Teruntuk perempuan perempuanku yang sering lupa bahwa dirinya pantas dimuliakan
Saya baru saja menerima email berisi curhatan seorang perempuan. Ini bukan curhatannya yang pertama. Saya paling anti membicarakan rahasia orang lain yang sudah dipercayakan kepada saya, tapi kali ini berbeda. Mohon maaf kalau saya terkesan mengumbar aib orang lain, tapi saya rasa ini perlu disampaikan sebagai suatu pelajaran. Untuk saya, untuk kau yang membaca, dan untuk orang-orang di sekitar kita.
Email pertamanya bercerita tentang laki-lakinya yang sangat ia sayangi dan menyayanginya. Semuanya baik-baik saja sampai akhirnya ia terlibat dengan laki-lakinya mengenai kepercayaan. Si laki-laki bilang "kalau kamu sayang sama aku, seharusnya kamu percaya. Kalau kamu gak percaya, berarti kamu belum sayang", lantas si perempuan dengan panjang lebar menjelaskan betapa ia menyayangi laki-lakinya itu sampai ia lelah sendiri.
Lalu di lain waktu, si perempuan akan balas bertanya, "kamu sayang sama aku?" yang langsung dijawab oleh si laki-laki, "tentu" namun ketika si perempuan bertanya lagi, "kamu percaya sama aku?" lantas si laki-laki menjawab "aku tak percaya"
Si perempuan merasa bingung, ia bertanya kepada saya mengapa laki-lakinya berkata sayang tapi tak percaya padanya lantas menuntutnya untuk percaya pada laki-lakinya? Ia bertanya pula, apa penting sekali kepercayaan dalam suatu hubungan dan ia harus berkata apa pada laki-lakinya? Ia juga bercerita mengenai ketakutannya kelak jika laki-laki mengkhianatinya sementara ia sudah begitu percaya pada laki-lakinya.
Saya berfikir sejenak. Saya katakan padanya bahwa kepercayaan dalam suatu hubungan itu serupa pondasi sebuah bangunan. Seharusnya, menjalin hubungan dengan seseorang itu membuat kita mencintai diri sendiri, membuat kita tenang karena merasa ditemani, bukan membuat kita uring-uringan karena merasa curiga dan selalu di curigai.
Saya tambahkan pula bahwa untuk percaya pada seseorang itu memang perlu hati-hati, tapi kalau memang kita mau percaya, jangan pernah memikirkan "kalau nanti dibohongi,bagaimana?". Saya sarankan ia untuk fokus mempertahankan kepercayaan orang lain yang diberikan saja dan menjadi orang yang berfikir positif mengenai orang lain, apa lagi dengan laki-lakinya.
Sesi curhat melalu email saat itu berhenti di situ saja. Suatu ketika, saya mendapatkan email darinya lagi. Ia bercerita mengenai laki-lakinya dan kali ini curhatannya berbeda.
Ia bercerita bahwa hubungannya dengan si laki-laki baru saja berakhir karena ada temannya yang ikut campur dan laki-lakinya itu tak suka saat ia membela temannya. Ia menjelaskan pada laki-lakinya, mencoba untuk membuat laki-lakinya mengerti tapi laki-lakinya tetap marah. Merasa martabatnya di hina oleh teman si perempuan lantas si laki-laki mengakhiri hubungannya dengan si perempuan. Kata si laki-laki, ia sudah tak cinta lagi padanya. Maka ia menangis. Ia ingin semuanya kembali seperti semula. Sampai akhirnya, di akhir email, ia bertanya kepada saya "bagaimana cara membuat semuanya kembali seperti semula? saya diberi waktu 5 hari untuk membuatnya kembali menyayangi saya. Saya harus apa agar sayangnya kembali kepada saya dalam waktu 5 hari? Saya butuh saran"
Saya balas emailnya dengan "tinggalkan"
Saya begitu marah.
Entah karena apa saya begitu marah sekali. Saya marah pada semuanya, pada si perempuan, pada si laki-laki dan pada diri saya sendiri.
Saya lantas merenung, benarkah cinta akan membuat kita merangkak tolol seperti itu? sejahat itukah?
Di kepala saya, memaksakan cinta itu tak pernah masuk akal, tak pernah mendapatkan persetujuan. Apalagi ini si laki-laki minta supaya si perempuan membuatnya jatuh cinta dalam 5 hari. Memangnya dia siapa? Goddamnit! Is he that fucking-roro-jonggrang-male-version?
Memangnya ini zaman dahulu yang memberi sayembara "buatkan aku candi semalaman" atau "buatkan aku gunung dalam waktu setengah hari"?
Wake up! Memangnya kau fikir kau siapa? Anak raja? kalau memang mau jatuh cinta, mengembalikan semuanya menjadi seperti semula, keduanya harus berusaha. Jangan meminta yang lain harus berusaha sementara yang lainnya menunggu saja.
Saya merenung. Memangnya masih ada ya zaman sekarang laki-laki yang bertingkah macam seperti itu dengan memarahi perempuan, menyalah nyalahi perempuan sehingga merasa lebih tinggi martabatnya dari perempuan, merasa berwenang untuk berkata kasar dan memperlakukan perempuan seenaknya?
Memangnya masih ada perempuan yang mau diperlakukan seperti itu?
Saya menghela nafas. Tentu saja. Tentu saja masih ada. Ini buktinya. Tak tau di luar sana ada berapa banyak lagi.
Saya sedih sekali. Ternyata masih banyak teman-teman perempuan yang tak mengerti cara menghargai diri mereka sendiri. Banyak yang tak memahami bahwa memperjuangkan laki-laki itu bukan dengan patuh pada aturan-aturan bodoh yang dibuat laki-lakinya itu. Kita perempuan, memang di wajibkan untuk menghormati laki-laki, tapi harus tau juga laki-laki macam apa yang pantas di hormati dan dipatuhi. Kalau si laki-laki memberi peraturan tak masuk akal dan kita menjelma kerbau yang dicolok hidungnya, mengikuti apa saja katanya tanpa difikir dulu, itu namanya dungu. Berjuang ya berjuang, tapi tak setolol itu juga.
Sayangku, para perempuan. Bersyukurlah kau menjadi perempuan dan ketahuilah bahwa sangat sangat sangat pantas dimuliakan. Kau pantas mendapatkan perlakuan yang lebih baik dari laki-lakimu. Kau pantas dibahagiakan. Kau pantas mendapat kepercayaan.
Jangan pernah kau biarkan orang lain membuatmu menangis sendirian. Kau lebih kuat dari yang kau kira. Jangan biarkan orang lain menyetir pilihanmu sebab kaulah yang paling berhak atas kebahagiaanmu sendiri.
Maka saat kau temukan laki-laki yang merasa berhak atas hidupmu, dengan berkata kasar, menampar, mengabaikan, dan membentak, baliklah badan lalu berjalan pelan-pelan. Kau boleh menangis, tapi jangan berhenti melangkah untuk menjauh darinya. Kau boleh merasa sakit, tapi saat itu saja.
Sebab, kau adalah perempuan.
Kau adalah sosok yang diciptakan untuk dimuliakan. Abu-abu pada duniamu yang kehilangan (karena menjauh darinya) itu hanya sementara. Dengan memperbaiki diri, kau akan diberi warna serupa pelangi.
Sayang, sebab kau adalah perempuan.
Maka mulailah menghargai diri sendiri, agar kau tau perlakuan mana yang pantas dan yang tak pantas kau terima dari orang-orang di sekitarmu. Memperjuangkan dengan menjadi tolol itu jelas dua hal yang berbeda. Belajarlah. Pandai-pandai lah menjaga dirimu sebab kau adalah perempuan.
Kau pantas mendapatkan kebahagiaan dari laki-laki yang menggenggam tanganmu saat kau jatuh dan lupa cara menghormati diri sendiri, bukan justru mendapatkan caci maki laki-laki yang berusaha membuat kau merasa tak memiliki arti.
Sayangku.
Jangan takut sendirian. Sebab kau selalu punya teman. Takutlah saat kau sudah terlalu patuh pada peraturan-peraturan tak masuk akal dari seseorang yang mau bertanggung jawab atas kesedihanmu saja tidak.
Saya merenung. Memangnya masih ada ya zaman sekarang laki-laki yang bertingkah macam seperti itu dengan memarahi perempuan, menyalah nyalahi perempuan sehingga merasa lebih tinggi martabatnya dari perempuan, merasa berwenang untuk berkata kasar dan memperlakukan perempuan seenaknya?
Memangnya masih ada perempuan yang mau diperlakukan seperti itu?
Saya menghela nafas. Tentu saja. Tentu saja masih ada. Ini buktinya. Tak tau di luar sana ada berapa banyak lagi.
Saya sedih sekali. Ternyata masih banyak teman-teman perempuan yang tak mengerti cara menghargai diri mereka sendiri. Banyak yang tak memahami bahwa memperjuangkan laki-laki itu bukan dengan patuh pada aturan-aturan bodoh yang dibuat laki-lakinya itu. Kita perempuan, memang di wajibkan untuk menghormati laki-laki, tapi harus tau juga laki-laki macam apa yang pantas di hormati dan dipatuhi. Kalau si laki-laki memberi peraturan tak masuk akal dan kita menjelma kerbau yang dicolok hidungnya, mengikuti apa saja katanya tanpa difikir dulu, itu namanya dungu. Berjuang ya berjuang, tapi tak setolol itu juga.
Sayangku, para perempuan. Bersyukurlah kau menjadi perempuan dan ketahuilah bahwa sangat sangat sangat pantas dimuliakan. Kau pantas mendapatkan perlakuan yang lebih baik dari laki-lakimu. Kau pantas dibahagiakan. Kau pantas mendapat kepercayaan.
Jangan pernah kau biarkan orang lain membuatmu menangis sendirian. Kau lebih kuat dari yang kau kira. Jangan biarkan orang lain menyetir pilihanmu sebab kaulah yang paling berhak atas kebahagiaanmu sendiri.
Maka saat kau temukan laki-laki yang merasa berhak atas hidupmu, dengan berkata kasar, menampar, mengabaikan, dan membentak, baliklah badan lalu berjalan pelan-pelan. Kau boleh menangis, tapi jangan berhenti melangkah untuk menjauh darinya. Kau boleh merasa sakit, tapi saat itu saja.
Sebab, kau adalah perempuan.
Kau adalah sosok yang diciptakan untuk dimuliakan. Abu-abu pada duniamu yang kehilangan (karena menjauh darinya) itu hanya sementara. Dengan memperbaiki diri, kau akan diberi warna serupa pelangi.
Sayang, sebab kau adalah perempuan.
Maka mulailah menghargai diri sendiri, agar kau tau perlakuan mana yang pantas dan yang tak pantas kau terima dari orang-orang di sekitarmu. Memperjuangkan dengan menjadi tolol itu jelas dua hal yang berbeda. Belajarlah. Pandai-pandai lah menjaga dirimu sebab kau adalah perempuan.
Kau pantas mendapatkan kebahagiaan dari laki-laki yang menggenggam tanganmu saat kau jatuh dan lupa cara menghormati diri sendiri, bukan justru mendapatkan caci maki laki-laki yang berusaha membuat kau merasa tak memiliki arti.
Sayangku.
Jangan takut sendirian. Sebab kau selalu punya teman. Takutlah saat kau sudah terlalu patuh pada peraturan-peraturan tak masuk akal dari seseorang yang mau bertanggung jawab atas kesedihanmu saja tidak.
Peremuan pandai adalah perempuan yang membekali diri sendiri dengan ilmu-ilmu, yang tak membiarkan isi kepalanya menjadi kota mati, yang tak malas berfikir, yang menghargai dirinya sendiri. Perempuan pandai adalah perempuan yang memperlakukan orang lain dengan hormat dan tau bahwa ia pantas dimuliakan dan di perlakukan dengan hormat pula. Perempuan pandai adalah perempuan yang tidak membiarkan siapapun menjatuhkan harga dirinya, tak membiarkan siapapun menudingnya dan menyalahi setiap hal yang ia lakukan. Perempuan pandai tau mana yang pantas ia patuhi, dan mana yang pantas ia tinggal pergi.
Terimakasih untuk laki-laki yang sebenar-benarnya laki-laki, yang mau mendengarkan perempuannya, menghargai pendapatnya, memperlakukannya dengan kelembutan dan kasih sayang, menjaganya dengan segenap kemampuan. Terima kasih banyak...:)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar