengar, jangan lakukan apa-apa, jangan katakan apa-apa. Cukup baca dan pahami saja. Kamu tidak perlu membalasnya, tidak perlu juga terlalu memikirkannya.

Kalau kamu butuh teman untuk bercerita, kamu punya emailku, punya sosial mediaku untuk membaginya. Aku pasti akan membalasnya secepat aku bisa.

Kalau kamu butuh bahuku, selama memungkinkan aku juga bisa mengusahakan untuk kesana. Bahuku untukmu kapan saja. Untuk bersandar ketika kamu lelah dengan dunia, atau untuk sekedar menyandarkan bahagia agar tidak berlebihan dalam menanggapinya. Mungkin tidak seberapa, tapi kadang hanya itu yang aku punya untuk bisa melihatmu kembali tertawa seperti biasanya.

Kalau kamu butuh nasehat, aku juga disini, selalu disini. Bukan untuk menunggumu kembali, bukan untuk membuatmu jatuh hati. Aku disini hanya untuk sementara, ketika kamu membutuhkan, bukan untuk menetap selamanya. Aku tidak berharap lebih, karena kamu pasti juga tidak bisa memberikan lebih. Keadaan yang harus kita terima.

Kalau kamu ingin bantuanku, apa saja, katakan saja. Aku sediakan waktu dan fikiranku sebanyak aku bisa. Kalau tidak banyak membantu, setidaknya aku tetap ingin memastikan kalau kamu baik-baik saja.

Kalau kamu merasa sepi, seharusnya itu tidak perlu. Karena kamu harus tau, aku memperhatikanmu. Bukan sebagai stalker, hanya sebagai seseorang yang ingin menjagamu. Aku tidak akan menyapamu, tidak akan melambaikan tangan, tidak akan menghubungimu. Selama kamu baik-baik saja, itu sudah cukup. Kamu tidak pernah sendiri, karena ada aku yang selalu memikirkanmu. Tetapi, jangan memintaku berhenti melakukannya, karena itu terjadi begitu saja.

Kalau dia melukaimu, aku disini. Katakan saja, biar kita bahas penyelesaiannya. Jangan khawatir aku akan memukulnya atau melabraknya, Kamu tau aku tidak akan melakukannya. Bukan karena aku takut, aku tidak mau keadaan justru bertambah buruk.

Kalau dia mengecewakanmu, berbagilah denganku. Aku tidak akan mempengaruhimu untuk menjauhinya, aku justru akan membuatmu lebih mengenalnya. Siapa tau harapanmu yang terlalu tinggi tentangnya, jadi kalau kamu kecewa, bukan salah dia.

Kalau kamu sedang bertengkar dengannya, kemari, bagikan kepadaku amarahnya. Katakan semua yang buruk-buruk tentangnya. Aku akan sediakan telingaku sepanjang kamu membutuhkannya. Kalau kamu sudah selesai merutuk, gantian kamu harus mendengarku. Aku akan bertanya tentang kebaikan-kebaikannya, dan kamu harus menjelaskannya. Kemudian aku akan memintamu fokus dengan hal itu, dan aku harap kamu mau menurutinya.

Kadang-kadang, ketika kita sudah bersama seseorang, kita harus bisa menerima bahwa tidak selalu segala sesuatunya seperti keinginan kita. Ingat, itu sudah 'kita' bukan lagi 'aku saja'

Kamu tidak perlu bertanya kenapa aku menuliskan ini, kenapa aku mau melakukan semua yang aku tuliskan ini. Tetapi, percayalah kalau aku memang bersedia melakukannya, sepanjang itu tentang kamu. Selama tentang kamu.

Dan kalau kemudian kamu bisa kembali baik-baik saja setelah melakukan semua yang kutulis disana, kamu boleh kembali lagi padanya.

Itu saja.

Oya, jangan pernah bertanya cintaku sebesar apa, karena jelas lebih besar dari yang kamu punya

Senin, 26 Januari 2015

Sebab Kau Perempuan



Teruntuk perempuan perempuanku yang sering lupa bahwa dirinya pantas dimuliakan


Saya baru saja menerima email berisi curhatan seorang perempuan. Ini bukan curhatannya yang pertama. Saya paling anti membicarakan rahasia orang lain yang sudah dipercayakan kepada saya, tapi kali ini berbeda. Mohon maaf kalau saya terkesan mengumbar aib orang lain, tapi saya rasa ini perlu disampaikan sebagai suatu pelajaran. Untuk saya, untuk kau yang membaca, dan untuk orang-orang di sekitar kita.

Email pertamanya bercerita tentang laki-lakinya yang sangat ia sayangi dan menyayanginya. Semuanya baik-baik saja sampai akhirnya ia terlibat dengan laki-lakinya mengenai kepercayaan. Si laki-laki bilang "kalau kamu sayang sama aku, seharusnya kamu percaya. Kalau kamu gak percaya, berarti kamu belum sayang", lantas si perempuan dengan panjang lebar menjelaskan betapa ia menyayangi laki-lakinya itu sampai ia lelah sendiri.

Lalu di lain waktu, si perempuan akan balas bertanya, "kamu sayang sama aku?" yang langsung dijawab oleh si laki-laki, "tentu" namun ketika si perempuan bertanya lagi, "kamu percaya sama aku?" lantas si laki-laki menjawab "aku tak percaya"

Si perempuan merasa bingung, ia bertanya kepada saya mengapa laki-lakinya berkata sayang tapi tak percaya padanya lantas menuntutnya untuk percaya pada laki-lakinya? Ia bertanya pula, apa penting sekali kepercayaan dalam suatu hubungan dan ia harus berkata apa pada laki-lakinya? Ia juga bercerita mengenai ketakutannya kelak jika laki-laki mengkhianatinya sementara ia sudah begitu percaya pada laki-lakinya.

Saya berfikir sejenak. Saya katakan padanya bahwa kepercayaan dalam suatu hubungan itu serupa pondasi sebuah bangunan. Seharusnya, menjalin hubungan dengan seseorang itu membuat kita mencintai diri sendiri, membuat kita tenang karena merasa ditemani, bukan membuat kita uring-uringan karena merasa curiga dan selalu di curigai.

Saya tambahkan pula bahwa untuk percaya pada seseorang itu memang perlu hati-hati, tapi kalau memang kita mau percaya, jangan pernah memikirkan "kalau nanti dibohongi,bagaimana?". Saya sarankan ia untuk fokus mempertahankan kepercayaan orang lain yang diberikan saja dan menjadi orang yang berfikir positif mengenai orang lain, apa lagi dengan laki-lakinya.

Sesi curhat melalu email saat itu berhenti di situ saja. Suatu ketika, saya mendapatkan email darinya lagi. Ia bercerita mengenai laki-lakinya dan kali ini curhatannya berbeda.

Ia bercerita bahwa hubungannya dengan si laki-laki baru saja berakhir karena ada temannya yang ikut campur dan laki-lakinya itu tak suka saat ia membela temannya. Ia menjelaskan pada laki-lakinya, mencoba untuk membuat laki-lakinya mengerti tapi laki-lakinya tetap marah. Merasa martabatnya di hina oleh teman si perempuan lantas si laki-laki mengakhiri hubungannya dengan si perempuan. Kata si laki-laki, ia sudah tak cinta lagi padanya. Maka ia menangis. Ia ingin semuanya kembali seperti semula. Sampai akhirnya, di akhir email, ia bertanya kepada saya "bagaimana cara membuat semuanya kembali seperti semula? saya diberi waktu 5 hari untuk membuatnya kembali menyayangi saya. Saya harus apa agar sayangnya kembali kepada saya dalam waktu 5 hari? Saya butuh saran"

Saya balas emailnya dengan "tinggalkan"

Saya begitu marah.

Entah karena apa saya begitu marah sekali. Saya marah pada semuanya, pada si perempuan, pada si laki-laki dan pada diri saya sendiri.

Saya lantas merenung, benarkah cinta akan membuat kita merangkak tolol seperti itu? sejahat itukah?

Di kepala saya, memaksakan cinta itu tak pernah masuk akal, tak pernah mendapatkan persetujuan. Apalagi ini si laki-laki minta supaya si perempuan membuatnya jatuh cinta dalam 5 hari. Memangnya dia siapa? Goddamnit! Is he that fucking-roro-jonggrang-male-version?

Memangnya ini zaman dahulu yang memberi sayembara "buatkan aku candi semalaman" atau "buatkan aku gunung dalam waktu setengah hari"?

Wake up! Memangnya kau fikir kau siapa? Anak raja? kalau memang mau jatuh cinta, mengembalikan semuanya menjadi seperti semula, keduanya harus berusaha. Jangan meminta yang lain harus berusaha sementara yang lainnya menunggu saja.

Saya merenung. Memangnya masih ada ya zaman sekarang laki-laki yang bertingkah macam seperti itu dengan memarahi perempuan, menyalah nyalahi perempuan sehingga merasa lebih tinggi martabatnya dari perempuan, merasa berwenang untuk berkata kasar dan memperlakukan perempuan seenaknya?

Memangnya masih ada perempuan yang mau diperlakukan seperti itu?

Saya menghela nafas. Tentu saja. Tentu saja masih ada. Ini buktinya. Tak tau di luar sana ada berapa banyak lagi.

Saya sedih sekali. Ternyata masih banyak teman-teman perempuan yang tak mengerti cara menghargai diri mereka sendiri. Banyak yang tak memahami bahwa memperjuangkan laki-laki itu bukan dengan patuh pada aturan-aturan bodoh yang dibuat laki-lakinya itu. Kita perempuan, memang di wajibkan untuk menghormati laki-laki, tapi harus tau juga laki-laki macam apa yang pantas di hormati dan dipatuhi. Kalau si laki-laki memberi peraturan tak masuk akal dan kita menjelma kerbau yang dicolok hidungnya, mengikuti apa saja katanya tanpa difikir dulu, itu namanya dungu. Berjuang ya berjuang, tapi tak setolol itu juga.

Sayangku, para perempuan. Bersyukurlah kau menjadi perempuan dan ketahuilah bahwa sangat sangat sangat pantas dimuliakan. Kau pantas mendapatkan perlakuan yang lebih baik dari laki-lakimu. Kau pantas dibahagiakan. Kau pantas mendapat kepercayaan.

Jangan pernah kau biarkan orang lain membuatmu menangis sendirian. Kau lebih kuat dari yang kau kira. Jangan biarkan orang lain menyetir pilihanmu sebab kaulah yang paling berhak atas kebahagiaanmu sendiri.

Maka saat kau temukan laki-laki yang merasa berhak atas hidupmu, dengan berkata kasar, menampar, mengabaikan, dan membentak, baliklah badan lalu berjalan pelan-pelan. Kau boleh menangis, tapi jangan berhenti melangkah untuk menjauh darinya. Kau boleh merasa sakit, tapi saat itu saja.

Sebab, kau adalah perempuan.

Kau adalah sosok yang diciptakan untuk dimuliakan. Abu-abu pada duniamu yang kehilangan (karena menjauh darinya) itu hanya sementara. Dengan memperbaiki diri, kau akan diberi warna serupa pelangi.

Sayang, sebab kau adalah perempuan.

Maka mulailah menghargai diri sendiri, agar kau tau perlakuan mana yang pantas dan yang tak pantas kau terima dari orang-orang di sekitarmu. Memperjuangkan dengan menjadi tolol itu jelas dua hal yang berbeda. Belajarlah. Pandai-pandai lah menjaga dirimu sebab kau adalah perempuan.

Kau pantas mendapatkan kebahagiaan dari laki-laki yang menggenggam tanganmu saat kau jatuh dan lupa cara menghormati diri sendiri, bukan justru mendapatkan caci maki laki-laki yang berusaha membuat kau merasa tak memiliki arti.

Sayangku.

Jangan takut sendirian. Sebab kau selalu punya teman. Takutlah saat kau sudah terlalu patuh pada peraturan-peraturan tak masuk akal dari seseorang yang mau bertanggung jawab atas kesedihanmu saja tidak.

Peremuan pandai adalah perempuan yang membekali diri sendiri dengan ilmu-ilmu, yang tak membiarkan isi kepalanya menjadi kota mati, yang tak malas berfikir, yang menghargai dirinya sendiri. Perempuan pandai adalah perempuan yang memperlakukan orang lain dengan hormat dan tau bahwa ia pantas dimuliakan dan di perlakukan dengan hormat pula. Perempuan pandai adalah perempuan yang tidak membiarkan siapapun menjatuhkan harga dirinya, tak membiarkan siapapun menudingnya dan menyalahi setiap hal yang ia lakukan. Perempuan pandai tau mana yang pantas ia patuhi, dan mana yang pantas ia tinggal pergi.


Terimakasih untuk laki-laki yang sebenar-benarnya laki-laki, yang mau mendengarkan perempuannya, menghargai pendapatnya, memperlakukannya dengan kelembutan dan kasih sayang, menjaganya dengan segenap kemampuan. Terima kasih banyak...:)