Ini tentang laki-laki saya.
Pernah dalam beberapa kali kesempatan ia terlihat begitu manja,seperti seorang anak kecil yang tak pernah beranjak dari ayahnya saat bermain. Namun, di lain waktu, ia menjadi seorang laki-laki tangguh yang mandiri dalam memperjuangkan haknya untuk berbahagia. Ia indah dengan caranya.
Ini tentang ia.
Lelaki yang memiliki keteguhan di dadanya. Rumah yang saya tuju untuk pulang dan merebah lelah. Tempat memakamkan rindu-rindu yang sudah lebam dan membiru dalam pelukannya. Banyak orang bilang bahwa untuk membuat seseorang jatuh cinta adalah dengan membuatnya tertawa, tetapi saya justru jatuh cinta saat melihat dia tertawa. Ada sesuatu entah bernama apa yang membuat saya selalu betah menatapnya berkali-kali dan berlama-lama.
Ia adalah seseorang yang cerewet dalam urusan mengomeli kecerobohan dan keteledoran saya terhadap hal-hal kecil yang remeh. Ia adalah sebuah perwujudan dari kata teliti. Namun, ia menjadi begitu lembut saat mengusap kepala saya saat segala hal terasa tak waras dan memusingkan. Dekapnya adalah satu-satunya hal paling masuk akal yang saya punya.
Laki-laki ini adalah seorang sabar yang menyabarkan, seorang yang tabah dan menabahkan. Ia selalu mampu memaafkan dan memberi kesempatan, meski saya tau banyak kesalahan terlewat batas yang saya lakukan, entah saya sengaja maupun tidak. Ia selalu memberi saya waktu untuk memperbaiki diri, sebab ia tau bahwa saya ingin selalu menjadi seseorang yang pantas untuk memperjuangkannya. Ia tak pernah mengungkit kesalahan sebab baginya memaafkan adalah melupakan.
Ini masih tentang ia.
Laki-laki cerdas yang memiliki segala. Bagi saya, isi kepalanya adalah kegembiraan pasar malam. Padanya saya tersesat dengan sukarela. Menjadi seorang anak kecil yang riang bermain hingga tak terfikir pulang.
Ini masih tentang laki-laki saya.
Seseorang yang selalu mampu menerjemaahkan isi kepala saya yang penuh dengan dongeng-dongeng mustahil dan ide-ide gila. Ia tak pernah lesu saat mendengarkan saya bercerita. Ia selalu bisa membuat saya merasa menjadi perempuan hebat saat saya menjadi diri sendiri sebagaimana adanya. Ia tak pernah mengeluh meski segala hal yang saya bicarakan sebenarnya membosankan dan mengherankan. Ia tau bagaimana cara memuliakan perempuannya.
Ini tentang kau, Resa Mahecsya Lukman.
Seseorang yang selalu bisa membuat saya jatuh cinta.
Terimakasih untuk 350 hari penuh cerita. Mari menghitung lebih banyak lagi
untuk waktu-waktu mendatang.
Tetaplah bergenggaman dan jangan pernah merenggang.
Bandung, 10 Mei 2015.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar