Sabtu, 08 Februari 2014

Surat Dalam Kantung Mata

Banyak bulan yang kulumat dalam jejak kaki. Banyak lumpur yang kucoreng di muka sendiri. Bagaimana kabarmu, wahai perempuan yang digerus usia?

Menghiasi wajahmu dengan jemariku, membuatku lumpuh oleh ingatanku sendiri. Bagaimana waktu menjelma menjadi kerutan-kerutan di wajah itu *kerutan yang tak lebih banyak dari doa-doa yang kau gelar diatas sejadah tuamu*, bagaimana sungai-sungai pernah tercipta dari kedua mata itu, sebab kepalaku lebih keras dari suaramu. Gadis kecilmu tak perlu lagi pulang ke pelukan siapapun, selain milikmu.

Sesekali biarkan aku memelukmu. Mungkin pada tawa yang lahir di tengah ruang atau ketika amarah menjadi kurcaci-kurcaci nakal yang mencacah isi kepala. Pada sinar matamu yang redup, atau bibirmu yang terkatup aku tak perlu menjadi siapa-siapa selain aku. Kau, mencintaiku utuh.

Surat ini takan mampu kau temukan di laci atau saku celanaku, ku simpan rapat ketika lidah melupakan fungsinya mengapa seharusnya ada, ketika kertas dan pena hanya jadi budak nilai tukar rupiah, ketika kata-kata hanya letupan bara yang menyesal namun tak sanggup berbuat apa-apa.

Biarkan pada surat yang kusimpan dalam kantung mataku ini, menjadi celah bagi sayap yang kuhempas terlalu tinggi untuk memelukmu, untuk mengucap syukur, mengapa menjadi milikmu adalah anugrah yang berlebih dari penciptaku.

Mungkin kelak, surat ini bisa kau baca. Ketika lenganku berbicara, ketika detakku berdansa doa-doa atau ketika air bah didadaku menemukan senyum banggamu di kedua mata.

Di detak yang tak pernah kita tau kapan akan berhenti, biarkan kakiku memilih. Percayalah tak akan ada lagi musim yang ku biarkan beku dalam tangisan ngilu. Mungkin ini yang keseribu, ketika inginku lebih getir dari senggama sang petir yang menggebu.

Tapi percayalah, Bunda
Aku mencintaimu..

Tidak ada komentar:

Posting Komentar