Kita ini seperti sepasang, tanpa pernah benar-benar berduaan.
Jika sudah berbincang, it was more than fun. Kamu bisa menceritakan apa saja dan aku bisa mendengarnya kapan saja dan berapapun lamanya. Kata demi kata. Bagiku itu seperti menonton sebuah film epic yang mampu membuat kita terpaku dan menontonnya berkali-kali.
And then. there's voices in my head, says, "Let's talk, and i will happy till the sky get dark"
Kalau kamu sudah menceritakan sesuatu yang lucu, aku akan terbahak. Don't you know that it's funny how you can always make me laugh (or should i say happy?). Nobody can make me laugh like you did. Rasanya lebih hangat di dalam sana, di dada. Karena aku juga melihat kamu tertawa.
Itu menyenangkan. Kita melakukan hal-hal sederhana. Berbahagia didalamnya. Tidak muluk-muluk. Cukup seperti ini saja, berbincang berdua, dengan kebodohan-kebodohan cerita di dalamnya. Tertawa bersama, melakukan hal bodoh bersama. Karena bahagiaku memang selalu sesederhana, 'apapun, selalu bersamamu, aku bisa bahagia'
Denganmu, aku tidak harus berpura-pura. Tidak harus terlihat pintar, bijaksana, atau dewasa. Cukup menjadi aku saja. Katamu, aku sudah menyenangkan. Tidak perlu menjadi yang bukan aku sebenarnya. Selama itu adalah yang terbaik dari diriku sendiri, berarti itulah aku yang sebenarnya. Kalimat yang tidak pernah bisa aku lupakan dan tidak pernah kamu tau, dari sana aku mulai bisa mencari tau siapa aku sebenarnya. Disitulah aku mulai jatuh cinta (apa kamu mengetahuinya?)
Dan tiba-tiba, jatuh cinta tidak lagi sebuah 'old crap' atau 'alay'. Something that i used to believe in. It's real. I fall in love when you smile. I fall in love when you move your eyebrow up and down. I fall in love with whatever you do.
I fall in love with you. Damn! I just know that 'falling in love' is real. Not a myth, not a bullshit thing.
Sampai akhirnya, kalau ada yang bertanya, bahagia itu apa? Aku ingin menjawab, "kamu". Satu kata itu saja. Satu saja. Itu sudah menggambarkan segalanya. Tapi tidak ada yang pernah menanyakan itu, dan aku khawatir tidak akan berani menjawab seperti itu. Jadi, aku aman.
Tentang cinta diam-diam itu, mereka sering mengatakan, 'Katakan Saja!'. Ya, mudah mengatakannya, sulit mempraktekannya. Karena, setiap kali aku mau mengatakannya, lalu melihat kamu tersenyum saja, nyaliku rontok begitu saja. Bertanya-tanya resikonya. Kalau ternyata kamu tidak memiliki perasaan yang sama, apa kita masih bisa seperti ini, sedekat ini?. Karena kalau tidak, lebih baik aku tidak mengatakannya. Biar seperti ini saja.
'Cause I love you without any 'terms and conditions'. Without you should love me back or we have to be together eventually. It just love and love its all. It just me, that can take anything as long as you happy'
It's stupid, but i can take it.
But, in the and, i know the risk. Kita akan selalu menyesali tidak hanya apa yang terlanjur kita lakukan, tetapi apa juga yang tidak pernah berani kita katakan atau lakukan. Dan, ya, aku menyesalinya. Menyesali kenapa aku dulu tidak pernah mengatakannya.
Karena waktu berlalu, begitu juga kesempatanku. Terlambat mengetahui kalau kamu pun dulu punya rasa yang sama sepertiku. Sepertinya benar kata orang, hanya karena dua orang pada akhirnya tidak bersama, belum tentu keduanya tidak pernah saling jatuh cinta.
Masih ingat yang aku katakan kalau kita ini seperti sepasang? Ya, benar, ada kata 'seperti' . Hanya seperti. Tidak pernah benar-benar sepasang, atau benar-benar berduaan berbagi gombalan.
Cinta di udara, katanya. Love is in the air. Mungkin karena itu cinta tetap di udara, tidak benar-benar bersama kita. Karena pada kenyatannya, kita tidak pernah benar-benar 'sepasang'. Hanya diberi kesempatan untuk memandang bintang yang sama dari tempat yang berbeda. Bersyukur, bahwa sejauh apapun jaraknya, kita bisa menikmati hal yang sama. Diberi kesempatan untuk merasakan cinta dan membatin, alangkah menyenangkannya kalau kita bersama. Diberi kesempatan untuk belajar melepaskan pada saat justru sedang merasa nyaman.
Mungkin Tuhan membuatnya demikian, untuk mengajarkan kita tentang kebersamaan (dan mungkin keberanian?) dan kenangan (mungkin termasuk melepaskan?). Karena pada akhirnya, love is love and life is life. You can not guess what will happen next. You just have to just accept it, and go with it. Kamu bersama seseorang yang memang untukmu, dan aku pada akhirnya juga bersama seseorang yang memang untukku. Berbahagia sendiri-sendiri dengan orang lain.
Tetap bisa bahagia, meski tidak bersama.
Kadang-kadang, aku ingin pada suatu hari kita akan bertemu lagi. Kamu membaca buku sambil mengayun-ngayunkan kakimu,mungkin sesekali minum teh dingin di mejamu, dan aku menikmati musik dari hpku. Bahkan tanpa kita berbicara, aku bisa bahagia hanya berada disana. Bersamamu, berdua. Kita, melakuka hal-hal sederhana dan berbahagia di dalamnya.
Well, in the end, we have to accept the reality. Tentang kita. Tentang kenyamanan yang pernah tercipta, meski harus berakhir juga pada akhirnya.
Sampai bertemu nanti. Kalau Tuhan mempertemukan kita lagi. But even its just a memory, would you say 'Hi' when you see mee?
By the way, dulu pada masa kita, aku pernah menjaga rinduku dengan kadar yang selalu sama setiap harinya, apakah kamu juga?

Tidak ada komentar:
Posting Komentar