Surat ini saya tulis untuk perempuan-perempuan di luar sana, yang tak bisa saya tatap matanya, saya peluk tangisnya, saya dengarkan luka-lukanya, dan saya tampar pipinya.
Surat ini saya tulis untuk perempuan-perempuan yang sudah terlalu akrab dengan rasa sakit hati.
Dear, Perempuan.
Saya tau betul rasanya jatuh cinta, sama baiknya seperti yang kamu tau. Ada debar, percik bahagia, dan bunga bermekaran di dalam dada. Saya juga tau bagaimana rasanya kecewa, saat tangis dan luka melebur jadi satu di malam-malam tak berpurnama yang terlanjur kesepian.
Sebab cinta membahagiakan, maka sudah seharusnya kita mempertahankan.
Banyak laki-laki tak tau, bahwa sesungguhnya, dengan memaafkan, perempuan sudah berjuang mengalahkan egonya sendiri.
Hem. Begini Begini..
Pernah tidak mengalami pertengkaran hebat, lalu kau menangis sesenggukan, bahkan sampai ketiduran, atau kau jadi malas berbicara dan inginnya diam saja, malas pula mendengarkan. Pernah? Nah, di akhir pertengkaran, bertemulah kau dengam momen "maaf-memaafkan" dengan si laki-laki yang kebetulan kali itu dia yang meminta maaf duluan,
Dan kau memaafkan.
Dan itu adalah satu perjuangan.
Banyak laki-laki yang kemudian bilang, "yang minta maaf aku terus, dia mah nggak pernah" . Salah satu teman laki-laki saya pernah curhat seperti itu. Saya sih tertawa saja. Lah memang, kalau si laki-laki yang salah kan mereka yang harus meminta maaf, kecuali kalau memang si perempuan yang salah, baru deh boleh ngambek-ngambek kenapa si perempuan tidak meminta maaf. Ah, cukup soal minta maaf disini. Perdebatan soal "siapa duluan yang seharusnya meminta maaf" saya rasa tidak akan habis.
Intinya, saat perempuan memaafkan, artinya ia (juga) telah melakukan satu perjuangan.
Dear man. Note that.
Anyway, surat kali ini tidak saya tujukan kepada laki-laki (yang saya yakin setelah membaca tulisan saya ini akan langsung berteriak ramai "IYAA, MEMANG PEREMPUAN SELALU BENAR! LAKI-LAKI MAH APAAA ATUH"), Tapi saya tujukan untuk teman-teman perempuan.
Mm, begini.
Kita hidup hanya sekali, untungnya.. jatuh cinta bisa berkali-kali. Jadi mari hidup sebahagia-bahagianya. Temukan seorang laki-laki yang bisa kau jadikan teman, pelindung, saudara, dan kekasih. Temukan laki-laki yang memuliakanmu, memperjuangkanmu, dan mencintaimu sama besarnya seperti kau mencintainya.
Jadi, jika kau adalah salah satu dari perempuan-perempuan "sabar" (tentu dengan kasus yang lebih bervariasi yang mungkin tak pernah terlintas dalam kepala saya sebelumnya) maka ini yang bisa saya katakan
Lepaskan apa yang membuatmu terluka, lalu berbahagialah.
Melangkahlah, sebab dengan atau tanpa dia, dunia akan tetap sama. Berwarna sebagaimana seharusnya.
Lekas usap air mata, lalu bangkitlah.
Jangan menangisi keadaan tapi kau tetap menegakkan kaki disana, tak beranjak ke mana-mana.
Tak ada yang salah dengan melepaskan sesuatu yang memang tak seharusnya kau genggam. Yakin dan percayalah bahwa Tuhan telah menyiapkan skenario lain untukmu, untuk sabarmu, untuk cintamu setelah ini.
Takut sedih?
Aduh, Sini, Biar ku peluk kau.
Dengarkan baik-baik, kesedihan akan selalu datang selama kau masih mampu merasakan kebahagiaan. Mereka adalah pasangan, saling melengkapi. Yang satu ada karena yang satu lagi tercipta. Satu paket datangnya, dan kau tak bisa menolak.
Maka jika setelah putus dengan laki-laki yang tak pantas kau perjuangkan, lantas kau merasa berduka, sedih, dan merasa dunia ini tak adil, merasa lagu patah hati begitu menusuk nusuk jiwa.. kuberitau kau bahwa itu adalah perasaan yang wajar. Sebab tak ada yang mampu menanggapi kehilangan dengan bahagia-bahagia saja. Jika setelah putus kau ingin langsung merasa bahagia, then be it!
Berbahagialah. Tulis hal-hal yang membuatmu bahagia, lalu lakukan. Tulis hal-hal yang membuatmu bersyukur karena telah lepas darinya, lalu ikhlaskan.
Jangan hanya diam termenung, menunggu ditemukan laki-laki seperti di dalam dongeng-dongeng "happily ever after" kesukaanmu itu.
This is the reality.
Tak ada satupun laki-laki yang datang padamu jika kau tak membukakan pintu dan mengurung diri dalam rumah kesedihanmu!
"Berhentilah mencari laki-laki untuk membuatmu bahagia. Mulailah menjadi perempuan bahagia yang di cari laki-laki"
Jika kau merasa berjuang sendirian, merasa menangis sendirian, merasa sabar sendirian, maka dengan segenap amarah, biarkan saya menampar keras pipimu.
Sadarlah.
Kau punya pilihan.
Benahi.
Atau tinggalkan.
