Jumat, 01 Agustus 2014

Pada Sepotong Malam Hujan Setelah Kenangan



Malam datang lagi. Rindu mencekam dengan bahasa hujan yang dingin dan kesepian. Aku duduk mendekap lutut, bersama segelas teh, kue kering dan repih-repih perasaan yang berceceran di setumpukan catatan rencana yang tak jadi. Kenyataan menampar sadar bahwa selepas hilang tak ada lagi yang bisa di rapikan.

Pada akhirnya, aku dipaksa menyerah menerima keadaan. Meratap diri untuk tabah menerima kekalahan-kekalahan. Beberapa orang pernah berkata, menyerah bukan berarti kalah, itu hanya menjadi semacam pengingat bahwa ada beberapa hal dalam hidup yang tak dapat di paksakan. Mungkin memang benar, hidup adalah sekumpulan kompromi untuk menyesuaikan diri. Baik-buruk, bahagia-luka, sedih-tertawa, hanya sekeping rasa yang hanya bisa dirasakan saat mau memilih untuk menikmati yang mana.

Tapi harus kau ingat, aku tak pernah memaksa agar kau selalu berada di sini, menemani, untuk waktu yang lama atau bahkan selamanya. Aku hanya memperjuangkan kebahagiaan yang ku miliki, kebahagiaan itu kamu. Tapi nyatanya kebahagiaanku bukanlah menjadi kebahagiaanmu. Sedihku, ternyata bukan lagi menjadi sedihmu. Aku lelah menjadi asing di dalam kepalamu. Dan kau, telah menjadi sedemikian berada di dalam ingatanku.

Tapi baiklah, toh sekuat apapun aku berusaha, hal yang tak mungkin bisa menjadi milikku, tetap saja tidak akan bisa bersama. Sekeras apapun aku mencoba, sesuatu yang seharusnya pergi akan tetap meninggalkan juga. Maka, disinilah aku sekarang. Menyendiri diantara kesepian tak bernama. Mengenang kau yang berlalu dan tiada. Membenahi kita yang kau abaikan dengan doa-doa "semoga kau berbahagia, dengan sekeping hati baru yang bukan aku"

Tidak ada komentar:

Posting Komentar