Senin, 15 September 2014

Sebuah Peluk


Aku sering menemukan diriku sendiri terbangun di tengah malam dengan nafas memburu dan linglung, tak tau harus melakukan apa. Atau seringkali aku terperangkap dalam sebuah mimpi yang aku sendiri sadar bahwa aku sedang bermimpi tapi tak sanggup bangun. Aku pernah mencoba menampar diriku sendiri beberapa kali di dalam mimpi, tapi tak bangun juga hingga aku menangis keras-keras. Aku merasakan hangat air mata yang meleleh di sudut mataku tapi aku tak sanggup bersuara selain sesenggukan, sadar bahwa aku sedang bermimpi dan benci karena aku tak sanggup bangun saat itu juga.

Pernahkah kau bermimpi lalu yakin sesuatu hal buruk akan terjadi tepat ketika kau bangun dan sibuk mengatur nafasmu yang berkejaran?

Lalu tidur menjadi sesuatu yang menakutkan.

Orang tuaku bilang, mungkin aku hanya lupa membaca doa sesaat sebelum tidur padahal aku selalu membaca doa. Tak pernah kurang satu doapun seperti yang dulu pernah mereka ajarkan.

Sahabatku bilang, mungkin aku hanya kurang makan dan minum padahal aku selalu memastikan perutku kenyang sebelum tidur supaya tak terbangun tengah malam karena kelaparan. Lagipula aku tak menyimpan makanan apapun di kamar untuk ku makan kalau-kalau aku terbangun.

Lalu tidur menjadi sesuatu yang menakutkan.

Percayakah kau pada jimat? Sesuatu yang bertuah, mengusir segala hal yang buruk, lalu mendatangkan keberuntungan.

Aku pernah menemukan diriku begitu terkejut, terbangun tengah malam dengan seluruh badan gemetar, gigi bergemelutuk dan nafas tercekat. Lalu aku temukan peluknya, sesuatu semacam jimat yang ajaibnya membuatku langsung merasa tenang. Aku mendekapnya erat, menangis di dadanya. Tak sampai tiga menit, aku sudah tertidur lagi. Lebih pulas.

Paginya, saat ia bertanya apa aku semalam mimpi buruk, aku berusaha keras mengingat. Sungguh aku hampir lupa. Padahal biasanya, aku akan sulit tidur kembali setelah terbangun karena mimpi dan akan selalu ingat mimpi itu saat hendak tidur sampai tiga hari kedepan.

Dia adalah sebaik-baik jimat.

Pernahkah kau merasa bahwa kau ingin terjaga di dada bidang seseorang, menikmati belaian tangannya di punggung, wangi aroma nafasnya dan gerakan dadanya yang teratur? Lalu kau merasa tak penting itu terjaga atau bermimpi sebab dalam keduanya, kau akan bertemu dengan orang yang sama dan rasanya sama-sama membahagiakan.

Itu yang aku rasakan. Saat merajut lelap di dekap dadanya.

Dia adalah sebaik-baik jimat.

Maka setelah kau membaca tulisanku ini, adakah kau mengingat seseorang? lalu kau ingin berlari, mengendus wanginya dan mendekapnya erat?

Maka kau setelah membaca tulisanku ini, adakah sedikit saja air mata meleleh karena buncah rindu tiba-tiba menemukan perciknya di dalam dada? Lalu tanganmu gemetar, sibuk mencari genggam yang selama ini menguatkan?

Maka kau setelah membaca tulisanku ini, masihkah kau menginginkan jawaban?

Sebab dia adalah sebaik-baik jimat.

Sebab dia adalah kau.

Aku tunggu kau di sudut sesal, saat aku terlalu terlambat menjawab pertanyaan " apa arti aku bagimu?" hingga akhirnya kau hilang, tak meninggalkan jejak apa-apa untuk kucari dan ku ikuti lagi.

Maka setelah membaca tulisanku ini, maukah kau kiranya pulang, sayang?

Sebab mimpiku memanggilmu kembali. Saatnya aku terlelap dalam dekapmu lagi.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar