Selamat pagi, Februari. Bulan merah jambu. Begitulah banyak orang menyebutmu.
Buku, segelas coklat hangat, dan sesisir roti coklat. Biasanya mereka menjadi santapan lezat dan mampu memulihkan keceriaan yang nyaris karat. Entahlah, pagi ini laju debar terlalu cepat, isi kepala pun luar biasa padat.
Februari, kau tau? ingatanku sedang tamasya beberapa terakhir hari ini. Kuyup dalam deras hujan memori yang tak kunjung reda. Beberapa hari terakhir, aku sengaja melingkari barisan angka-angka dalam kalender di meja kamar. Sebab rasanya tahun ini ingin melewatkanmu begitu saja, berharap bisa tertidur pulas dan terbangun di bulan ke tiga. Tapi nyatanya kesadaranku masih sebulat purnama, menyimak perbincangan rindu dan doa dengan seksama.
Ini adalah surat pertama untukmu, Februari. Aku menulisnya diantara samar teriakan anak-anak hujan yang berlarian diluar. Semoga sisa musim penghujan tak melulu membuat keceriaanmu membiru, ya. Lekas pulihkan rindu yang nyeri. Berjanjilah tak akan ada air mata yang rekah di bulan ini dan mari ramaikan hati dengan merdu, bersiaplah dengan tatanan hati yang benar-benar baru mulai hari ini. Lihatlah, mimpi-mimpiku sudah merajuk ingin ditemui.
Berjanjilah akan seminau seperti percikan indah mentari di tubuh bahtera yang lembut ombaknya.
Berjanjilah untuk seceria matahari di musim panas.
Berjanjilah untuk seceria rekah tulip di negeri Belanda atau sakura di negerinya saat musim semi tiba.
Bulan merah jambu, ketahuilah, di dadaku, ada hati yang telah karang. Ada rindu yang terlanjur tumbang dan ku biarkan separuh doa berkejaran dengan layang-layang. Simpanlah surat ini baik-baik. Kelak, aku akan menemanimu membacanya berulang-ulang.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar